Sabtu, 07 Mei 2011

KETIKA TIBA WAKTUNYA

Entah kenapa, membuat tulisan kali ini terasa sangat amat susah. Biasanya saya begitu gembira jika mendapat tugas menulis di luar pekerjaan rutin. Karena saya lebih bebas mengungkapkan segala isi kepala tanpa harus mematuhi rambu-rambu tertentu. Tiga bulan telah berlalu dari seharusnya tulisan ini dikumpulkan. Nyatanya, belum juga selesai. Padahal sejak saat itu, tak henti saya berpikir, apa yang akan saya bagikan ke teman-teman nanti. Tapi kok ide itu tidak kunjung datang. Rasanya memang tidak ada lagi yang perlu diceritakan.

Tahun 2009 saya pernah menulis tentang kilas balik hidup saya di tahun itu. Ketika itu semuanya mengalir dengan lancar, karena memang sudah tahu betul apa yang akan diungkapkan. Semuanya sudah digodok di kepala selama berhari-hari. Tapi kali ini karena tugas memang harus dikumpul dan saya ingin segera mengganti kacamata baru (karena minusnya bertambah lagi) – tahu kan maksudnya apa…heheee…jadi tulisan ini memang harus segera selesai…

Tidak ada peristiwa istimewa sepanjang tahun 2010 silam. Tapi ada satu pengalaman yang membuat saya sering bertanya, kok bisa ya...Untuk pertama kalinya, sejak saya bergabung dengan Diagonal, saya mendapat tugas keluar pulau Jawa. Bayangkan…jaman jadi wartawan saja, perjalanan saya paling jauh cuma ke Semarang, memenuhi undangan Departemen Perhubungan meluncurkan kereta Argo Anggrek. Selebihnya, banyak berkutat di Jakarta, meliput demonstrasi dan mengejar pernyataan-pernyataan pejabat yang kebanyakan asal ngomong itu.

Maka, ketika nama saya masuk ke dalam daftar awak yang ikut syuting di Bali, senangnya bukan kepalang. Jauh-jauh hari sudah ‘pengumuman’ kepada para kerucits, bahwa saya akan meninggalkan mereka beberapa hari. Sukur mereka tidak keberatan, meskipun selama hidup mereka belum pernah ditinggal berhari-hari oleh ibunya.
Kejutan berikutnya, di hari tugas pertama saya menginjakkan kaki di Denpasar, kopor saya melayang entah kemana. Tunggu punya tunggu di tempat pengambilan bagasi di Ngurah Rai, si hijau toska warna kopor saya itu, masih juga tidak kelihatan wujudnya. Ujung-ujungnya, saya harus melapor ke bagian kehilangan barang dan terpaksa meninggalkan bandara hanya dengan satu tas kecil di tangan berisi dompet dan telepon. Hati saya ciut membayangkan nanti sore ganti baju pakai apa, karena semua pakaian ada di dalamnya. Untunglah sekitar pukul enam sore, yang saya nanti-nantikan tiba dengan selamat di hotel. Konon benda itu terbawa ke pesawat jurusan Balikpapan. Apapun itu, saya sangat bersukur, karena akhirnya sang kopor kembali ke pelukan saya.

Awal tahun ini, saya kembali mendapat tugas ke luar pulau, kali ini ke negeri tetangga. Bahkan, dalam bulan Januari-Februari, saya tiga kali bolak-balik ke negeri itu. Ah, gayanya sudah seperti perempuan karir saja. Pertanyaan saya masih tetap sama, kok bisa ya…

Hampir delapan tahun saya hanya berdiam di rumah mengurus anak dan rumah tangga. Saya sering merenungi nasib ijasah sarjana saya, ternyata tidak ada gunanya. Kadang menyesali, kenapa dulu orangtua menyekolahkan saya sampai tingkat tertinggi, kalau akhirnya mereka justru melarang saya bekerja. Hati saya sering berontak, badan sampai kurus kering menunggu jawaban, “Mengapa aku beginiii…” mengutip syair lagu band Naif..

Namun dibalik itu semua, saya masih punya keyakinan bahwa Tuhan punya rencana dalam hidup saya. Keyakinan saya ternyata benar, kuncinya memang harus sabar. Kesabaran saya menunggu anak-anak besar dan bisa mandiri ternyata berbuah hasil. Keinginan orangtua agar saya mengurus anak dulu ternyata ada benarnya. Saat pekerjaan itu datang, saya tidak kuatir meninggalkan mereka di rumah; karena dua kerucit kecil itu sudah tahu apa-apa saja yang mereka harus lakukan saat ibunya tidak ada bersama mereka.

Sungguh saya bersukur apa yang sudah saya miliki saat ini. Semuanya diluar bayangan. Sebelumnya saya adalah tipe orang yang tidak berani bermimpi, hanya karena saya takut kecewa. Tapi bertemu dengan teman-teman di Diagonal, terutama Teh Inka yang begitu menginspirasi saya, kini saya tidak takut lagi bermimpi. Berapapun umur kita, apapun kemampuan kita, jikalau diiringi dengan kesabaran dan niat baik, Tuhan pasti memberikan jalan dengan caranya yang unik dan tidak terduga. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar