Orgel itu teronggok di teras sebuah rumah. Rumah tante Sara, anak ompung nomor dua, dari sepuluh anak-anaknya. Sebelum dibawa ke rumah tante Sara, orgel itu masih diletakkan di dalam rumah. Di rumah tulang Didi, anak bungsu ompung. Apa hendak dikata, tulang Didi telah pergi meninggalkan kami semua di usianya yang baru limapuluh. Ia sakit keras, sudah bertahun-tahun. Seorang perokok berat. Kepergiannya membuat kedua anaknya yang baru berangkat remaja menjadi yatim piatu. Nangtulang Didi, istrinya sudah lebih dulu menghadap Tuhan ketika anaknya yang paling kecil baru berusia tiga tahun. Sama seperti tulang, ia sakit keras sampai ajal menjemputnya.
Dengan sukarela, tante Sara yang tidak menikah bersedia menampung kedua anak yatim piatu itu. Maka tak berapa lama setelah kepergian tulang Didi, kedua anak-anaknya pindah ke rumah tante Sara bersama seluruh barang-barang mereka. Sebab tidak mungkin lagi kedua anak itu membayar uang sewa rumah. Rumah tante Sara yang tidak seberapa besar terpaksa harus menampung perabotan dari satu rumah lagi. Bisa dibayangkan betapa penuhnya rumah itu. Begitulah akhirnya, kenapa orgel ompung berada di teras. Karena memang sudah tidak ada lagi tempat untuknya di dalam rumah.
Ketika saya masih kecil, setiap malam pergantian tahun, seluruh anak-anak ompung, cucu dan menantunya selalu berkumpul di rumahnya. Waktu itu ompung tinggal di jalan Susilo Raya, Grogol. Tepat jam duabelas, kami semua memulai kebaktian dengan doa ucapan syukur karena sudah melewati tahun yang lalu dan akan memasuki tahun yang baru. Setelah berdoa, kami bernyanyi, biasanya diambil dari buku Ende; buku lagu berbahasa Batak. Ompung Doli (ompung laki-laki) tidak bisa bermain orgel lagi. Ia hanya duduk sambil kadang-kadang tersenyum pada kami. Ia sudah tidak bisa bicara dengan lancar dan jelas. Tubuhnya pun sudah setengah lumpuh. Ompung kena stroke. Maka tulang Horas, anak ompung yang nomor sembilan yang mengiringi kami bernyanyi dengan orgel itu. Demikianlah semua itu berjalan hampir setiap malam pergantian tahun.
Cerita ibu saya, ompung Doli semasa sehat senang bermain orgel. Biasanya tiap hari Minggu ia mengiringi jemaat dengan orgel pipa di gereja Anglikan, Menteng. Bila di rumah, dialah yang selalu mengiringi keluarga bernyanyi. Orgel itu dulu diperoleh ompung dari seorang peranakan Cina. Dibeli seharga 25 ribu rupiah, pada sekitar tahun 60an. Tidak jelas buatan mana. Alat musik itu terbuat dari kayu, berwarna kuning muda. Kalau tidak salah terdiri dari lima oktaf atau lebih. Lapisan tutsnya terbuat dari gading. Di atas tuts terdapat tombol-tombol kayu manual untuk mengatur keras lembutnya suara. Agar bisa berbunyi, terdapat dua buah semacam pedal yang harus diinjak seperti orang mengayuh sepeda air. Nampaknya pedal itulah yang menghasilkan energi sehingga orgel bisa berbunyi.
Semasa kecil, saya selalu penasaran untuk bisa mencoba orgel itu. Tetapi kaki saya yang masih pendek tidak mampu menggapai pedal orgel, andaikan dipaksakan untuk sampai, saya tidak kuat mengayuhnya karena terlalu berat. Kalau sedang beruntung, saya mampu membunyikannya sambil memainkan lagu Twinkle Twinkle Little Star. Satu-satunya lagu yang saya bisa.
Rumah tante Sara rawan banjir. Sudah beberapa kali ia kebanjiran. Tidak tanggung-tanggung, air bisa sampai setinggi rumah bisa sungai di dekatnya meluap. Lelah kebanjiran terus, tante memutuskan untuk pindah dari situ. Karena keterbatasan dana, ia hanya bisa mendapatkan rumah yang lebih kecil dari sebelumnya. Artinya, beberapa perabotan tidak bisa ikut dibawa ke rumah baru. Barang yang penting-penting saja. Orgel ompung tidak termasuk yang dibawa. Selain tidak ada tempat, orgel itu pun sudah lama rusak. Tidak ada lagi nada yang keluar dari tutsnya. Kedua pedalnya pun sudah ‘oglek’. Di negeri ini ternyata tidak ada yang mampu mereparasinya. Karena sudah sangat kuno, spare partnya juga sudah tidak ada yang jual. Kesimpulannya, bila tidak ada yang mau, orgel tua itu akan dimutilasi di tangan pemulung.
Andai ompung bisa bicara pada saya, apakah yang akan dikatakannya pada saya bila melihat orgel kesayangannya akan dibuang? Setiap kali saya menatapnya, hati seakan miris. Teringat saat-saat indah, berkumpul di rumah ompung sambil bernyanyi diiringi orgel itu.
Sehari sebelum kepindahan tante Sara ke rumah baru, saya berkunjung ke rumahnya untuk sekedar membantu beres-beres. Sekali lagi saya melihat orgel ompung, terhimpit diantara tumpukan barang-barang. Debu menutupi seluruh kayunya. Warnanya semakin terlihat kusam. Seolah-olah saya mendengar ompung berbisik di telinga saya, “Bila kau mau, orgel itu bisa kau pakai sebagai rak bukumu. Bukankah lemari bukumu yang lama itu sudah sangat penuh?”
Ah ompung…benarkah itu? Segera saya amati lebih jauh benda itu. Iya juga ya…Waktu masih berfungsi, bagian atas orgel itu biasa ditaruh berbagai macam pajangan. Sekarang bila saya mau, tempat pajangan itu bisa saya isi dengan buku-buku saya yang memang sudah tidak ada tempat. Seluruh tutsnya bisa dibuang, dan bekas tempat tutsnya itu ditutup dengan kayu lagi, sehingga bisa juga dipakai untuk meletakkan buku.
Akhirnya, tanpa perlu debat dengan anak cucu ompung yang lain, orgel tua itu jatuh ke tangan saya. Benda itu langsung saya bawa ke tukang kayu. Saya minta dibuatkan seperti yang saya sudah bayangkan tadi. Saya harus menunggu sebulan penuh orgel ompung ‘dioperasi’. Hasilnya sungguh membuat saya terharu bercampur gembira. Orgel tua ompung kini terlihat sangat cantik dan antik. Warna kuningnya sudah berubah, diganti dengan warna kayu yang lebih gelap sehingga ukiran daun sulurnya kelihatan sangat indah. Semua tutsnya sudah tidak ada, diganti dengan kayu tebal sebagai penutupnya. Pedalnya pun sudah dibuang. Jadinya memang mirip seperti meja tulis kuno. Sungguh tidak bosan-bosan saya memandanginya. Warisan terindah yang pernah saya terima. Pun tidak akan saya lepas kalau ada yang mau membayarnya dengan harga selangit.
Saat ini orgel sudah berada di rumah saya. Saya letakkan di ruang tamu, supaya semua orang yang datang bisa langsung melihatnya. Buku-buku saya yang selama ini berceceran, saya susun semua diatasnya. Setelah hampir tigapuluh tahun ompung tiada, saya seakan merasakan kembali sedang berada di dekatnya. Selain sekali-sekali ia datang di dalam mimpi.
I luv u ompung Doli, hope you’re fine in heaven, miss u much!
*orgel: organ
*ompung doli: kakek; bahasa batak
*tulang: saudara laki-laki ibu; bahasa batak
*nangtulang; istri tulang
Arsip Blog
-
▼
2010
(22)
-
▼
Mei
(22)
- MENJADI SEORANG AYAH BECOMING A FATHER
- IBU DAN WARTAWAN
- NAMAKU ADALAH...
- IBU DAN PERAWAN TUA
- KAKEK BAGIR BUKAN BAPAK BAGIR
- AKU CINTA INDONESIA
- HOW GOD CREATED A MILLION FACES
- 360 ANDERSON COOPER
- SAVED BY A SPIDER
- FORBIDDEN LOVE
- SEBOTOL PARFUM
- ROCK LIKE NEVER BEFORE?
- DOC MART & MINI SKIRT
- OH MY BUTT!
- KRISIS EKONOMI TIDAK MAMPIR KE SINI
- ORGEL
- SUATU KETIKA DI LOKASI SHOOTING
- REUNI VERSI SAYA
- KETIKA CINTA DATANG LAGI
- JURNALISTIK KELOMPOK EMPAT
- KERUBIN EKATERINA SIMANJUNTAK
- THE PRINCE AND THE PAUPER
-
▼
Mei
(22)
Senin, 10 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar