Uneg-uneg saya sebenarnya masih banyak. Soal rokok kemarin hanyalah salah satunya. Kalau mau membahas tentang keluhan saya sebagai warga negara Indonesia, bisa beratus-ratus halaman nantinya. Soal toilet umum yang jorok dan berbau busuk, main serobot dalam antrian, angkutan umum yang doyan berhenti di tengah jalan, pengendara motor yang melaju seenaknya.
Apalagi jika melihat masalah yang lebih prinsip semisal uang pajak yang tidak tahu lari kemana. Tiap sudut kota ada jalan rusak, sekolah ambruk, puskesmas reot, pasar tradisional dibiarkan merana dan seterusnya dan seterusnya. Kemanakah setoran pajak itu bersarang, sedangkan jutaan gembel yang beli teh botol saja juga ikut bayar pajak minuman?
Memang sudah takdir saya lahir sebagai orang Indonesia. Ditilik dari sisi keragaman budayanya, saya bersyukur bisa mengenal negeri ini dari dekat. Tarian Saman yang rumit itu, tidak bosan-bosannya saya menontonnya melalui rekaman dvd. Dengarlah Gondang Batak yang merdu itu. Adat istiadat yang sarat nilai-nilai budaya di tiap daerah. Keindahan alamnya (kalau masih ada yang tersisa, sebelum semua kemurahan Tuhan itu dijadikan tembok-tembok bernama mal). Indonesia memang luar biasa.
Tetapi di luar itu, saya lebih banyak jengkelnya setiap mengalami atau melihat peristiwa-peristiwa yang berada di luar batas nalar saya. Lagi-lagi saya ‘ngedumel’ kenapa juga saya lahir di negeri ‘semrawut’ ini.
Beberapa waktu lalu, seorang teman warga negara Australia, tapi sudah lama bermukim di Singapore, datang ke Jakarta. Ia seorang wartawan sebuah kantor berita besar Inggris.
Bersama beberapa teman, saya menemaninya jalan-jalan ke Kemang. Setelah itu kami makan di sebuah hotel teduh di bilangan jalan Dharmawangsa. David, demikian nama si bule bukan sekali ini saja datang ke Jakarta. Saya lupa menanyakannya. Tapi yang pasti sudah lebih dari tiga kali, belum termasuk bila ia hanya mampir ke Bali.
Iseng-iseng saya tanya ke dia,” Eh, elo kok seneng banget sih maen ke sini?” (tentu saja pertanyaan diajukan dalam bahasa ibunya). Dia cuma mesem-mesem saja sambil terus mengunyah makanannya. “Kalo gue jadi elo, gue nggak bakal mau kesini. Emang elo nggak liat apa nih kota, jorok, acak-acakan, semua serba nggak teratur, gembel bertebaran di mana-mana, rawan copet lagi.”
Si David malah manggut-manggut saja sambil terus mengunyah. Maka saya pun melanjutkan ocehan saya,” Emang di Singapore nggak ada hotel apa, di sana bukannya enak…semua serba teratur, bersih. Di Australia juga bukannya begitu. Kenapa nggak ke sana aja, atau ke negara lain deh asal bukan ke sini?”
Akhirnya, David selesai mengunyah karena makanannya pun telah habis. Ia menuang air ke gelasnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tersenyum. Terus dia bilang gini ke saya,” Gue emang seneng ke sini. Karena di sini beda sama di Singapore atau di Australia.” Saya mengernyitkan dahi, “Ya jelas beda dong mas, kan tadi gue udah ngomong panjang lebar soal perbedaannya,” timpal saya. “Di sini berantakan, di sana teratur.” Lanjut saya lagi.
“Di Singapore itu memang banyak hotel. Dari yang paling mahal sampe yang paling murah. Tapi buat gue itu semuanya nggak enak. Karena hotel-hotel itu kesannya kering dan gersang.” Ujarnya. Saya jadi bingung mendengarnya,” Maksud elo?” tanya saya tidak mengerti. “Elo liat nggak tempat sekarang kita lagi duduk-duduk nih,” katanya.
Saya memerhatikan pemandangan dari tempat saya duduk. Hotel yang saya datangi ini memang enak. Kesan teduh dan nyaman sudah terasa saat menginjakkan kaki di mulut lobi. Pohon-pohon besar dan rindang dibiarkan tumbuh. Harum bunga melati, samar-samar tercium. Suara gending Jawa yang dimainkan langsung oleh penabuhnya, seolah-olah membawa raga ke alam yang sangat jauh dari hiruk pikuk Jakarta. Padahal notabene saya sedang berada di tengah kota.
“Hotel-hotel di Singapore, di Australia atau tempat-tempat lain yang pernah gue datengin, nggak ada yang seperti hotel-hotel di Indonesia. Contohnya ya di sini ini. Gue sekarang nggak ngerasa tuh kalo gue sebenernya lagi berada di tengah kota.
Nah, soal yang elo bilang ‘semrawut’ dan jorok, itulah asiknya. Gue sendiri udah bosen banget ngeliat segala keteraturan dan kebersihan. Di sini enak, kejorokan dan kesemerawutanlah yang membuat kehidupan manusia di sini lebih dinamis, nggak monoton kayak di Singapore. Yang kayak gitu tuh yang bikin gue seneng maen ke sini.”
“Hah…?” Saya melongo mendengarnya. Dasar bule ‘ndablek’. Kini gantian saya yang manggut-manggut. Jadi selama ini, apakah saya saja yang terlalu berlebihan menghadapi berbagai kenyataan di negeri ini? Is it Indonesia true a lovely country?*
Arsip Blog
-
▼
2010
(22)
-
▼
Mei
(22)
- MENJADI SEORANG AYAH BECOMING A FATHER
- IBU DAN WARTAWAN
- NAMAKU ADALAH...
- IBU DAN PERAWAN TUA
- KAKEK BAGIR BUKAN BAPAK BAGIR
- AKU CINTA INDONESIA
- HOW GOD CREATED A MILLION FACES
- 360 ANDERSON COOPER
- SAVED BY A SPIDER
- FORBIDDEN LOVE
- SEBOTOL PARFUM
- ROCK LIKE NEVER BEFORE?
- DOC MART & MINI SKIRT
- OH MY BUTT!
- KRISIS EKONOMI TIDAK MAMPIR KE SINI
- ORGEL
- SUATU KETIKA DI LOKASI SHOOTING
- REUNI VERSI SAYA
- KETIKA CINTA DATANG LAGI
- JURNALISTIK KELOMPOK EMPAT
- KERUBIN EKATERINA SIMANJUNTAK
- THE PRINCE AND THE PAUPER
-
▼
Mei
(22)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar