Tidak ada lingkungan budaya yang membatasi definisi sosial gender atas perbedaan biologis antarjenis kelamin. Namun di setiap anggota masyarakat di berbagai budaya, memiliki fungsi universal, seperti mengasuh anak, mencari makan/nafkah, mengambil keputusan dan mengisi peran sebagai pemimpin. Akibatnya terdapat peran-peran sosial yang kemudian dikaitkan pada gender tertentu, (Saparinah Sadli).
Serafina tidak sakit, hanya tidak mau minum. Bibirnya kering, kulit di bawah mata kirinya terkelupas. Kuatir telah terjadi sesuatu dalam tubuhnya, saya membawanya ke rumah sakit langganan di Salemba, St. Carolus.
Seperti biasa, dokter Utami Roesli yang merawat Serafina sejak lahir, selalu memasukkan beberapa pasien sekaligus ke dalam ruangannya. Tujuannya agar sesama pasien bisa saling berbagi pengalaman. Ketika kami masuk ke dalam tempat praktek dokter, di situ sudah ada satu pasangan muda dengan bayinya yang baru berumur seminggu dan ibu mertua dari ibu si bayi.
Bayi terus menangis. Si ibu hanya duduk diam di hadapan dokter, begitu juga ayahnya. Ibu mertua sibuk menenangkan si bayi. Saya bertanya dalam hati, kenapa bukan ibu atau ayah si bayi yang menggendong anaknya. Bukankah sentuhan seorang ayah adalah obat paling ampuh dalam menenangkan si kecil yang gelisah? Usut punya usut, ternyata Ibu si lelakilah (Ibu mertua dari ibu si bayi) yang tidak mengijinkan putranya tersebut menggendong anaknya sendiri. Menantu perempuannya pun tidak ia perkenankan menggendong karena ia tidak yakin ibu si bayi bisa menenangkan anaknya.
Di mata saya, pemandangan itu sungguh ironis. Bagaimana bisa sepasang orangtua tidak diijinkan untuk memegang anaknya sendiri. Saya teringat peristiwa sembilan tahun lalu. Waktu itu, saya menghadiri sebuah acara yang diadakan oleh keluarga besar pasangan saya. Karena kedua anak saya masih kecil (anak pertama belum genap dua tahun, dan yang kedua berumur kira-kira enam bulan), tentu tidak mungkin bila saya menggendong keduanya. Karena itulah saya dan pasangan berbagi tugas. Masing-masing menggendong satu anak. Satu hal yang sangat logis menurut saya.
Tapi dengarlah apa komentar orang-orang tua melihat pasangan saya menggendong anak kami, “Berikan anakmu ke ibunya, masa kau yang gendong…,” begitu kata mereka. Spontan saya menjawab, tanpa bermaksud tidak sopan, “Kami membuat anak ini bersama-sama, maka sudah kewajiban kami pula untuk mengasuh dan membesarkannya bersama-sama.”
Tidak ada lingkungan budaya yang membatasi definisi sosial gender atas perbedaan biologis antarjenis kelamin. Namun, di setiap anggota masyarakat di berbagai budaya memiliki fungsi universal, seperti mengasuh anak, mencari makan/nafkah, mengambil keputusan, dan mengisi peran sebagai pemimpin. Akibatnya terdapat peran-peran sosial yang kemudian dikaitkan pada gender tertentu.
Meskipun hal ini tidak berarti ada fungsi tertentu yang harus dilakukan oleh perempuan atau laki-laki, kalau suatu peran sudah dikaitkan dengan salah satu gender, peran tersebut diberikan makna simbolis tertentu. Sebagai contoh, jika mengasuh anak dianggap perlu dilakukan oleh perempuan, mengasuh anak juga dapat mengembangkan keyakinan masyarakat bahwa menjadi ibu dan pengasuh anak-anak adalah ukuran positif keperempuanannya (Berbeda tetapi Setara, Saparinah Sadli).
Kenyataannya, sebagian besar pola pikir masyarakat memang masih seperti itu. Tapi tahukah anda bahwa peran seorang ayah dalam urusan mengasuh anak mempunyai efek luar biasa terhadap pertumbuhan dan perkembangan jiwa si anak?
Saya bukan seorang ahli, tulisan ini pun dibuat hanya berdasarkan pengalaman pribadi, hasil kunjungan rutin dengan dokter Utami Roesli, setiap kali saya membawa anak-anak ke Carolus dan beberapa bacaan referensi. Apa yang saya ketahui itu sudah saya aplikasikan kedalam kehidupan saya sehari-hari. Saya puas dengan hasilnya.
Jadi apa yang bisa dilakukan seorang ayah dalam urusan pengasuhan anak? Menurut dokter Utami Roesli, belaian tangan ayah di punggung si kecil ketika ia sakit, bisa membantu mempercepat proses kesembuhannya. Saya sudah melakukan itu. Ketika ada anak yang sakit, pasangan saya selalu menyempatkan diri untuk bersamanya. Menimangnya, menggantikan bajunya, membacakan buku, juga menyanyikan lagu-lagu kesukaannya. Bila banyak anak rewel ketika sakit, tidak demikian dengan anak-anak saya. Sentuhan dan usapan sayang dari si ayah, saya yakini mempercepat proses penyembuhannya. Anak kuat menjalani masa-masa sulitnya.
Apabila suatu ketika anak gelisah atau tidak bisa tidur, dekaplah anak di dada ayah. Detakan jantung sang ayah menjadi alunan melodi yang indah di telinga anak, membuatnya merasa nyaman dan dilindungi.
Bagi ayah bekerja, faktor waktu memang kadang menjadi ganjalan untuk bisa melakukan semua itu. Tapi itu bukan halangan, bila ada waktu luang, seperti hari libur, bermainlah ayah bersama anak-anak. Bantulah anak mengerjakan PRnya. Di satu rubrik psikologi, saya pernah membaca bahwa anak lebih cepat mengerti pelajarannya ketika penjelasannya dilakukan oleh ayah. Komunikasi intens dengan ayah ternyata ikut membantu merangsang perkembangan otak anak untuk lebih optimal.
Sisakan sedikit waktu untuk mendengarkan keluh kesah anak, biarkan dia bercerita tanpa menghakiminya apabila ia melakukan sesuatu hal yang salah. Bernyanyilah bersama anak. Suara ayah yang tegas membuat anak selalu merasa nyaman di dekatnya. Kualitas pertemuan tentu lebih penting daripada kuantitas. Akhirnya hubungan antar ayah-anak, ibu-ayah akan terjalin baik. Ibu yang sudah begitu repot dengan urusan domestik rumahtangga, tentu merasa terbantu dengan peran serta ayah dalam pengasuhan anak. Keuntungan bagi si anak sendiri adalah, kedekatannya dengan sang ayah menumbuhkan rasa percaya diri, sehingga memudahkan anak dalam bersosialisasi di lingkungan rumah maupun sekolah. Membuatnya menjadi anak yang tahan banting terhadap berbagai masalah yang dihadapinya, sekarang dan di masa datang.
Sosialisasi yang mengarah pada perkembangan manusia seutuhnya merupakan kemungkinan pengembangan sifat-sifat yang secara potensial memang tersedia dalam diri setiap manusia. Maka, jelas bahwa perbedaan antarjenis bukan untuk menentukan superioritas-inferior antara perempuan dan laki-laki, tetapi sebagai pengembangan ciri khas yang diperlukan untuk tujuan bersama, yaitu mengembangkan potensi diri sebagai manusia (Carl G. Jung).
**Tulisan ini bukan bermaksud menggurui, sekedar berbagi pengalaman; semoga ada manfaatnya bagi teman-teman
Pondokgede, Minggu 9 Mei 2010
Arsip Blog
-
▼
2010
(22)
-
▼
Mei
(22)
- MENJADI SEORANG AYAH BECOMING A FATHER
- IBU DAN WARTAWAN
- NAMAKU ADALAH...
- IBU DAN PERAWAN TUA
- KAKEK BAGIR BUKAN BAPAK BAGIR
- AKU CINTA INDONESIA
- HOW GOD CREATED A MILLION FACES
- 360 ANDERSON COOPER
- SAVED BY A SPIDER
- FORBIDDEN LOVE
- SEBOTOL PARFUM
- ROCK LIKE NEVER BEFORE?
- DOC MART & MINI SKIRT
- OH MY BUTT!
- KRISIS EKONOMI TIDAK MAMPIR KE SINI
- ORGEL
- SUATU KETIKA DI LOKASI SHOOTING
- REUNI VERSI SAYA
- KETIKA CINTA DATANG LAGI
- JURNALISTIK KELOMPOK EMPAT
- KERUBIN EKATERINA SIMANJUNTAK
- THE PRINCE AND THE PAUPER
-
▼
Mei
(22)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Bagus sekali, dari dulu saya suka dengan tulisan Ibu ini.
BalasHapusSalam dari mantan D&R