Tidak ada lingkungan budaya yang membatasi definisi sosial gender atas perbedaan biologis antarjenis kelamin. Namun di setiap anggota masyarakat di berbagai budaya, memiliki fungsi universal, seperti mengasuh anak, mencari makan/nafkah, mengambil keputusan dan mengisi peran sebagai pemimpin. Akibatnya terdapat peran-peran sosial yang kemudian dikaitkan pada gender tertentu, (Saparinah Sadli).
Serafina tidak sakit, hanya tidak mau minum. Bibirnya kering, kulit di bawah mata kirinya terkelupas. Kuatir telah terjadi sesuatu dalam tubuhnya, saya membawanya ke rumah sakit langganan di Salemba, St. Carolus.
Seperti biasa, dokter Utami Roesli yang merawat Serafina sejak lahir, selalu memasukkan beberapa pasien sekaligus ke dalam ruangannya. Tujuannya agar sesama pasien bisa saling berbagi pengalaman. Ketika kami masuk ke dalam tempat praktek dokter, di situ sudah ada satu pasangan muda dengan bayinya yang baru berumur seminggu dan ibu mertua dari ibu si bayi.
Bayi terus menangis. Si ibu hanya duduk diam di hadapan dokter, begitu juga ayahnya. Ibu mertua sibuk menenangkan si bayi. Saya bertanya dalam hati, kenapa bukan ibu atau ayah si bayi yang menggendong anaknya. Bukankah sentuhan seorang ayah adalah obat paling ampuh dalam menenangkan si kecil yang gelisah? Usut punya usut, ternyata Ibu si lelakilah (Ibu mertua dari ibu si bayi) yang tidak mengijinkan putranya tersebut menggendong anaknya sendiri. Menantu perempuannya pun tidak ia perkenankan menggendong karena ia tidak yakin ibu si bayi bisa menenangkan anaknya.
Di mata saya, pemandangan itu sungguh ironis. Bagaimana bisa sepasang orangtua tidak diijinkan untuk memegang anaknya sendiri. Saya teringat peristiwa sembilan tahun lalu. Waktu itu, saya menghadiri sebuah acara yang diadakan oleh keluarga besar pasangan saya. Karena kedua anak saya masih kecil (anak pertama belum genap dua tahun, dan yang kedua berumur kira-kira enam bulan), tentu tidak mungkin bila saya menggendong keduanya. Karena itulah saya dan pasangan berbagi tugas. Masing-masing menggendong satu anak. Satu hal yang sangat logis menurut saya.
Tapi dengarlah apa komentar orang-orang tua melihat pasangan saya menggendong anak kami, “Berikan anakmu ke ibunya, masa kau yang gendong…,” begitu kata mereka. Spontan saya menjawab, tanpa bermaksud tidak sopan, “Kami membuat anak ini bersama-sama, maka sudah kewajiban kami pula untuk mengasuh dan membesarkannya bersama-sama.”
Tidak ada lingkungan budaya yang membatasi definisi sosial gender atas perbedaan biologis antarjenis kelamin. Namun, di setiap anggota masyarakat di berbagai budaya memiliki fungsi universal, seperti mengasuh anak, mencari makan/nafkah, mengambil keputusan, dan mengisi peran sebagai pemimpin. Akibatnya terdapat peran-peran sosial yang kemudian dikaitkan pada gender tertentu.
Meskipun hal ini tidak berarti ada fungsi tertentu yang harus dilakukan oleh perempuan atau laki-laki, kalau suatu peran sudah dikaitkan dengan salah satu gender, peran tersebut diberikan makna simbolis tertentu. Sebagai contoh, jika mengasuh anak dianggap perlu dilakukan oleh perempuan, mengasuh anak juga dapat mengembangkan keyakinan masyarakat bahwa menjadi ibu dan pengasuh anak-anak adalah ukuran positif keperempuanannya (Berbeda tetapi Setara, Saparinah Sadli).
Kenyataannya, sebagian besar pola pikir masyarakat memang masih seperti itu. Tapi tahukah anda bahwa peran seorang ayah dalam urusan mengasuh anak mempunyai efek luar biasa terhadap pertumbuhan dan perkembangan jiwa si anak?
Saya bukan seorang ahli, tulisan ini pun dibuat hanya berdasarkan pengalaman pribadi, hasil kunjungan rutin dengan dokter Utami Roesli, setiap kali saya membawa anak-anak ke Carolus dan beberapa bacaan referensi. Apa yang saya ketahui itu sudah saya aplikasikan kedalam kehidupan saya sehari-hari. Saya puas dengan hasilnya.
Jadi apa yang bisa dilakukan seorang ayah dalam urusan pengasuhan anak? Menurut dokter Utami Roesli, belaian tangan ayah di punggung si kecil ketika ia sakit, bisa membantu mempercepat proses kesembuhannya. Saya sudah melakukan itu. Ketika ada anak yang sakit, pasangan saya selalu menyempatkan diri untuk bersamanya. Menimangnya, menggantikan bajunya, membacakan buku, juga menyanyikan lagu-lagu kesukaannya. Bila banyak anak rewel ketika sakit, tidak demikian dengan anak-anak saya. Sentuhan dan usapan sayang dari si ayah, saya yakini mempercepat proses penyembuhannya. Anak kuat menjalani masa-masa sulitnya.
Apabila suatu ketika anak gelisah atau tidak bisa tidur, dekaplah anak di dada ayah. Detakan jantung sang ayah menjadi alunan melodi yang indah di telinga anak, membuatnya merasa nyaman dan dilindungi.
Bagi ayah bekerja, faktor waktu memang kadang menjadi ganjalan untuk bisa melakukan semua itu. Tapi itu bukan halangan, bila ada waktu luang, seperti hari libur, bermainlah ayah bersama anak-anak. Bantulah anak mengerjakan PRnya. Di satu rubrik psikologi, saya pernah membaca bahwa anak lebih cepat mengerti pelajarannya ketika penjelasannya dilakukan oleh ayah. Komunikasi intens dengan ayah ternyata ikut membantu merangsang perkembangan otak anak untuk lebih optimal.
Sisakan sedikit waktu untuk mendengarkan keluh kesah anak, biarkan dia bercerita tanpa menghakiminya apabila ia melakukan sesuatu hal yang salah. Bernyanyilah bersama anak. Suara ayah yang tegas membuat anak selalu merasa nyaman di dekatnya. Kualitas pertemuan tentu lebih penting daripada kuantitas. Akhirnya hubungan antar ayah-anak, ibu-ayah akan terjalin baik. Ibu yang sudah begitu repot dengan urusan domestik rumahtangga, tentu merasa terbantu dengan peran serta ayah dalam pengasuhan anak. Keuntungan bagi si anak sendiri adalah, kedekatannya dengan sang ayah menumbuhkan rasa percaya diri, sehingga memudahkan anak dalam bersosialisasi di lingkungan rumah maupun sekolah. Membuatnya menjadi anak yang tahan banting terhadap berbagai masalah yang dihadapinya, sekarang dan di masa datang.
Sosialisasi yang mengarah pada perkembangan manusia seutuhnya merupakan kemungkinan pengembangan sifat-sifat yang secara potensial memang tersedia dalam diri setiap manusia. Maka, jelas bahwa perbedaan antarjenis bukan untuk menentukan superioritas-inferior antara perempuan dan laki-laki, tetapi sebagai pengembangan ciri khas yang diperlukan untuk tujuan bersama, yaitu mengembangkan potensi diri sebagai manusia (Carl G. Jung).
**Tulisan ini bukan bermaksud menggurui, sekedar berbagi pengalaman; semoga ada manfaatnya bagi teman-teman
Pondokgede, Minggu 9 Mei 2010
Arsip Blog
-
▼
2010
(22)
-
▼
Mei
(22)
- MENJADI SEORANG AYAH BECOMING A FATHER
- IBU DAN WARTAWAN
- NAMAKU ADALAH...
- IBU DAN PERAWAN TUA
- KAKEK BAGIR BUKAN BAPAK BAGIR
- AKU CINTA INDONESIA
- HOW GOD CREATED A MILLION FACES
- 360 ANDERSON COOPER
- SAVED BY A SPIDER
- FORBIDDEN LOVE
- SEBOTOL PARFUM
- ROCK LIKE NEVER BEFORE?
- DOC MART & MINI SKIRT
- OH MY BUTT!
- KRISIS EKONOMI TIDAK MAMPIR KE SINI
- ORGEL
- SUATU KETIKA DI LOKASI SHOOTING
- REUNI VERSI SAYA
- KETIKA CINTA DATANG LAGI
- JURNALISTIK KELOMPOK EMPAT
- KERUBIN EKATERINA SIMANJUNTAK
- THE PRINCE AND THE PAUPER
-
▼
Mei
(22)
Senin, 10 Mei 2010
IBU DAN WARTAWAN
Dari kecil saya memang ingin jadi wartawan. Untunglah sudah kesampaian. Meskipun belum sempat bertemu tokoh-tokoh dunia, macam Princess Diana atau Nelson Mandela. Pernah juga sih, wawancara singkat Mohammad Ali, ketika ia datang ke Jakarta. Tapi selebihnya, paling banter ketemu pejabat yang asal ngomong atau artis yang kalau diwawancara lebih banyak nggak nyambungnya. Tapi senang juga kalau ada tugas meliput kerusuhan atau demonstrasi mahasiswa, apalagi kalau disuruh juga minta pendapatnya Gus Dur.
Sebetulnya ada lagi cita-cita saya, jadi orang terkenal. Tapi itu bisa sambil jalan ketika saya berprofesi sebagai wartawan. Kalau berita saya sering dimuat dan dibaca orang, tentu saya bisa jadi terkenal seperti Anderson Cooper atau Cindy Adams. Atau kalau di sini, ada pak Budiarto Syambazy.
Namun, itu juga tidak tercapai. Boro-boro jadi wartawan top, baru empat tahun jadi jurnalis, majalahnya sudah keburu kolaps sampai akhirnya mampus. Kehabisan modal plus kalah gertak sama agen yang sudah dibriefing oleh majalah G untuk tidak mengeluarkan majalah saya dari gudang sebelum majalah G tersebut beredar. Untunglah majalah G itu sekarang nasibnya kurang lebih sama dengan majalah saya yang sudah almarhum itu. Hidup segan, mati tak mau. Kena karma, mungkin…
Sekarang saya mau membahas soal puisi yang berjudul ‘Ibu dan Facebook’. Konon, puisi itu sudah beredar ke seantero jagad manusia facebook. Videonya pun sudah masuk ke jaringan u tube. Opini yang berkembang macam-macam. Dari yang memuji kepintaran si anak menganalisa kelakuan ibunya, sampai hujatan bebas terhadap ibu si anak yang dianggap telah menelantarkan putrinya karena tergila-gila pada facebook.
Pendapat terakhir ini sungguh sangat menyebalkan. Sebelumnya sih tidak masalah. Tapi kalau kemudian ada wartawan yang bertanya pada ibunya begini: “Apakah fb membuat waktu ibu dan keluarga berkurang? Jika berkurang, seberapa banyak? Apa yang ibu lakukan untuk ‘menebusnya’? Menebusnya?? Golly geee….!
Biarkan saya merenung sejenak. Si ibu tidak punya kerjaan tetap di luar rumah. Rutinitas yang ia lakukan sehari-hari adalah mengurus anak dan rumah tangga, karena ia tidak mau menggunakan jasa pembantu. Setiap hari jam lima pagi ia sudah bangun. Menyiapkan sarapan dan bekal untuk kedua anaknya di sekolah. Pukul 6.30, anak-anak berangkat ke sekolah. Setelah itu, ia pun belanja sayur mayur ke warung terdekat. Memasaknya sambil menunggu pakaian dicuci di mesin cuci. Ketika semua masakan beres, ibu mulai menjemur pakaian. Kelar menjemur, ia merapikan kamar tidur, menyapu dan mengepel seluruh ruangan rumah. Apabila belum terlalu lelah, ia membersihkan kamar mandi.
Pukul satu siang, anak-anak pulang dari sekolah. Ibu menyiapkan makan siang, dan menemani tidur. Sore hari, selepas mandi, anak-anak didampingi ibu membuat pe er dan menyiapkan buku untuk dibawa keesokan harinya. Malam, jam tujuh, ibu kembali menata meja makan untuk makan malam. Setelah itu, cuci piring. Tepat jam sembilan, anak-anak cuci kaki dan sikat gigi sebelum naik ke tempat tidur. Sebelum tidur, ada ‘sesi’ curhat antara ibu dan anak. Ibu memperbolehkan anak-anaknya bercerita atau menanyakan segala hal. Ia akan menjawab sesuai kemapuannya. Jika ibu tidak tahu jawabannya, ia akan berkata, akan mencari tahu lewat buku atau internet. Pukul sepuluh malam, anak-anak sudah lelap. Ibu sudah letih, tapi ia tidak bisa tidak, untuk menuliskan pikiran-pikiran atau berbagai pendapatnya mengenai segala hal.
Saat itulah, ibu membuka notebooknya. Sekedar menuliskan beberapa kalimat atau menyapa teman-temannya di facebook. Setelah selama satu hari penuh ia hanya berkutat dengan pekerjaan rumah tangga, tanpa bisa berinteraksi dengan orang lain. Kecuali dengan tukang roti, tukang sampah atau tukang sayur.
Anak perempuan kecil, si penulis puisi ‘Ibu dan Facebook’ memang betul-betul terkesima dengan fenomena facebook. Dan itu juga dilihatnya di dalam rumah. Perubahan ibunya dari yang lebih sering memegang buku jadi pada notebooknya adalah pemandangan baru baginya. Karena ia juga telah beberapa kali membaca pembahasan mengenai facebook di berbagai media massa. Imajinasi seorang anak seringkali berkembang luar biasa pesat, kadang diluar jangkauan pemikiran orang dewasa. Dan ketika hal itu terjadi, masyarakat yang terbiasa melihat produk instan seakan tercengang. Tidak menyangka, seorang anak kecil bisa berpikir kritis, daripada hanya sekedar mengikuti arahan director untuk menangis atau tertawa tanpa ia mengerti maksudnya.
Pendapat tidak cerdas pun bertebaran. Penyakit lama masyarakat, tidak perlu mikir lama-lama karena volume otak juga tidak mendukung: cari saja kambing hitam. Kambing hitamnya adalah si ibu. Anak bisa bikin puisi macam begitu karena ibunya sudah ‘parah’, si anak tidak diurus ibunya, bla…blaa…blaaa….Memang paling gampang beropini, tanpa memedulikan proses kreativitas si anak sesungguhnya.
Menengok latar belakang si kecil pembuat puisi tadi, kegiatan ‘mari mengarang’ sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Orangtua membiasakan anak untuk selalu menulis laporan mengenai pengalamannya sepanjang satu hari itu. Sajak yang berjudul ‘Ibu dan Facebook’ sebelum diikut sertakan dalam lomba, pun dianggap orangtuanya biasa saja. Karena sudah puluhan puisi dan cerita yang telah dibuat si kecil. Dari soal ingin punya apartemen, ayah pindah kantor, dan seabrek ide lain yang dituangkan ke dalam tulisan.
Membaca buku, mengarang, diskusi mengenai suatu masalah, sudah biasa di keluarga ini.
Jadi, kalau ada yang bertanya: Bagaimana cara ‘menebus’ waktu yang sudah terpakai untuk ber-facebook-ria, menurut saya sungguh sangat didramatisir. Pertanyaan yang tidak perlu dijawab, saya kira.
Segila-gilanya seorang ibu kecanduan sesuatu (kecuali narkoba), mestinya ia tidak akan sampai mengorbankan waktu kebersamaan bersama anak-anaknya. Bila ia juga tidak terpaksa mencari nafkah sehingga mau tidak mau meninggalkan anak-anaknya di rumah. Apalagi kalau cuma ‘facebook’ yang bisa dilakukan dimana saja di rumah, bahkan ketika menemani mereka tidur.
Selama jadi wartawan, kadang saya juga melemparkan pertanyaan yang membuat dahi narasumber saya berkerut tidak keruan. Bahkan saya juga pernah dimarahi oleh pak mantan menteri Ginanjar Kartasasmita di depan forum karena menanyakan sesuatu yang rupanya menyinggung ‘keamanan’ departemen yang dipimpinnya.
Tapi ketika pertanyaan ‘aneh’ dilemparkan kepada saya, ternyata saya sebal juga. Boleh-boleh saja sih bertanya, tanpa mengabaikan esensi dari pertanyaan. Tapi bagaimana bila dipakai kata yang biasa saja, tidak usah bombastis begitu.
Akhirnya, apa mau dikata, saya hidup di alam ‘demokrasi’. Orang bebas bertanya dan berpendapat apa saja. Tapi, menurut saya, pertanyaan tersebut sudah menghakimi lebih dulu tanpa didukung data dan riset yang melatar belakangi peristiwa yang sesungguhnya terjadi.
Macan saja menyusui anaknya, masa manusia memberikan anaknya susu binatang? Lho...apa hubungannya? *pusing mode on*
Sebetulnya ada lagi cita-cita saya, jadi orang terkenal. Tapi itu bisa sambil jalan ketika saya berprofesi sebagai wartawan. Kalau berita saya sering dimuat dan dibaca orang, tentu saya bisa jadi terkenal seperti Anderson Cooper atau Cindy Adams. Atau kalau di sini, ada pak Budiarto Syambazy.
Namun, itu juga tidak tercapai. Boro-boro jadi wartawan top, baru empat tahun jadi jurnalis, majalahnya sudah keburu kolaps sampai akhirnya mampus. Kehabisan modal plus kalah gertak sama agen yang sudah dibriefing oleh majalah G untuk tidak mengeluarkan majalah saya dari gudang sebelum majalah G tersebut beredar. Untunglah majalah G itu sekarang nasibnya kurang lebih sama dengan majalah saya yang sudah almarhum itu. Hidup segan, mati tak mau. Kena karma, mungkin…
Sekarang saya mau membahas soal puisi yang berjudul ‘Ibu dan Facebook’. Konon, puisi itu sudah beredar ke seantero jagad manusia facebook. Videonya pun sudah masuk ke jaringan u tube. Opini yang berkembang macam-macam. Dari yang memuji kepintaran si anak menganalisa kelakuan ibunya, sampai hujatan bebas terhadap ibu si anak yang dianggap telah menelantarkan putrinya karena tergila-gila pada facebook.
Pendapat terakhir ini sungguh sangat menyebalkan. Sebelumnya sih tidak masalah. Tapi kalau kemudian ada wartawan yang bertanya pada ibunya begini: “Apakah fb membuat waktu ibu dan keluarga berkurang? Jika berkurang, seberapa banyak? Apa yang ibu lakukan untuk ‘menebusnya’? Menebusnya?? Golly geee….!
Biarkan saya merenung sejenak. Si ibu tidak punya kerjaan tetap di luar rumah. Rutinitas yang ia lakukan sehari-hari adalah mengurus anak dan rumah tangga, karena ia tidak mau menggunakan jasa pembantu. Setiap hari jam lima pagi ia sudah bangun. Menyiapkan sarapan dan bekal untuk kedua anaknya di sekolah. Pukul 6.30, anak-anak berangkat ke sekolah. Setelah itu, ia pun belanja sayur mayur ke warung terdekat. Memasaknya sambil menunggu pakaian dicuci di mesin cuci. Ketika semua masakan beres, ibu mulai menjemur pakaian. Kelar menjemur, ia merapikan kamar tidur, menyapu dan mengepel seluruh ruangan rumah. Apabila belum terlalu lelah, ia membersihkan kamar mandi.
Pukul satu siang, anak-anak pulang dari sekolah. Ibu menyiapkan makan siang, dan menemani tidur. Sore hari, selepas mandi, anak-anak didampingi ibu membuat pe er dan menyiapkan buku untuk dibawa keesokan harinya. Malam, jam tujuh, ibu kembali menata meja makan untuk makan malam. Setelah itu, cuci piring. Tepat jam sembilan, anak-anak cuci kaki dan sikat gigi sebelum naik ke tempat tidur. Sebelum tidur, ada ‘sesi’ curhat antara ibu dan anak. Ibu memperbolehkan anak-anaknya bercerita atau menanyakan segala hal. Ia akan menjawab sesuai kemapuannya. Jika ibu tidak tahu jawabannya, ia akan berkata, akan mencari tahu lewat buku atau internet. Pukul sepuluh malam, anak-anak sudah lelap. Ibu sudah letih, tapi ia tidak bisa tidak, untuk menuliskan pikiran-pikiran atau berbagai pendapatnya mengenai segala hal.
Saat itulah, ibu membuka notebooknya. Sekedar menuliskan beberapa kalimat atau menyapa teman-temannya di facebook. Setelah selama satu hari penuh ia hanya berkutat dengan pekerjaan rumah tangga, tanpa bisa berinteraksi dengan orang lain. Kecuali dengan tukang roti, tukang sampah atau tukang sayur.
Anak perempuan kecil, si penulis puisi ‘Ibu dan Facebook’ memang betul-betul terkesima dengan fenomena facebook. Dan itu juga dilihatnya di dalam rumah. Perubahan ibunya dari yang lebih sering memegang buku jadi pada notebooknya adalah pemandangan baru baginya. Karena ia juga telah beberapa kali membaca pembahasan mengenai facebook di berbagai media massa. Imajinasi seorang anak seringkali berkembang luar biasa pesat, kadang diluar jangkauan pemikiran orang dewasa. Dan ketika hal itu terjadi, masyarakat yang terbiasa melihat produk instan seakan tercengang. Tidak menyangka, seorang anak kecil bisa berpikir kritis, daripada hanya sekedar mengikuti arahan director untuk menangis atau tertawa tanpa ia mengerti maksudnya.
Pendapat tidak cerdas pun bertebaran. Penyakit lama masyarakat, tidak perlu mikir lama-lama karena volume otak juga tidak mendukung: cari saja kambing hitam. Kambing hitamnya adalah si ibu. Anak bisa bikin puisi macam begitu karena ibunya sudah ‘parah’, si anak tidak diurus ibunya, bla…blaa…blaaa….Memang paling gampang beropini, tanpa memedulikan proses kreativitas si anak sesungguhnya.
Menengok latar belakang si kecil pembuat puisi tadi, kegiatan ‘mari mengarang’ sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Orangtua membiasakan anak untuk selalu menulis laporan mengenai pengalamannya sepanjang satu hari itu. Sajak yang berjudul ‘Ibu dan Facebook’ sebelum diikut sertakan dalam lomba, pun dianggap orangtuanya biasa saja. Karena sudah puluhan puisi dan cerita yang telah dibuat si kecil. Dari soal ingin punya apartemen, ayah pindah kantor, dan seabrek ide lain yang dituangkan ke dalam tulisan.
Membaca buku, mengarang, diskusi mengenai suatu masalah, sudah biasa di keluarga ini.
Jadi, kalau ada yang bertanya: Bagaimana cara ‘menebus’ waktu yang sudah terpakai untuk ber-facebook-ria, menurut saya sungguh sangat didramatisir. Pertanyaan yang tidak perlu dijawab, saya kira.
Segila-gilanya seorang ibu kecanduan sesuatu (kecuali narkoba), mestinya ia tidak akan sampai mengorbankan waktu kebersamaan bersama anak-anaknya. Bila ia juga tidak terpaksa mencari nafkah sehingga mau tidak mau meninggalkan anak-anaknya di rumah. Apalagi kalau cuma ‘facebook’ yang bisa dilakukan dimana saja di rumah, bahkan ketika menemani mereka tidur.
Selama jadi wartawan, kadang saya juga melemparkan pertanyaan yang membuat dahi narasumber saya berkerut tidak keruan. Bahkan saya juga pernah dimarahi oleh pak mantan menteri Ginanjar Kartasasmita di depan forum karena menanyakan sesuatu yang rupanya menyinggung ‘keamanan’ departemen yang dipimpinnya.
Tapi ketika pertanyaan ‘aneh’ dilemparkan kepada saya, ternyata saya sebal juga. Boleh-boleh saja sih bertanya, tanpa mengabaikan esensi dari pertanyaan. Tapi bagaimana bila dipakai kata yang biasa saja, tidak usah bombastis begitu.
Akhirnya, apa mau dikata, saya hidup di alam ‘demokrasi’. Orang bebas bertanya dan berpendapat apa saja. Tapi, menurut saya, pertanyaan tersebut sudah menghakimi lebih dulu tanpa didukung data dan riset yang melatar belakangi peristiwa yang sesungguhnya terjadi.
Macan saja menyusui anaknya, masa manusia memberikan anaknya susu binatang? Lho...apa hubungannya? *pusing mode on*
NAMAKU ADALAH...
Setelah status saya berubah menjadi ibu dari dua orang putri, memang saya belum pernah menemukan satu perempuan pun yang keberatan dipanggil dengan nama suaminya atau nama anak sulungnya. Mereka malah beranggapan saya terlalu mengada-ada ketika saya mengungkapkan bahwa saya akan merasa lebih nyaman bila mereka memanggil saya dengan nama saya sendiri.
Kedua orangtua saya tentu bukannya tanpa maksud memberikan sebuah nama kepada saya ketika saya lahir di dunia. Dan, seperti orangtua kebanyakan, nama yang diberikan kepada sang anak tentu mempunyai arti khusus di hati mereka. Sebagai contoh nama saya sendiri, Reko Alum. Dalam bahasa Bima, asal ayah saya, Reko berarti selendang. Adapun Alum dalam bahasa Batak, asal ibu saya, berarti baik hati. Maka, di sini sudah jelas terungkap harapan kedua orangtua saya adalah kelak saya akan menjadi manusia yang baik budi pekertinya.
Adalah suatu hal yang absurd buat saya ketika sampai sebuah kenyataan bahwa nama indah dan sarat makna pemberian kedua orangtua saya itu tiba-tiba menjadi hilang dan tidak berarti kala berada dalam sebuah komunitas. Dalam setiap perkumpulan keluarga (bukan dari pihak saya), saya selalu diperkenalkan dengan nama lain yang sama sekali asing bagi saya.
Padahal, menurut saya, akan lebih manusiawi bila nama saya diganti dan diambil dari nama ibu yang melahirkan saya. Jati diri saya seakan terusik dengan penempelan nama baru yang tanpa kompromi itu. Dengan nama baru itu saya dipaksa menjadi orang lain. Dengan nama baru itu pula secara tidak langsung saya diminta untuk menghilangkan sebagian unsur dari identitas di dalam diri saya, mereka ingin saya mengaku berasal dari etnis lain (saya bukan penganut faham rasialisme). Ini adalah penyimpangan realitas yang berat. Dan, saya kira saya tidak akan pernah bisa menerimanya dengan segala konsekuensinya. Saya tidak punya cukup kemampuan untuk membohongi diri saya sendiri.
TANPA bermaksud melebih-lebihkan, bagi saya nama yang melekat dalam diri seseorang mutlak tidak bisa dipisahkan dari persoalan jati diri manusia. Sebab, saya kira dari sebuah namalah proses identifikasi diri seseorang dimulai. Budaya patriarki mempunyai kontribusi besar dalam urusan ganti-mengganti nama ini. Sayangnya, perempuan sendiri seolah pasrah dengan keadaan tersebut, bahkan menganggapnya sebagai hal yang tidak perlu dibahas dengan panjang lebar.
Dalam berbagai kasus, justru perempuan sendiri yang melegitimasi budaya "mengganti nama" ini. Pada acara-acara pertemuan, seperti arisan, PKK, dan sebagainya, para ibulah yang lebih dulu memopulerkan nama suami atau nama anak sulung mereka. Padahal, menurut saya, status perkawinan tidak perlu diumumkan ke seantero jagat dengan cara mengganti atau bahkan menghilangkan nama yang sudah menjadi identitas diri sejak lahir.
Menyingkat nama seorang perempuan yang sudah menikah dan menambahkannya dengan nama pasangannya tentulah terasa tidak adil. Perempuan dipaksa tenggelam dan bersembunyi di balik bayangan pasangannya. Membaca tulisan ini, tidak heran bila tebersit di pikiran mereka: Pusing-pusing amat sih mikirin nama! Bagi saya, persoalannya bukan itu.
Nama bagi seorang anak manusia memiliki arti begitu dalam. Ia bisa menunjukkan dari mana seseorang berasal, siapa yang melahirkannya, tanah kelahirannya. Bukan hanya itu, saya kira dengan nama kita bisa mengetahui siapa manusia pemilik nama itu, watak, segala prestasi yang diraihnya, serta kehidupannya. Menurut saya, nama tidak bisa seenaknya saja diubah atau diganti karena menyangkut aspek kehidupan seseorang.
Namun, pengecualian bisa saja terjadi bila si pemilik nama sudah tidak nyaman dengan namanya sendiri. Sah-sah saja bila ia ingin menggantinya dengan nama lain. Sekarang, coba sejenak kita bayangkan bila seorang Ibu Theresa yang telah begitu terkenal dengan kebaikan hatinya, tiba-tiba diganti namanya oleh sekelompok orang yang merasa berhak melakukannya. Apabila ia masih hidup, tentu akan banyak sekali orang yang kebingungan mencarinya. Lantas, bagaimana pula bila mantan Ibu Presiden menyingkat namanya menjadi M Taufik Kiemas. Orang yang tidak tahu pun akan menyangka bahwa saat itu Presiden republik ini dijabat oleh seorang laki-laki.
JADI, menurut saya, tidak ada alasan apa pun bagi seorang perempuan untuk menyingkat namanya atau mengganti namanya dengan nama pasangannya hanya karena ia telah terikat dengan sebuah lembaga perkawinan. Bagaimanapun, nama yang diberikan orangtua sejak lahir mencerminkan jati diri seorang manusia sebagai suatu individu.
Dengan menyandang nama sendiri, kita tidak akan pernah bisa melupakan peran kedua orangtua dalam hal mengantar kita ke muka Bumi. Kita tidak bisa meniadakan begitu saja nama yang sudah dipilihkan oleh orangtua kita, apalagi hal itu dilakukan di luar kehendak kita sendiri, ditambah dengan adanya pihak ketiga yang merasa punya hak untuk itu.
Oleh sebab itu, sudah sepantasnyalah perempuan berbangga hati memakai namanya sendiri untuk menunjukkan bahwa ia ada dan berpotensi untuk melakukan segala sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan sesama.
*Tulisan ini sudah pernah dimuat di rubrik 'Swara', Harian KOMPAS 2004
Kedua orangtua saya tentu bukannya tanpa maksud memberikan sebuah nama kepada saya ketika saya lahir di dunia. Dan, seperti orangtua kebanyakan, nama yang diberikan kepada sang anak tentu mempunyai arti khusus di hati mereka. Sebagai contoh nama saya sendiri, Reko Alum. Dalam bahasa Bima, asal ayah saya, Reko berarti selendang. Adapun Alum dalam bahasa Batak, asal ibu saya, berarti baik hati. Maka, di sini sudah jelas terungkap harapan kedua orangtua saya adalah kelak saya akan menjadi manusia yang baik budi pekertinya.
Adalah suatu hal yang absurd buat saya ketika sampai sebuah kenyataan bahwa nama indah dan sarat makna pemberian kedua orangtua saya itu tiba-tiba menjadi hilang dan tidak berarti kala berada dalam sebuah komunitas. Dalam setiap perkumpulan keluarga (bukan dari pihak saya), saya selalu diperkenalkan dengan nama lain yang sama sekali asing bagi saya.
Padahal, menurut saya, akan lebih manusiawi bila nama saya diganti dan diambil dari nama ibu yang melahirkan saya. Jati diri saya seakan terusik dengan penempelan nama baru yang tanpa kompromi itu. Dengan nama baru itu saya dipaksa menjadi orang lain. Dengan nama baru itu pula secara tidak langsung saya diminta untuk menghilangkan sebagian unsur dari identitas di dalam diri saya, mereka ingin saya mengaku berasal dari etnis lain (saya bukan penganut faham rasialisme). Ini adalah penyimpangan realitas yang berat. Dan, saya kira saya tidak akan pernah bisa menerimanya dengan segala konsekuensinya. Saya tidak punya cukup kemampuan untuk membohongi diri saya sendiri.
TANPA bermaksud melebih-lebihkan, bagi saya nama yang melekat dalam diri seseorang mutlak tidak bisa dipisahkan dari persoalan jati diri manusia. Sebab, saya kira dari sebuah namalah proses identifikasi diri seseorang dimulai. Budaya patriarki mempunyai kontribusi besar dalam urusan ganti-mengganti nama ini. Sayangnya, perempuan sendiri seolah pasrah dengan keadaan tersebut, bahkan menganggapnya sebagai hal yang tidak perlu dibahas dengan panjang lebar.
Dalam berbagai kasus, justru perempuan sendiri yang melegitimasi budaya "mengganti nama" ini. Pada acara-acara pertemuan, seperti arisan, PKK, dan sebagainya, para ibulah yang lebih dulu memopulerkan nama suami atau nama anak sulung mereka. Padahal, menurut saya, status perkawinan tidak perlu diumumkan ke seantero jagat dengan cara mengganti atau bahkan menghilangkan nama yang sudah menjadi identitas diri sejak lahir.
Menyingkat nama seorang perempuan yang sudah menikah dan menambahkannya dengan nama pasangannya tentulah terasa tidak adil. Perempuan dipaksa tenggelam dan bersembunyi di balik bayangan pasangannya. Membaca tulisan ini, tidak heran bila tebersit di pikiran mereka: Pusing-pusing amat sih mikirin nama! Bagi saya, persoalannya bukan itu.
Nama bagi seorang anak manusia memiliki arti begitu dalam. Ia bisa menunjukkan dari mana seseorang berasal, siapa yang melahirkannya, tanah kelahirannya. Bukan hanya itu, saya kira dengan nama kita bisa mengetahui siapa manusia pemilik nama itu, watak, segala prestasi yang diraihnya, serta kehidupannya. Menurut saya, nama tidak bisa seenaknya saja diubah atau diganti karena menyangkut aspek kehidupan seseorang.
Namun, pengecualian bisa saja terjadi bila si pemilik nama sudah tidak nyaman dengan namanya sendiri. Sah-sah saja bila ia ingin menggantinya dengan nama lain. Sekarang, coba sejenak kita bayangkan bila seorang Ibu Theresa yang telah begitu terkenal dengan kebaikan hatinya, tiba-tiba diganti namanya oleh sekelompok orang yang merasa berhak melakukannya. Apabila ia masih hidup, tentu akan banyak sekali orang yang kebingungan mencarinya. Lantas, bagaimana pula bila mantan Ibu Presiden menyingkat namanya menjadi M Taufik Kiemas. Orang yang tidak tahu pun akan menyangka bahwa saat itu Presiden republik ini dijabat oleh seorang laki-laki.
JADI, menurut saya, tidak ada alasan apa pun bagi seorang perempuan untuk menyingkat namanya atau mengganti namanya dengan nama pasangannya hanya karena ia telah terikat dengan sebuah lembaga perkawinan. Bagaimanapun, nama yang diberikan orangtua sejak lahir mencerminkan jati diri seorang manusia sebagai suatu individu.
Dengan menyandang nama sendiri, kita tidak akan pernah bisa melupakan peran kedua orangtua dalam hal mengantar kita ke muka Bumi. Kita tidak bisa meniadakan begitu saja nama yang sudah dipilihkan oleh orangtua kita, apalagi hal itu dilakukan di luar kehendak kita sendiri, ditambah dengan adanya pihak ketiga yang merasa punya hak untuk itu.
Oleh sebab itu, sudah sepantasnyalah perempuan berbangga hati memakai namanya sendiri untuk menunjukkan bahwa ia ada dan berpotensi untuk melakukan segala sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan sesama.
*Tulisan ini sudah pernah dimuat di rubrik 'Swara', Harian KOMPAS 2004
IBU DAN PERAWAN TUA
Ini memang cerita lama. Cerita yang tiada habisnya, selama perkawinan masih menjadi tujuan utama dalam hidup seorang perempuan.
Tari, seorang sahabat lama, tahun ini usianya genap 38 tahun. Angka ini bagaikan sesosok monster yang menakutkan baginya. Sama mengerikannya dengan julukan perawan tua yang mungkin saja sebentar lagi akan diselempangkan orang padanya.
Tari, anak perempuan pertama dari enam bersaudara. Empat orang saudaranya telah menikah, tinggal dia dan adik bungsunya laki-laki. Ia mapan dari segi ekonomi, bekerja di sebuah perusahaan minyak asing dengan penghasilan lumayan dan jenjang karir yang prospektif. Sayangnya, ia masih saja selalu mengeluh ada yang kurang dalam hidupnya. ‘Berat jodoh’ begitu stigma yang ia tempelkan pada dirinya sendiri, setelah berulang kali gagal menjalin hubungan serius dengan lawan jenisnya. Hubungan yang tentunya diharapkan bisa mengantarnya ke dalam suatu lembaga bernama perkawinan. Suatu dunia yang secara kasat mata tampak begitu ideal dan terhormat, bukan saja di mata keluarga tetapi juga di masyarakat.
Menjadi seorang perempuan berarti ia harus menikah, dan baru bisa dikatakan ‘perempuan yang betul-betul perempuan’ apabila ia juga mampu melahirkan anak, terutama yang berjenis kelamin laki-laki untuk dijadikan penerus nama keluarga dan menjadi seorang ibu. Doktrin ini telah sejak lama ditanamkan para ibu kepada anak perempuannya secara turun temurun.
Nasehat yang berulang kali dilontarkan ini akhirnya membuat hampir sebagian besar perempuan menganggap bahwa menikah dan menjadi seorang ibu adalah mutlak terjadi dalam kehidupan mereka. Kebanyakan perempuan menganggap peranan itu sebagai tujuan mereka, terutama karena tidak adanya alternatif serta adanya pemuliaan peran ibu…Pemuliaan seperti itu bagaikan memberi lapisan gula pada pil kina yang pahit, dan selama generasi ke generasi berikutnya perempuan terjebak menginginkan sedikit gula tersebut…(Kamla Bhasin, Nighat Said Khan, Gramedia Pustaka Utama, Kalyanamitra).
Menurut Tari, tekanan terberat yang terjadi pada dirinya justru berasal dari keluarganya sendiri, terutama sang ibu yang tidak henti-hentinya menuntut agar ia segera melepas masa lajangnya. Ia mengaku lelah setiap kali harus berbohong pada ibunya bahwa dirinya sedang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki, dan meminta ibunya untuk bersabar. Sementara ia sendiri sebetulnya sudah pasrah, akan menikah atau tidak nantinya. Menurutnya mencari teman hidup tidak semudah memilih buku di toko buku. Maka seringkali untuk sejenak melupakan masalahnya itu, ia betah berlama-lama minum kopi dari satu kedai ke kedai lainnya.
Bisa dimengerti bahwa seorang ibu ternyata juga memiliki beban tersendiri menghadapi kenyataan akan anak gadisnya yang belum juga dilamar orang. Para ibu (baca perempuan) sejak kecil sudah diberi tahu oleh orang tua dan gurunya di sekolah bahwa ia akan mendapatkan kemuliaan hidup hanya dalam perkawinan. Dia diajarkan bagaimana menjadi perempuan yang diinginkan laki-laki. Karena, hanya bersama laki-laki yang kelak menjadi suaminya itulah hidupnya akan berarti, (Shirley Lie, 2005). Jadi ibu beranggapan bahwa anak perempuannya harus sepaham dengan dirinya apabila ingin berbahagia dalam hidupnya. Tapi akibatnya ibu seringkali lupa bahwa anak perempuannya itu adalah juga seorang manusia perempuan yang memiliki kekuasaan sebagai pribadi utuh atas dirinya, pikiran, perasaan dan tubuhnya. Perempuan yang berhak memutuskan pilihan hidupnya dalam bekerja, berorganisasi, berpakaian tertentu, berciuman, bersetubuh, tidak menikah, tidak hamil, bercerai dan menjadi ibu, dan seterusnya, (Arimbi Heroeputri, R Valentina, Debt Watch Indonesia).
Menikah atau tidak menikah adalah pilihan hidup seorang manusia. Tidak siapapun berhak menuntut seseorang untuk mengikatkan dirinya pada lembaga tersebut meskipun kehendak itu datang dari ibu kita sendiri, orang yang telah melahirkan kita. Sebab seperti yang pernah diutarakan Simone de Beauvoir dalam bukunya The Second Sex, manusia bukan benda mati yang tujuan keberadaannya ditentukan oleh manusia lain. Manusia adalah pengada bebas yang mampu menentukan sendiri dan mentransendensi segala sesuatu yang membatasi dirinya.
Stigma perawan tua sampai detik ini memang masih bagaikan momok yang menyeramkan bagi setiap perempuan. Bukan hanya bagi si gadis yang belum menikah, tapi juga bagi ibu si gadis. Ibu akan bersedih hati melihat anak perempuannya masih saja sendiri. Karena bila sudah jadi perawan tua artinya tidak laku, ada yang salah dalam diri perempuan perawan tua, maka para bujangan atau suami-suami harus hati-hati bila berhubungan dengan perawan tua. Perempuan tidak kawin ini dianggap bisa memanfaatkan para bujangan untuk kesenangannya sendiri, atau bisa juga menjadi pengganggu rumah tangga orang. Meskipun si perawan tua memiliki jabatan yang bagus dan berpendidikan tinggi, atau baik budi pekertinya, tetap saja dia seorang perawan tua, konotasi yang sama ‘buruknya’ dengan seorang perempuan yang mempunyai ‘gelar’ janda. Status yang selalu saja mengundang bisik-bisik negatif di tengah masyarakat. Dengan demikian, rasanya nista sekali menyandang predikat perawan tua.
Oleh sebab itu harus diupayakan sebisa mungkin agar tidak sampai jadi perawan tua. Dan dengan alasan demi kebahagiaaan hidup sang anak itu tadi, seorang ibu bahkan tidak segan-segan mencari sendiri sosok laki-laki yang dianggapnya ideal sebagai pendamping hidup anak perempuannya. Seperti dikatakan Frederick Engel dalam bukunya Asal-usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara, ia mengatakan bahwa keputusan perkawinan bukanlah persoalan dua pihak, tapi persoalan ibu mereka. Ibu boleh jadi memiliki peran penting dalam menentukan jalan hidup seorang anak, lepas dari bahagia atau tidaknya si anak kelak. Sedangkan si anak cenderung tidak kuasa menolak keinginan sang ibu karena takut kualat, sebab ada kepercayaan bahwa letak surga berada di bawah telapak kaki ibu. Jadi apabila tidak menuruti ‘perintah bunda’, bisa-bisa nanti tidak mendapat tempat di surga, begitulah kira-kira.
Pertanyaannya sekarang, apakah balas budi seorang anak perempuan kepada ibunya harus selalu diwujudkan dalam bentuk sebuah pernikahan, beberapa orang cucu dan seterusnya? Apakah ada jaminan bahwa perkawinan merupakan kunci kebahagiaan dan kesempurnaan hidup seorang perempuan? Seolah-olah bila hal itu tidak terpenuhi, genaplah seperti apa yang dikatakan St. Thomas bahwa perempuan adalah manusia yang tidak sempurna? Banyak contoh perkawinan yang didasari keterpaksaan berujung pada penderitaan seumur hidup (karena ada agama yang sama sekali tidak mengijinkan adanya perceraian apapun alasannya) dan perceraian.
Apabila akhirnya bercerai, bukankah beban hidup seorang perempuan terutama yang tidak terbiasa hidup mandiri akan jauh lebih berat? Ia harus sendirian membesarkan atau bahkan menafkahi anaknya, belum lagi status janda yang disandangnya. Tidak mudah menjalani hidup seperti itu ditengah masyarakat yang masih percaya bahwa seorang janda identik dengan pengganggu, perusak rumah tangga orang. Ruang geraknya menjadi lebih terbatas lagi, karena kemana pun ia melangkah, orang selalu mencurigainya kalau ia punya maksud tertentu ketika berinteraksi dengan lawan jenisnya. Kalau sudah begitu, apakah benar seorang ibu ingin anak perempuannya berbahagia dengan melakukan perkawinan?
Masih ada cara-cara lain yang bisa ditempuh seorang anak perempuan untuk menunjukkan baktinya pada orangtuanya tanpa harus mengorbankan apa yang sebenarnya sudah menjadi pilihan hidupnya. Banyak hal yang bisa dilakukan seorang perempuan ketimbang sekedar kuliah atau duduk-duduk saja sambil menunggu jodoh datang meminang. Menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama adalah tujuan hidup yang sangat mulia. Misalnya saja dengan mengangkat anak asuh untuk menemaninya di hari tua. Ibu pun tidak perlu kuatir anaknya tidak mampu mengarungi hidup tanpa seorang ‘penjaga’ di sisinya, dan si anak perempuan juga akan lebih tenang menjalankan kehidupannya tanpa harus terbebani bahwa ia tidak bisa menyenangkan hati ibunya. Karena ternyata di luar pernikahan, ia mampu menunjukkan diri bahwa ia adalah manusia utuh yang berarti bagi orang-orang di sekelilingnya.
*tulisan ini sudah pernah dimuat di Jurnal Perempuan online
Tari, seorang sahabat lama, tahun ini usianya genap 38 tahun. Angka ini bagaikan sesosok monster yang menakutkan baginya. Sama mengerikannya dengan julukan perawan tua yang mungkin saja sebentar lagi akan diselempangkan orang padanya.
Tari, anak perempuan pertama dari enam bersaudara. Empat orang saudaranya telah menikah, tinggal dia dan adik bungsunya laki-laki. Ia mapan dari segi ekonomi, bekerja di sebuah perusahaan minyak asing dengan penghasilan lumayan dan jenjang karir yang prospektif. Sayangnya, ia masih saja selalu mengeluh ada yang kurang dalam hidupnya. ‘Berat jodoh’ begitu stigma yang ia tempelkan pada dirinya sendiri, setelah berulang kali gagal menjalin hubungan serius dengan lawan jenisnya. Hubungan yang tentunya diharapkan bisa mengantarnya ke dalam suatu lembaga bernama perkawinan. Suatu dunia yang secara kasat mata tampak begitu ideal dan terhormat, bukan saja di mata keluarga tetapi juga di masyarakat.
Menjadi seorang perempuan berarti ia harus menikah, dan baru bisa dikatakan ‘perempuan yang betul-betul perempuan’ apabila ia juga mampu melahirkan anak, terutama yang berjenis kelamin laki-laki untuk dijadikan penerus nama keluarga dan menjadi seorang ibu. Doktrin ini telah sejak lama ditanamkan para ibu kepada anak perempuannya secara turun temurun.
Nasehat yang berulang kali dilontarkan ini akhirnya membuat hampir sebagian besar perempuan menganggap bahwa menikah dan menjadi seorang ibu adalah mutlak terjadi dalam kehidupan mereka. Kebanyakan perempuan menganggap peranan itu sebagai tujuan mereka, terutama karena tidak adanya alternatif serta adanya pemuliaan peran ibu…Pemuliaan seperti itu bagaikan memberi lapisan gula pada pil kina yang pahit, dan selama generasi ke generasi berikutnya perempuan terjebak menginginkan sedikit gula tersebut…(Kamla Bhasin, Nighat Said Khan, Gramedia Pustaka Utama, Kalyanamitra).
Menurut Tari, tekanan terberat yang terjadi pada dirinya justru berasal dari keluarganya sendiri, terutama sang ibu yang tidak henti-hentinya menuntut agar ia segera melepas masa lajangnya. Ia mengaku lelah setiap kali harus berbohong pada ibunya bahwa dirinya sedang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki, dan meminta ibunya untuk bersabar. Sementara ia sendiri sebetulnya sudah pasrah, akan menikah atau tidak nantinya. Menurutnya mencari teman hidup tidak semudah memilih buku di toko buku. Maka seringkali untuk sejenak melupakan masalahnya itu, ia betah berlama-lama minum kopi dari satu kedai ke kedai lainnya.
Bisa dimengerti bahwa seorang ibu ternyata juga memiliki beban tersendiri menghadapi kenyataan akan anak gadisnya yang belum juga dilamar orang. Para ibu (baca perempuan) sejak kecil sudah diberi tahu oleh orang tua dan gurunya di sekolah bahwa ia akan mendapatkan kemuliaan hidup hanya dalam perkawinan. Dia diajarkan bagaimana menjadi perempuan yang diinginkan laki-laki. Karena, hanya bersama laki-laki yang kelak menjadi suaminya itulah hidupnya akan berarti, (Shirley Lie, 2005). Jadi ibu beranggapan bahwa anak perempuannya harus sepaham dengan dirinya apabila ingin berbahagia dalam hidupnya. Tapi akibatnya ibu seringkali lupa bahwa anak perempuannya itu adalah juga seorang manusia perempuan yang memiliki kekuasaan sebagai pribadi utuh atas dirinya, pikiran, perasaan dan tubuhnya. Perempuan yang berhak memutuskan pilihan hidupnya dalam bekerja, berorganisasi, berpakaian tertentu, berciuman, bersetubuh, tidak menikah, tidak hamil, bercerai dan menjadi ibu, dan seterusnya, (Arimbi Heroeputri, R Valentina, Debt Watch Indonesia).
Menikah atau tidak menikah adalah pilihan hidup seorang manusia. Tidak siapapun berhak menuntut seseorang untuk mengikatkan dirinya pada lembaga tersebut meskipun kehendak itu datang dari ibu kita sendiri, orang yang telah melahirkan kita. Sebab seperti yang pernah diutarakan Simone de Beauvoir dalam bukunya The Second Sex, manusia bukan benda mati yang tujuan keberadaannya ditentukan oleh manusia lain. Manusia adalah pengada bebas yang mampu menentukan sendiri dan mentransendensi segala sesuatu yang membatasi dirinya.
Stigma perawan tua sampai detik ini memang masih bagaikan momok yang menyeramkan bagi setiap perempuan. Bukan hanya bagi si gadis yang belum menikah, tapi juga bagi ibu si gadis. Ibu akan bersedih hati melihat anak perempuannya masih saja sendiri. Karena bila sudah jadi perawan tua artinya tidak laku, ada yang salah dalam diri perempuan perawan tua, maka para bujangan atau suami-suami harus hati-hati bila berhubungan dengan perawan tua. Perempuan tidak kawin ini dianggap bisa memanfaatkan para bujangan untuk kesenangannya sendiri, atau bisa juga menjadi pengganggu rumah tangga orang. Meskipun si perawan tua memiliki jabatan yang bagus dan berpendidikan tinggi, atau baik budi pekertinya, tetap saja dia seorang perawan tua, konotasi yang sama ‘buruknya’ dengan seorang perempuan yang mempunyai ‘gelar’ janda. Status yang selalu saja mengundang bisik-bisik negatif di tengah masyarakat. Dengan demikian, rasanya nista sekali menyandang predikat perawan tua.
Oleh sebab itu harus diupayakan sebisa mungkin agar tidak sampai jadi perawan tua. Dan dengan alasan demi kebahagiaaan hidup sang anak itu tadi, seorang ibu bahkan tidak segan-segan mencari sendiri sosok laki-laki yang dianggapnya ideal sebagai pendamping hidup anak perempuannya. Seperti dikatakan Frederick Engel dalam bukunya Asal-usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara, ia mengatakan bahwa keputusan perkawinan bukanlah persoalan dua pihak, tapi persoalan ibu mereka. Ibu boleh jadi memiliki peran penting dalam menentukan jalan hidup seorang anak, lepas dari bahagia atau tidaknya si anak kelak. Sedangkan si anak cenderung tidak kuasa menolak keinginan sang ibu karena takut kualat, sebab ada kepercayaan bahwa letak surga berada di bawah telapak kaki ibu. Jadi apabila tidak menuruti ‘perintah bunda’, bisa-bisa nanti tidak mendapat tempat di surga, begitulah kira-kira.
Pertanyaannya sekarang, apakah balas budi seorang anak perempuan kepada ibunya harus selalu diwujudkan dalam bentuk sebuah pernikahan, beberapa orang cucu dan seterusnya? Apakah ada jaminan bahwa perkawinan merupakan kunci kebahagiaan dan kesempurnaan hidup seorang perempuan? Seolah-olah bila hal itu tidak terpenuhi, genaplah seperti apa yang dikatakan St. Thomas bahwa perempuan adalah manusia yang tidak sempurna? Banyak contoh perkawinan yang didasari keterpaksaan berujung pada penderitaan seumur hidup (karena ada agama yang sama sekali tidak mengijinkan adanya perceraian apapun alasannya) dan perceraian.
Apabila akhirnya bercerai, bukankah beban hidup seorang perempuan terutama yang tidak terbiasa hidup mandiri akan jauh lebih berat? Ia harus sendirian membesarkan atau bahkan menafkahi anaknya, belum lagi status janda yang disandangnya. Tidak mudah menjalani hidup seperti itu ditengah masyarakat yang masih percaya bahwa seorang janda identik dengan pengganggu, perusak rumah tangga orang. Ruang geraknya menjadi lebih terbatas lagi, karena kemana pun ia melangkah, orang selalu mencurigainya kalau ia punya maksud tertentu ketika berinteraksi dengan lawan jenisnya. Kalau sudah begitu, apakah benar seorang ibu ingin anak perempuannya berbahagia dengan melakukan perkawinan?
Masih ada cara-cara lain yang bisa ditempuh seorang anak perempuan untuk menunjukkan baktinya pada orangtuanya tanpa harus mengorbankan apa yang sebenarnya sudah menjadi pilihan hidupnya. Banyak hal yang bisa dilakukan seorang perempuan ketimbang sekedar kuliah atau duduk-duduk saja sambil menunggu jodoh datang meminang. Menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama adalah tujuan hidup yang sangat mulia. Misalnya saja dengan mengangkat anak asuh untuk menemaninya di hari tua. Ibu pun tidak perlu kuatir anaknya tidak mampu mengarungi hidup tanpa seorang ‘penjaga’ di sisinya, dan si anak perempuan juga akan lebih tenang menjalankan kehidupannya tanpa harus terbebani bahwa ia tidak bisa menyenangkan hati ibunya. Karena ternyata di luar pernikahan, ia mampu menunjukkan diri bahwa ia adalah manusia utuh yang berarti bagi orang-orang di sekelilingnya.
*tulisan ini sudah pernah dimuat di Jurnal Perempuan online
KAKEK BAGIR BUKAN BAPAK BAGIR
Serafina adalah murid sekolah dasar kelas empat. Umurnya sembilan tahun. Hobinya baca buku, main violin, piano, gitar dan keyboard. Dua alat musik terakhir dipelajarinya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Walaupun baru kelas empat SD, Serafina sudah mendapatkan pelajaran PKN, singkatan dari Pendidikan Kewarganegaraan. Saat saya masih seumurnya, pelajaran soal kewarganegaraan diberikan pada saat siswa duduk di bangku sekolah menengah atas (sekarang SMU), dikenal dengan mata pelajaran tata negara. Itupun hanya diberikan pada murid yang mengambil jurusan A3 atau Ilmu Sosial.
Begitulah. Jaman memang sudah berubah. Meskipun saya juga masih bingung apa manfaat pelajaran kewarganegaraan bagi anak umur delapan tahun, nyatanya setiap sekolah memang diwajibkan memasukkan mata pelajaran tersebut ke dalam kurikulum.
Suatu hari, Serafina akan menghadapi ulangan harian PKN. Maka sehabis mandi sore, ia pun menyiapkan buku PKNnya untuk dibaca-baca. “Ma, aku isi latihan soal ini dulu ya, nanti baru menghafal.” Katanya. “Tentu saja sayangku.” Jawab saya.
Serafina banyak bertanya mengenai isi jawaban soal-soal yang sedang dikerjakannya. Buat saya, materi pelajaran PKN ini lumayan susah. Salah satunya adalah pertanyaan mengenai siapa ketua Mahkamah Konstitusi.
Memberikan jawaban nama si ketua tidak masalah. Persoalannya adalah pertanyaan selanjutnya yang diajukan si anak. “Mahkamah Konstitusi itu artinya apa sih ma?”
Di buku ada uraian seadanya. Tapi anak terus menuntut penjelasan logis mengenai Mahkamah Konsitusi yang terkait dengan kehidupan anak seusianya. Ah, bagaimana saya menjelaskan arti institusi ini pada anak umur delapan tahun? Mungkin teman-teman ada yang bisa membantu.
Pertanyaan berikutnya adalah siapa ketua Mahkamah Agung. Saya mulai sedikit kesal. “Serafina, jawaban pertanyaan kamu itu tentu sudah ada semua di buku. Coba dilihat lagi.” ujar saya. “Mahkamah Agung itu apa ma…?” Dia terus menyerocos tanpa perduli ucapan saya sebelumnya. Hari sudah semakin larut dan Serafina tidak henti-hentinya minta penjelasan panjang lebar tentang lembaga-lembaga peradilan itu.
Maka saya katakan padanya, “Tulis saja dulu siapa nama ketua MA, nanti kalau pekerjaanmu sudah beres, kita bisa ngobrol-ngobrol lagi soal Mahkamah Agung.” “Kalau begitu, siapa ketua MA, ma?” Waduh, saya juga lupa tuh siapa ketua MA yang sekarang. “Hmm..kalau tidak salah sih pak Bagir Manan. Tapi mama lupa, dia itu udah pensiun atau belum ya. Soalnya waktu itu dia sudah disuruh pensiun tapi dia tidak mau.” Jawab saya.
Serafina tidak menjawab. Dia malah sibuk membolak-balik buku PKNnya. “Ha…lihat ini ma…” teriaknya tiba-tiba. “Ini kan gambar pak Bagir Manan?” katanya sambil menunjukkan kepada saya foto Bagir Manan dengan seluruh rambutnya yang sudah memutih, yang ada di bukunya. “Bener ma?’ ulangnya minta penegasan. “Tentu saja sayangku. Itu benar pak Bagir Manan.”
Lantas Serafina tertawa terkekeh-kekeh. Dengan gayanya yang sok tua dia berujar,” Mama…mama…ini sih bukan pak Bagir Manan, tapi kakek Bagir Manan. Lihat tuh ma, dia udah tua banget ya. Mestinya dia kayak pak Sardjono (guru violin Serafina). Kalau sudah tua, jadi guru biola aja…”
Saya kehabisan kata mendengar komentar Serafina. Kebayang nggak sih kakek Bagir Manan mengajar biola di Mahkamah Agung? *
Pondokgede, Jum'at 28 November 2008
Walaupun baru kelas empat SD, Serafina sudah mendapatkan pelajaran PKN, singkatan dari Pendidikan Kewarganegaraan. Saat saya masih seumurnya, pelajaran soal kewarganegaraan diberikan pada saat siswa duduk di bangku sekolah menengah atas (sekarang SMU), dikenal dengan mata pelajaran tata negara. Itupun hanya diberikan pada murid yang mengambil jurusan A3 atau Ilmu Sosial.
Begitulah. Jaman memang sudah berubah. Meskipun saya juga masih bingung apa manfaat pelajaran kewarganegaraan bagi anak umur delapan tahun, nyatanya setiap sekolah memang diwajibkan memasukkan mata pelajaran tersebut ke dalam kurikulum.
Suatu hari, Serafina akan menghadapi ulangan harian PKN. Maka sehabis mandi sore, ia pun menyiapkan buku PKNnya untuk dibaca-baca. “Ma, aku isi latihan soal ini dulu ya, nanti baru menghafal.” Katanya. “Tentu saja sayangku.” Jawab saya.
Serafina banyak bertanya mengenai isi jawaban soal-soal yang sedang dikerjakannya. Buat saya, materi pelajaran PKN ini lumayan susah. Salah satunya adalah pertanyaan mengenai siapa ketua Mahkamah Konstitusi.
Memberikan jawaban nama si ketua tidak masalah. Persoalannya adalah pertanyaan selanjutnya yang diajukan si anak. “Mahkamah Konstitusi itu artinya apa sih ma?”
Di buku ada uraian seadanya. Tapi anak terus menuntut penjelasan logis mengenai Mahkamah Konsitusi yang terkait dengan kehidupan anak seusianya. Ah, bagaimana saya menjelaskan arti institusi ini pada anak umur delapan tahun? Mungkin teman-teman ada yang bisa membantu.
Pertanyaan berikutnya adalah siapa ketua Mahkamah Agung. Saya mulai sedikit kesal. “Serafina, jawaban pertanyaan kamu itu tentu sudah ada semua di buku. Coba dilihat lagi.” ujar saya. “Mahkamah Agung itu apa ma…?” Dia terus menyerocos tanpa perduli ucapan saya sebelumnya. Hari sudah semakin larut dan Serafina tidak henti-hentinya minta penjelasan panjang lebar tentang lembaga-lembaga peradilan itu.
Maka saya katakan padanya, “Tulis saja dulu siapa nama ketua MA, nanti kalau pekerjaanmu sudah beres, kita bisa ngobrol-ngobrol lagi soal Mahkamah Agung.” “Kalau begitu, siapa ketua MA, ma?” Waduh, saya juga lupa tuh siapa ketua MA yang sekarang. “Hmm..kalau tidak salah sih pak Bagir Manan. Tapi mama lupa, dia itu udah pensiun atau belum ya. Soalnya waktu itu dia sudah disuruh pensiun tapi dia tidak mau.” Jawab saya.
Serafina tidak menjawab. Dia malah sibuk membolak-balik buku PKNnya. “Ha…lihat ini ma…” teriaknya tiba-tiba. “Ini kan gambar pak Bagir Manan?” katanya sambil menunjukkan kepada saya foto Bagir Manan dengan seluruh rambutnya yang sudah memutih, yang ada di bukunya. “Bener ma?’ ulangnya minta penegasan. “Tentu saja sayangku. Itu benar pak Bagir Manan.”
Lantas Serafina tertawa terkekeh-kekeh. Dengan gayanya yang sok tua dia berujar,” Mama…mama…ini sih bukan pak Bagir Manan, tapi kakek Bagir Manan. Lihat tuh ma, dia udah tua banget ya. Mestinya dia kayak pak Sardjono (guru violin Serafina). Kalau sudah tua, jadi guru biola aja…”
Saya kehabisan kata mendengar komentar Serafina. Kebayang nggak sih kakek Bagir Manan mengajar biola di Mahkamah Agung? *
Pondokgede, Jum'at 28 November 2008
AKU CINTA INDONESIA
Uneg-uneg saya sebenarnya masih banyak. Soal rokok kemarin hanyalah salah satunya. Kalau mau membahas tentang keluhan saya sebagai warga negara Indonesia, bisa beratus-ratus halaman nantinya. Soal toilet umum yang jorok dan berbau busuk, main serobot dalam antrian, angkutan umum yang doyan berhenti di tengah jalan, pengendara motor yang melaju seenaknya.
Apalagi jika melihat masalah yang lebih prinsip semisal uang pajak yang tidak tahu lari kemana. Tiap sudut kota ada jalan rusak, sekolah ambruk, puskesmas reot, pasar tradisional dibiarkan merana dan seterusnya dan seterusnya. Kemanakah setoran pajak itu bersarang, sedangkan jutaan gembel yang beli teh botol saja juga ikut bayar pajak minuman?
Memang sudah takdir saya lahir sebagai orang Indonesia. Ditilik dari sisi keragaman budayanya, saya bersyukur bisa mengenal negeri ini dari dekat. Tarian Saman yang rumit itu, tidak bosan-bosannya saya menontonnya melalui rekaman dvd. Dengarlah Gondang Batak yang merdu itu. Adat istiadat yang sarat nilai-nilai budaya di tiap daerah. Keindahan alamnya (kalau masih ada yang tersisa, sebelum semua kemurahan Tuhan itu dijadikan tembok-tembok bernama mal). Indonesia memang luar biasa.
Tetapi di luar itu, saya lebih banyak jengkelnya setiap mengalami atau melihat peristiwa-peristiwa yang berada di luar batas nalar saya. Lagi-lagi saya ‘ngedumel’ kenapa juga saya lahir di negeri ‘semrawut’ ini.
Beberapa waktu lalu, seorang teman warga negara Australia, tapi sudah lama bermukim di Singapore, datang ke Jakarta. Ia seorang wartawan sebuah kantor berita besar Inggris.
Bersama beberapa teman, saya menemaninya jalan-jalan ke Kemang. Setelah itu kami makan di sebuah hotel teduh di bilangan jalan Dharmawangsa. David, demikian nama si bule bukan sekali ini saja datang ke Jakarta. Saya lupa menanyakannya. Tapi yang pasti sudah lebih dari tiga kali, belum termasuk bila ia hanya mampir ke Bali.
Iseng-iseng saya tanya ke dia,” Eh, elo kok seneng banget sih maen ke sini?” (tentu saja pertanyaan diajukan dalam bahasa ibunya). Dia cuma mesem-mesem saja sambil terus mengunyah makanannya. “Kalo gue jadi elo, gue nggak bakal mau kesini. Emang elo nggak liat apa nih kota, jorok, acak-acakan, semua serba nggak teratur, gembel bertebaran di mana-mana, rawan copet lagi.”
Si David malah manggut-manggut saja sambil terus mengunyah. Maka saya pun melanjutkan ocehan saya,” Emang di Singapore nggak ada hotel apa, di sana bukannya enak…semua serba teratur, bersih. Di Australia juga bukannya begitu. Kenapa nggak ke sana aja, atau ke negara lain deh asal bukan ke sini?”
Akhirnya, David selesai mengunyah karena makanannya pun telah habis. Ia menuang air ke gelasnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tersenyum. Terus dia bilang gini ke saya,” Gue emang seneng ke sini. Karena di sini beda sama di Singapore atau di Australia.” Saya mengernyitkan dahi, “Ya jelas beda dong mas, kan tadi gue udah ngomong panjang lebar soal perbedaannya,” timpal saya. “Di sini berantakan, di sana teratur.” Lanjut saya lagi.
“Di Singapore itu memang banyak hotel. Dari yang paling mahal sampe yang paling murah. Tapi buat gue itu semuanya nggak enak. Karena hotel-hotel itu kesannya kering dan gersang.” Ujarnya. Saya jadi bingung mendengarnya,” Maksud elo?” tanya saya tidak mengerti. “Elo liat nggak tempat sekarang kita lagi duduk-duduk nih,” katanya.
Saya memerhatikan pemandangan dari tempat saya duduk. Hotel yang saya datangi ini memang enak. Kesan teduh dan nyaman sudah terasa saat menginjakkan kaki di mulut lobi. Pohon-pohon besar dan rindang dibiarkan tumbuh. Harum bunga melati, samar-samar tercium. Suara gending Jawa yang dimainkan langsung oleh penabuhnya, seolah-olah membawa raga ke alam yang sangat jauh dari hiruk pikuk Jakarta. Padahal notabene saya sedang berada di tengah kota.
“Hotel-hotel di Singapore, di Australia atau tempat-tempat lain yang pernah gue datengin, nggak ada yang seperti hotel-hotel di Indonesia. Contohnya ya di sini ini. Gue sekarang nggak ngerasa tuh kalo gue sebenernya lagi berada di tengah kota.
Nah, soal yang elo bilang ‘semrawut’ dan jorok, itulah asiknya. Gue sendiri udah bosen banget ngeliat segala keteraturan dan kebersihan. Di sini enak, kejorokan dan kesemerawutanlah yang membuat kehidupan manusia di sini lebih dinamis, nggak monoton kayak di Singapore. Yang kayak gitu tuh yang bikin gue seneng maen ke sini.”
“Hah…?” Saya melongo mendengarnya. Dasar bule ‘ndablek’. Kini gantian saya yang manggut-manggut. Jadi selama ini, apakah saya saja yang terlalu berlebihan menghadapi berbagai kenyataan di negeri ini? Is it Indonesia true a lovely country?*
Apalagi jika melihat masalah yang lebih prinsip semisal uang pajak yang tidak tahu lari kemana. Tiap sudut kota ada jalan rusak, sekolah ambruk, puskesmas reot, pasar tradisional dibiarkan merana dan seterusnya dan seterusnya. Kemanakah setoran pajak itu bersarang, sedangkan jutaan gembel yang beli teh botol saja juga ikut bayar pajak minuman?
Memang sudah takdir saya lahir sebagai orang Indonesia. Ditilik dari sisi keragaman budayanya, saya bersyukur bisa mengenal negeri ini dari dekat. Tarian Saman yang rumit itu, tidak bosan-bosannya saya menontonnya melalui rekaman dvd. Dengarlah Gondang Batak yang merdu itu. Adat istiadat yang sarat nilai-nilai budaya di tiap daerah. Keindahan alamnya (kalau masih ada yang tersisa, sebelum semua kemurahan Tuhan itu dijadikan tembok-tembok bernama mal). Indonesia memang luar biasa.
Tetapi di luar itu, saya lebih banyak jengkelnya setiap mengalami atau melihat peristiwa-peristiwa yang berada di luar batas nalar saya. Lagi-lagi saya ‘ngedumel’ kenapa juga saya lahir di negeri ‘semrawut’ ini.
Beberapa waktu lalu, seorang teman warga negara Australia, tapi sudah lama bermukim di Singapore, datang ke Jakarta. Ia seorang wartawan sebuah kantor berita besar Inggris.
Bersama beberapa teman, saya menemaninya jalan-jalan ke Kemang. Setelah itu kami makan di sebuah hotel teduh di bilangan jalan Dharmawangsa. David, demikian nama si bule bukan sekali ini saja datang ke Jakarta. Saya lupa menanyakannya. Tapi yang pasti sudah lebih dari tiga kali, belum termasuk bila ia hanya mampir ke Bali.
Iseng-iseng saya tanya ke dia,” Eh, elo kok seneng banget sih maen ke sini?” (tentu saja pertanyaan diajukan dalam bahasa ibunya). Dia cuma mesem-mesem saja sambil terus mengunyah makanannya. “Kalo gue jadi elo, gue nggak bakal mau kesini. Emang elo nggak liat apa nih kota, jorok, acak-acakan, semua serba nggak teratur, gembel bertebaran di mana-mana, rawan copet lagi.”
Si David malah manggut-manggut saja sambil terus mengunyah. Maka saya pun melanjutkan ocehan saya,” Emang di Singapore nggak ada hotel apa, di sana bukannya enak…semua serba teratur, bersih. Di Australia juga bukannya begitu. Kenapa nggak ke sana aja, atau ke negara lain deh asal bukan ke sini?”
Akhirnya, David selesai mengunyah karena makanannya pun telah habis. Ia menuang air ke gelasnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tersenyum. Terus dia bilang gini ke saya,” Gue emang seneng ke sini. Karena di sini beda sama di Singapore atau di Australia.” Saya mengernyitkan dahi, “Ya jelas beda dong mas, kan tadi gue udah ngomong panjang lebar soal perbedaannya,” timpal saya. “Di sini berantakan, di sana teratur.” Lanjut saya lagi.
“Di Singapore itu memang banyak hotel. Dari yang paling mahal sampe yang paling murah. Tapi buat gue itu semuanya nggak enak. Karena hotel-hotel itu kesannya kering dan gersang.” Ujarnya. Saya jadi bingung mendengarnya,” Maksud elo?” tanya saya tidak mengerti. “Elo liat nggak tempat sekarang kita lagi duduk-duduk nih,” katanya.
Saya memerhatikan pemandangan dari tempat saya duduk. Hotel yang saya datangi ini memang enak. Kesan teduh dan nyaman sudah terasa saat menginjakkan kaki di mulut lobi. Pohon-pohon besar dan rindang dibiarkan tumbuh. Harum bunga melati, samar-samar tercium. Suara gending Jawa yang dimainkan langsung oleh penabuhnya, seolah-olah membawa raga ke alam yang sangat jauh dari hiruk pikuk Jakarta. Padahal notabene saya sedang berada di tengah kota.
“Hotel-hotel di Singapore, di Australia atau tempat-tempat lain yang pernah gue datengin, nggak ada yang seperti hotel-hotel di Indonesia. Contohnya ya di sini ini. Gue sekarang nggak ngerasa tuh kalo gue sebenernya lagi berada di tengah kota.
Nah, soal yang elo bilang ‘semrawut’ dan jorok, itulah asiknya. Gue sendiri udah bosen banget ngeliat segala keteraturan dan kebersihan. Di sini enak, kejorokan dan kesemerawutanlah yang membuat kehidupan manusia di sini lebih dinamis, nggak monoton kayak di Singapore. Yang kayak gitu tuh yang bikin gue seneng maen ke sini.”
“Hah…?” Saya melongo mendengarnya. Dasar bule ‘ndablek’. Kini gantian saya yang manggut-manggut. Jadi selama ini, apakah saya saja yang terlalu berlebihan menghadapi berbagai kenyataan di negeri ini? Is it Indonesia true a lovely country?*
HOW GOD CREATED A MILLION FACES
Almarhum ompung boru (nenek perempuan, bahasa Batak) saya dari pihak ibu, punya seorang saudara lelaki. Adik laki-laki ompung boru ini sudah ‘awarahum’ juga. Sama seperti ompung boru, beliau ini juga saya panggil ompung . Tapi ada tambahan di belakangnya, bukit duri. Jadi si ompung doli (kakek, bahasa Batak) Bukit Duri. Karena sudah berpuluh tahun ia tinggal di Bukit Duri, daerah sekitar Manggarai.
Demikianlah salah satu kegemaran orang Batak. Selain bernyanyi, suka pula mengganti nama orang dengan nama jalan. Kalau bertanya pada orang Batak, kenal tidak dengan si A marganya X, pasti rata-rata menjawab tidak tahu. Tapi bila disebut nama jalan rumahnya, kemungkinan besar kaum Batak ini akan paham siapa yang dimaksud. Tradisinya mereka akan bilang begini, “O…si ompung jalan Paus itu…” Atau bisa juga, “O…si amangboru kakaktua itu…”
Maksudnya bukan si burung kakaktua punya amangboru (saudara laki-laki dari pihak bapak, bahasa Batak). Tapi si amangboru yang tinggal di jalan Kakaktua. Jadi jangan heran kalau dengar orang Batak memanggil para ompung, tulang, nangboru dkk dengan nama yang aneh-aneh, seperti nama benda, nama binatang atau bahkan nama seorang pahlawan dari pulau Jawa. Itu adalah sah hukumnya.
Kembali soal ompung Bukit Duri tadi. Ompung Bukit Duri punya seorang istri (ompung boru Bukit Duri juga sudah RIP). Suatu pagi, waktu itu saya masih kuliah. Saya naik angkot jurusan Taman Mini-Pasarminggu menuju kampus saya di LA alias Lenteng Agung.
Di sekitar Pasar Induk, angkot berhenti. Kemudian naiklah seorang perempuan berumur dengan sekantung penuh belanjaan berisi sayuran. Ha…ompung boru Bukit Duri rupanya. Dia duduk berhadapan dengan saya, tapi dengan ekspresi wajah yang biasa saja. Tidak seperti layaknya seorang nenek yang senang bertemu cucunya. Saya jadi serba salah. Melihat ekspresinya yang dingin-dingin saja, saya tidak berani menegurnya. Apakah ia membenci saya sehingga melihat saya saja tidak mau? Sudahlah, pura-pura tidak tahu saja.
Selang beberapa menit kemudian, ia pun turun di depan kompleks perumahan tentara. Ia masih tetap bunkam, bahkan sama sekali tidak menoleh kearah saya ketika turun dari angkot. Saya sakit hati. Kok gitu banget ya si ompung.
Sementara itu ada dua pertanyaan yang timbul di kepala saya. Pertama, kenapa ompung Bukit Duri pagi-pagi begini jauh-jauh belanja ke Pasar Induk? Kedua, sejak kapan ompung doli Bukit Duri yang seorang guru jadi tentara? Gelap.
Pulang ke rumah. Saya laporan pada ibu. Saya ungkapkan kronologis pertemuan singkat saya dengan si ompung tadi. Saya katakan juga pada ibu bahwa saya sekarang sebal sekali pada si ompung boru. Ibu saya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita saya itu.
Di sela-sela tawanya, ibu bilang bahwa si ompung boru Bukit Duri punya saudara kembar yang memang tinggal di sekitar Pasar Induk. Jadi, ompung-ompung yang saya jumpai tadi pagi di dalam angkot, tidak lain tidak bukan adalah saudara kembarnya si ompung boru Bukit Duri.
“Jelas aja dia nggak kenalin kamu.” Kata ibu masih dengan tawanya yang berderai-derai. Saya pun berlega hati karena ternyata ompung boru Bukit Duri tidak membenci saya seperti yang saya kira. Sori ya ‘pung sudah sempat sebal.*
Demikianlah salah satu kegemaran orang Batak. Selain bernyanyi, suka pula mengganti nama orang dengan nama jalan. Kalau bertanya pada orang Batak, kenal tidak dengan si A marganya X, pasti rata-rata menjawab tidak tahu. Tapi bila disebut nama jalan rumahnya, kemungkinan besar kaum Batak ini akan paham siapa yang dimaksud. Tradisinya mereka akan bilang begini, “O…si ompung jalan Paus itu…” Atau bisa juga, “O…si amangboru kakaktua itu…”
Maksudnya bukan si burung kakaktua punya amangboru (saudara laki-laki dari pihak bapak, bahasa Batak). Tapi si amangboru yang tinggal di jalan Kakaktua. Jadi jangan heran kalau dengar orang Batak memanggil para ompung, tulang, nangboru dkk dengan nama yang aneh-aneh, seperti nama benda, nama binatang atau bahkan nama seorang pahlawan dari pulau Jawa. Itu adalah sah hukumnya.
Kembali soal ompung Bukit Duri tadi. Ompung Bukit Duri punya seorang istri (ompung boru Bukit Duri juga sudah RIP). Suatu pagi, waktu itu saya masih kuliah. Saya naik angkot jurusan Taman Mini-Pasarminggu menuju kampus saya di LA alias Lenteng Agung.
Di sekitar Pasar Induk, angkot berhenti. Kemudian naiklah seorang perempuan berumur dengan sekantung penuh belanjaan berisi sayuran. Ha…ompung boru Bukit Duri rupanya. Dia duduk berhadapan dengan saya, tapi dengan ekspresi wajah yang biasa saja. Tidak seperti layaknya seorang nenek yang senang bertemu cucunya. Saya jadi serba salah. Melihat ekspresinya yang dingin-dingin saja, saya tidak berani menegurnya. Apakah ia membenci saya sehingga melihat saya saja tidak mau? Sudahlah, pura-pura tidak tahu saja.
Selang beberapa menit kemudian, ia pun turun di depan kompleks perumahan tentara. Ia masih tetap bunkam, bahkan sama sekali tidak menoleh kearah saya ketika turun dari angkot. Saya sakit hati. Kok gitu banget ya si ompung.
Sementara itu ada dua pertanyaan yang timbul di kepala saya. Pertama, kenapa ompung Bukit Duri pagi-pagi begini jauh-jauh belanja ke Pasar Induk? Kedua, sejak kapan ompung doli Bukit Duri yang seorang guru jadi tentara? Gelap.
Pulang ke rumah. Saya laporan pada ibu. Saya ungkapkan kronologis pertemuan singkat saya dengan si ompung tadi. Saya katakan juga pada ibu bahwa saya sekarang sebal sekali pada si ompung boru. Ibu saya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita saya itu.
Di sela-sela tawanya, ibu bilang bahwa si ompung boru Bukit Duri punya saudara kembar yang memang tinggal di sekitar Pasar Induk. Jadi, ompung-ompung yang saya jumpai tadi pagi di dalam angkot, tidak lain tidak bukan adalah saudara kembarnya si ompung boru Bukit Duri.
“Jelas aja dia nggak kenalin kamu.” Kata ibu masih dengan tawanya yang berderai-derai. Saya pun berlega hati karena ternyata ompung boru Bukit Duri tidak membenci saya seperti yang saya kira. Sori ya ‘pung sudah sempat sebal.*
360 ANDERSON COOPER
Mungkin, beginilah nasib kalau hidup di negeri yang dianggap identik dengan aksi teror. Artis R kelahiran Barbados batal manggung, padahal tiket sudah amblas dibeli calon penonton. Kejuaraan internasional A tidak mungkin diselenggarakan di sini. Presiden B atau menteri C dari negara D, mengundurkan jadwal kedatangannya. Lalu ada lagi yang namanya 'travel warning.' Semuanya pasti karena satu alasan. Takut mati dibom!
Mungkin di mata dunia luar, orang Indonesia adalah serumpun manusia yang patut dicurigai gerak-geriknya. Harap maklum, saya saja yang asli orang Indonesia kadang-kadang takut juga kalau datang ke tempat-tempat tertentu. Siapa tahu lagi sial, kena bom meleduk. Hiii….
Saya penggemar acara 360˚ di CNN, ketika TV lokal hanya menyiarkan iklan kampanye-kampanye kosong, ‘pilkadal’ rusuh yang membosankan, dan berita remeh temeh yang sok dipolitisir.
Selain liputan yang manusiawi dan mendalam, program 360˚ ini dibawakan oleh seorang reporter yang membuat mata perempuan saya sampai melotot memandangnya. Meskipun bahasa Inggris saya ‘acak adut’, tapi kalau si ganteng ini yang bicara, rasanya saya jadi paham semua yang ia ucapkan.
Saya cinta mati sama si Anderson Cooper ini, demikian namanya. Sudah tampan abis, pintar pula. Konon, Tuan Cooper berasal dari kalangan berada di negeri asalnya. Dia bisa saja hidup enak tanpa harus bercapek-capek reporting kesana-kemari.
Itulah juga salah satu hal yang membuat saya gandrung padanya. Sementara, di sini, ada nggak ya anak konglomerat yang mau jadi wartawan? Dimaki-maki narasumber, berpapasan dengan maut saat meliput perang atau bencana alam? Ha..ha..ha…dalam mimpi!
Saya makin semangat menonton program 360˚ ketika ternyata bang Anderson meng’approve’ saya sebagai teman di facebooknya. Email darinya yang berisi ‘confirm to be friend’ tidak saya hapus dari kotak surat saya. Meskipun hanya lewat dunia virtual, saya senang sekali mendapat respon darinya.
Kemarin, saya membuka seluruh daftar nama-nama yang sudah menjadi teman saya melalui facebook. Tapi terasa ada yang janggal. Saya selalu mampir melihat teman saya yang berasal dari Italy. Saya juga selalu mampir melihat teman saya yang wartawan CNN itu. Bolak-balik saya lihat daftarnya, ternyata nama Anderson Cooper memang sudah tidak berada di tempatnya lagi. Kok bisa?
Saya tidak tahu harus tanya kemana. Kenapa si bul bul ganteng nan ‘pinter’ itu menghilang dari daftar teman-teman saya? Setahu saya, menghilangkan nama teman hanya bisa dilakukan melalui ‘account’ kita sendiri. Jadi hal yang paling mungkin adalah, Anderson sendiri yang telah ‘menendang’ saya keluar dari daftar teman-temannya.
Oh, sekali lagi nasib…nasib… Apakah ia sudah tidak sudi punya teman dari Indonesia meskipun hanya ‘teman’ di dunia maya? Saya hanya menebak-nebak. Saya kira, saya tidak punya alasan yang membuatnya marah sehingga ia mendepak saya. Menulis di ‘wall’ nya saja saya cuma sekali. Itupun hanya bilang ‘I love your show.”
Saya jadi sensitif. Adakah yang salah pada diri saya? Apakah karena saya seorang Indonesia? Benarkah kemudian ia curiga bahwa saya adalah juga seorang tukang teror yang ingin menjadikannya target? Atau seorang mata-mata dari dunia ketiga yang berkamuflase di FB untuk mencari akses demi mendapatkan berbagai informasi penting dari seorang wartawan negara adidaya (halah…sok ngerti intel lu, baru baca buku CIA ya?). Berlebihan!!
Lantas apa mas Anderson? Tampang saya juga kayaknya tidak jelek-jelek amat. Jadi anda tidak perlu malu punya teman keren seperti saya. Tapi, kenapa anda mencoret saya dari daftar teman-teman anda? Kalau memang benar anda melakukan itu, sungguh saya begitu tersinggung. Juga patah hati!*
Mungkin di mata dunia luar, orang Indonesia adalah serumpun manusia yang patut dicurigai gerak-geriknya. Harap maklum, saya saja yang asli orang Indonesia kadang-kadang takut juga kalau datang ke tempat-tempat tertentu. Siapa tahu lagi sial, kena bom meleduk. Hiii….
Saya penggemar acara 360˚ di CNN, ketika TV lokal hanya menyiarkan iklan kampanye-kampanye kosong, ‘pilkadal’ rusuh yang membosankan, dan berita remeh temeh yang sok dipolitisir.
Selain liputan yang manusiawi dan mendalam, program 360˚ ini dibawakan oleh seorang reporter yang membuat mata perempuan saya sampai melotot memandangnya. Meskipun bahasa Inggris saya ‘acak adut’, tapi kalau si ganteng ini yang bicara, rasanya saya jadi paham semua yang ia ucapkan.
Saya cinta mati sama si Anderson Cooper ini, demikian namanya. Sudah tampan abis, pintar pula. Konon, Tuan Cooper berasal dari kalangan berada di negeri asalnya. Dia bisa saja hidup enak tanpa harus bercapek-capek reporting kesana-kemari.
Itulah juga salah satu hal yang membuat saya gandrung padanya. Sementara, di sini, ada nggak ya anak konglomerat yang mau jadi wartawan? Dimaki-maki narasumber, berpapasan dengan maut saat meliput perang atau bencana alam? Ha..ha..ha…dalam mimpi!
Saya makin semangat menonton program 360˚ ketika ternyata bang Anderson meng’approve’ saya sebagai teman di facebooknya. Email darinya yang berisi ‘confirm to be friend’ tidak saya hapus dari kotak surat saya. Meskipun hanya lewat dunia virtual, saya senang sekali mendapat respon darinya.
Kemarin, saya membuka seluruh daftar nama-nama yang sudah menjadi teman saya melalui facebook. Tapi terasa ada yang janggal. Saya selalu mampir melihat teman saya yang berasal dari Italy. Saya juga selalu mampir melihat teman saya yang wartawan CNN itu. Bolak-balik saya lihat daftarnya, ternyata nama Anderson Cooper memang sudah tidak berada di tempatnya lagi. Kok bisa?
Saya tidak tahu harus tanya kemana. Kenapa si bul bul ganteng nan ‘pinter’ itu menghilang dari daftar teman-teman saya? Setahu saya, menghilangkan nama teman hanya bisa dilakukan melalui ‘account’ kita sendiri. Jadi hal yang paling mungkin adalah, Anderson sendiri yang telah ‘menendang’ saya keluar dari daftar teman-temannya.
Oh, sekali lagi nasib…nasib… Apakah ia sudah tidak sudi punya teman dari Indonesia meskipun hanya ‘teman’ di dunia maya? Saya hanya menebak-nebak. Saya kira, saya tidak punya alasan yang membuatnya marah sehingga ia mendepak saya. Menulis di ‘wall’ nya saja saya cuma sekali. Itupun hanya bilang ‘I love your show.”
Saya jadi sensitif. Adakah yang salah pada diri saya? Apakah karena saya seorang Indonesia? Benarkah kemudian ia curiga bahwa saya adalah juga seorang tukang teror yang ingin menjadikannya target? Atau seorang mata-mata dari dunia ketiga yang berkamuflase di FB untuk mencari akses demi mendapatkan berbagai informasi penting dari seorang wartawan negara adidaya (halah…sok ngerti intel lu, baru baca buku CIA ya?). Berlebihan!!
Lantas apa mas Anderson? Tampang saya juga kayaknya tidak jelek-jelek amat. Jadi anda tidak perlu malu punya teman keren seperti saya. Tapi, kenapa anda mencoret saya dari daftar teman-teman anda? Kalau memang benar anda melakukan itu, sungguh saya begitu tersinggung. Juga patah hati!*
SAVED BY A SPIDER
Kapan sih enaknya bercinta? Pagi, siang, sore atau malam ketika anak-anak sudah lelap? Jaman dulu, ketika kami masih cuma berdua, bermesraan dimana saja dan kapan saja tidak masalah selama masih berada di dalam rumah sendiri. Bisa di kamar, di ruang tamu, di depan tv, di kamar mandi bahkan di dapur…
Charlie, suamiku senang sekali menggangguku saat aku sedang bekerja di dapur, mencuci piring misalnya. Ia bisa saja tiba-tiba telah berada di belakangku tanpa aku ketahui sudah berapa lama ia berdiri di situ. Biasanya ketika aku sudah menyadari keberadaannya, dia akan memelukku erat-erat dari belakang.
Semakin aku meronta, semakin kuat ia memelukku. Kemudian, seperti kucing mencari mangsa, ia mulai menciumi bagian belakang telingaku, terus sampai ke leher. Tangan kirinya melingkar di pinggangku, sementara tangan kanannya bergerilya dari bagian atas sampai bawah tubuhku. Dengan jemari yang kadang masih berlepotan sabun, aku berusaha menghentikannya dengan satu colekan menggelitik di pinggangnya. Namun seringkali itu tidak berhasil. Tangannya yang kekar lebih kuat dari rontaanku yang paling keras sekalipun. Dan terakhir, ia selalu melakukan hal yang paling susah kuhindari, memelorotkan celana pendekku, ha…ha…ha…
Tidak terasa waktu berjalan. Tahu-tahu saja rumahku sudah diisi oleh begundal-begundal kecil. Dua-duanya perempuan. Beda umur antara si kakak dan si adik hanya berjarak setahun. Kata orang Jawa, aku kesundulan. Apapun itu, yang pasti aku sungguh sangat kerepotan mengasuh dua bayi sekaligus, karena aku berkeras tidak ingin menggunakan jasa pengasuh anak.
Buatku, seorang baby sitter tidak lebih dari seorang pembantu rumah tangga biasa, yang dipakaikan seragam berwarna putih, pink, biru atau hijau tosca. Rata-rata mereka minim pengetahuan soal merawat bayi dan yang paling nyebelin, mereka seringkali mengabaikan masalah kebersihan. Ini cuma pendapatku lho dan kebetulan aku pernah mengalaminya sendiri.
Dengan adanya kesibukan baru ini, otomatis waktuku bermesraan dengan Charlie berkurang. Banget...! Paling banter kami hanya bisa kiss goodbye sebelum ia berangkat ke kantor. Seringkali ketika kami sedang asik masyuk berduaan, tiba-tiba saja terdengar suara rengekan si kecil mencari perhatian. Ya…nggak jadi lagi deh…Kadang-kadang, rasanya kangen juga pengen ngerasain saat masih berduaan saja di rumah.
Kini kedua putri kecilku sudah bisa berjalan dan bermain bersama. Suatu hari, si Kakak berteriak sambil berlari keluar dari dalam kamar. “Ma, ada aba-aba…!”katanya. Sejenak aku tertegun, tidak mengerti apa yang diucapkannya. “Aba-aba ma…”katanya lagi sambil tangannya menunjuk ke arah kamar tidur. Perlahan aku menuntunnya kembali ke dalam kamar, “aba-aba apa sih kak?” tanyaku. Ia lalu mendongakkan kepalanya dan tangannya kembali diangkat keatas dan diarahkan ke sudut kamar, tepat di samping jendela. O, ternyata ada sarang laba-laba di situ, lengkap dengan penghuninya dengan ukuran tubuh yang lumayan besar. Aku tertawa, “iya kak nanti papa bersihin ya, soalnya mama tidak sampai, terlalu tinggi.”
Ketika Charlie tiba di rumah, kusampaikan padanya perihal kejadian tadi siang. Maka keesokan paginya ia pun menyiapkan pembersih debu bergagang panjang untuk menyingkirkan sarang laba-laba itu. Aku ikut membantunya dengan membawakan kursi agar ia tidak terlalu sulit menjangkau langit-langit. “Kakak, adik…mama sama papa mau bersihin sarang laba-laba ya…Kalian main di sini, tidak masuk ke dalam kamar ya, nanti kena debu,” ujarku pada anak-anak.
Si bungsu sudah memperlihatkan wajah ingin menangis. Buru-buru aku menjelaskan padanya bahwa aku tidak akan pergi ke luar rumah, hanya akan berada beberapa saat di dalam kamar. Untunglah si kecil mengerti dan wajahnya ceria kembali.
Aku pun masuk ke dalam kamar. Kulihat Charlie sudah berdiri di atas bangku. Ia memegang kemoceng bergagang panjang. “Ssst…sini sebentar,” Charlie memanggilku setengah berbisik. Aku tidak mendengar. “Ssst…sini dulu sebentar…” kali ini suaranya sedikit dikeraskan, tapi masih dengan nada berbisik. “Ada apa sih pake bisik-bisik segala…”sahutku.
“Tutup pintunya.”
“Sudah.”
“Bukan pintu depan!”
“Pintu yang mana?”
“Pintu kamar ini...”
“Ngapain sih pake ditutup segala…?”
“Udah deh, tinggal tutup aja, banyak amat pertanyaannya.”
Masih tidak mengerti, aku menuruti permintaannya menutup pintu kamar perlahan-lahan. “Kunci sekalian!” lanjut Charlie, masih dengan volume suara dikecilkan. Begitu selesai aku menutup pintu, tahu-tahu ia sudah berada di belakangku dan memelukku erat-erat. Entah dilempar kemana kemoceng yang barusan dipegangnya. Belum sadar benar apa yang sedang dilakukannya, tiba-tiba saja ia sudah mengangkatku ke atas tempat tidur lalu menghujaniku dengan kecupan dan pelukan. Spontanitas bercinta yang rasanya sudah lama sekali tidak kami lakukan. Sebuah kejutan manis di pagi hari buatku, tentunya.
*
“Kakak…adik..., mama sama papa mau bersihin kamar dulu ya, sarang laba-labanya udah banyak tuh…”
“Iya maaa…”
( Sejak hari itu, kami sudah punya trik khusus untuk bercinta kapan saja tanpa harus diganggu dua orang malaikat kecilku itu )
PS: untuk para ibu muda yang sering kerepotan mengurus rumah tangga :)
Charlie, suamiku senang sekali menggangguku saat aku sedang bekerja di dapur, mencuci piring misalnya. Ia bisa saja tiba-tiba telah berada di belakangku tanpa aku ketahui sudah berapa lama ia berdiri di situ. Biasanya ketika aku sudah menyadari keberadaannya, dia akan memelukku erat-erat dari belakang.
Semakin aku meronta, semakin kuat ia memelukku. Kemudian, seperti kucing mencari mangsa, ia mulai menciumi bagian belakang telingaku, terus sampai ke leher. Tangan kirinya melingkar di pinggangku, sementara tangan kanannya bergerilya dari bagian atas sampai bawah tubuhku. Dengan jemari yang kadang masih berlepotan sabun, aku berusaha menghentikannya dengan satu colekan menggelitik di pinggangnya. Namun seringkali itu tidak berhasil. Tangannya yang kekar lebih kuat dari rontaanku yang paling keras sekalipun. Dan terakhir, ia selalu melakukan hal yang paling susah kuhindari, memelorotkan celana pendekku, ha…ha…ha…
Tidak terasa waktu berjalan. Tahu-tahu saja rumahku sudah diisi oleh begundal-begundal kecil. Dua-duanya perempuan. Beda umur antara si kakak dan si adik hanya berjarak setahun. Kata orang Jawa, aku kesundulan. Apapun itu, yang pasti aku sungguh sangat kerepotan mengasuh dua bayi sekaligus, karena aku berkeras tidak ingin menggunakan jasa pengasuh anak.
Buatku, seorang baby sitter tidak lebih dari seorang pembantu rumah tangga biasa, yang dipakaikan seragam berwarna putih, pink, biru atau hijau tosca. Rata-rata mereka minim pengetahuan soal merawat bayi dan yang paling nyebelin, mereka seringkali mengabaikan masalah kebersihan. Ini cuma pendapatku lho dan kebetulan aku pernah mengalaminya sendiri.
Dengan adanya kesibukan baru ini, otomatis waktuku bermesraan dengan Charlie berkurang. Banget...! Paling banter kami hanya bisa kiss goodbye sebelum ia berangkat ke kantor. Seringkali ketika kami sedang asik masyuk berduaan, tiba-tiba saja terdengar suara rengekan si kecil mencari perhatian. Ya…nggak jadi lagi deh…Kadang-kadang, rasanya kangen juga pengen ngerasain saat masih berduaan saja di rumah.
Kini kedua putri kecilku sudah bisa berjalan dan bermain bersama. Suatu hari, si Kakak berteriak sambil berlari keluar dari dalam kamar. “Ma, ada aba-aba…!”katanya. Sejenak aku tertegun, tidak mengerti apa yang diucapkannya. “Aba-aba ma…”katanya lagi sambil tangannya menunjuk ke arah kamar tidur. Perlahan aku menuntunnya kembali ke dalam kamar, “aba-aba apa sih kak?” tanyaku. Ia lalu mendongakkan kepalanya dan tangannya kembali diangkat keatas dan diarahkan ke sudut kamar, tepat di samping jendela. O, ternyata ada sarang laba-laba di situ, lengkap dengan penghuninya dengan ukuran tubuh yang lumayan besar. Aku tertawa, “iya kak nanti papa bersihin ya, soalnya mama tidak sampai, terlalu tinggi.”
Ketika Charlie tiba di rumah, kusampaikan padanya perihal kejadian tadi siang. Maka keesokan paginya ia pun menyiapkan pembersih debu bergagang panjang untuk menyingkirkan sarang laba-laba itu. Aku ikut membantunya dengan membawakan kursi agar ia tidak terlalu sulit menjangkau langit-langit. “Kakak, adik…mama sama papa mau bersihin sarang laba-laba ya…Kalian main di sini, tidak masuk ke dalam kamar ya, nanti kena debu,” ujarku pada anak-anak.
Si bungsu sudah memperlihatkan wajah ingin menangis. Buru-buru aku menjelaskan padanya bahwa aku tidak akan pergi ke luar rumah, hanya akan berada beberapa saat di dalam kamar. Untunglah si kecil mengerti dan wajahnya ceria kembali.
Aku pun masuk ke dalam kamar. Kulihat Charlie sudah berdiri di atas bangku. Ia memegang kemoceng bergagang panjang. “Ssst…sini sebentar,” Charlie memanggilku setengah berbisik. Aku tidak mendengar. “Ssst…sini dulu sebentar…” kali ini suaranya sedikit dikeraskan, tapi masih dengan nada berbisik. “Ada apa sih pake bisik-bisik segala…”sahutku.
“Tutup pintunya.”
“Sudah.”
“Bukan pintu depan!”
“Pintu yang mana?”
“Pintu kamar ini...”
“Ngapain sih pake ditutup segala…?”
“Udah deh, tinggal tutup aja, banyak amat pertanyaannya.”
Masih tidak mengerti, aku menuruti permintaannya menutup pintu kamar perlahan-lahan. “Kunci sekalian!” lanjut Charlie, masih dengan volume suara dikecilkan. Begitu selesai aku menutup pintu, tahu-tahu ia sudah berada di belakangku dan memelukku erat-erat. Entah dilempar kemana kemoceng yang barusan dipegangnya. Belum sadar benar apa yang sedang dilakukannya, tiba-tiba saja ia sudah mengangkatku ke atas tempat tidur lalu menghujaniku dengan kecupan dan pelukan. Spontanitas bercinta yang rasanya sudah lama sekali tidak kami lakukan. Sebuah kejutan manis di pagi hari buatku, tentunya.
*
“Kakak…adik..., mama sama papa mau bersihin kamar dulu ya, sarang laba-labanya udah banyak tuh…”
“Iya maaa…”
( Sejak hari itu, kami sudah punya trik khusus untuk bercinta kapan saja tanpa harus diganggu dua orang malaikat kecilku itu )
PS: untuk para ibu muda yang sering kerepotan mengurus rumah tangga :)
FORBIDDEN LOVE
There's a beautiful place...
Behind the hill
She wants to see it
But no one is around
She dreams night and day
Hoping a miracle...
She cries a river
Nobody cares
There's a beautiful place...
Behind the hill
Wishing someone she loves
Will take her there...
Behind the hill
She wants to see it
But no one is around
She dreams night and day
Hoping a miracle...
She cries a river
Nobody cares
There's a beautiful place...
Behind the hill
Wishing someone she loves
Will take her there...
SEBOTOL PARFUM
---Tapi ada juga ‘mbak-mbak’ yang asik mengusap-usap anjing majikan, atau sibuk mengejar-ngejar anak si tuan yang tidak bisa diam----
Bila bukan karena keperluan yang sangat mendesak, saya mungkin tidak akan pernah menginjakkan kaki di negeri kecil ini. Negeri yang konon luasnya hanya sepertiga pulau Jawa. Negeri yang dipenuhi oleh gedung-gedung tinggi. Negeri yang katanya ‘surga belanja’ (buat saya, lebih surga Manggadua dan Tanabang, sesuai dengan kantong). Negeri yang bersih, teratur dan rakyatnya yang sangat disiplin (di mata saya mereka seperti robot hidup, jarang ada berita maling ayam dihukum lima tahun, koruptor dihukum satu tahun...nggak seru deh...)
Namun di sisi lain, saya senang bisa melihat dari dekat kehidupan di Singapura. Di mana para pejalan kaki begitu dihormati. Tidak ada yang merokok sembarangan apalagi membuang ludah seenaknya. Toilet umum bersih dan selalu tersedia tissue.
Antri di kasir, antri menunggu taksi, antri di stasiun kereta dan di halte bus. Tidak ada yang main serobot. Berada dimana pun saya selalu dibantu. Seperti dibukakan pintu, diberi jalan lebih dulu saat di lift. Pendeknya diberi prioritas di tempat umum, karena saya membawa ibu yang duduk di kursi roda.
Di beberapa tempat, khususnya di Orchad Road, saya melihat orang-orang Indonesia berkeliaran. Mereka menjinjing tas-tas belanjaan. Tapi ada juga ‘mbak-mbak’ yang asik mengusap-usap anjing majikan, atau sibuk mengejar-ngejar anak si tuan yang tidak bisa diam. Ada benarnya juga beberapa tulisan yang pernah saya baca mengenai orang Indonesia di negeri ini. Sekarang saya sudah lihat sendiri.
Dua minggu yang lalu, kali kedua saya mengunjungi Singapura dalam dua bulan terakhir. Lumayan, sudah bisa menikmati berada di negeri asing. Meskipun udaranya panas seperti Jakarta, paling tidak bersih dari asap kendaraan yang berwarna hitam dan berbau menyengat.
Satu hari rasanya cukup untuk berkeliling di pusat kota. Mampir ke pusat syaraf Tan Tock Seng, Bugis Village, Botanical Garden, minum teh di Raffless Hotel (salah satu dari sedikit bangunan tua yang ada di Singapore), melihat-lihat peradaban manusia di Asean Museum, menyusuri Orchad Road. Tidak mengunjungi Marlion karena masih dalam tahap diperbaiki setelah tersambar petir.
Ketika tiba waktunya pulang. Tidak banyak yang saya bawa, karena saya hanya dua hari situ. Beberapa buku dan cd favorit yang tidak saya temukan di tanah air, saya beli di Wheelock. Salah satunya buku tentang beragam sejarah kebudayaan Indonesia yang penuh dengan foto-foto kuno. Saya tidak pernah melihatnya dalam bentuk edisi Bahasa Indonesia. Semua barang itu saya masukkan ke dalam koper kecil di bagasi. Hanya paspor dan sedikit uang buat taksi di Jakarta, saya masukkan dalam tas kecil yang diselempangkan ke bahu.
Sebelum masuk ke ruang tunggu, seperti biasa penumpang harus di screening terlebih dahulu. Saya lolos dengan aman, karena memang saya tidak membawa barang yang aneh-aneh. Tapi di depan saya, sekelompok perempuan muda, meriung di hadapan petugas bandara. Salah satu dari mereka kelihatan seperti sedang memohon-mohon kepada petugas.
Saya masih tidak mengerti kenapa perempuan-perempuan itu begitu memelas, sampai akhirnya mata saya tertuju pada benda-benda yang berada di meja petugas. Saya lihat di situ ada beberapa botol besar sabun cair, sekitar tiga buah botol dengan ukuran sedang; nampaknya pelembab untuk tubuh. Juga ada parfum-parfum dalam botol besar dan kecil.
Sementara itu, petugas lainnya masih membongkar satu lagi tas plastik besar milik si mbak tadi. Ternyata mereka membawa serta kantong-kantong plastik lusuh, yang entah isinya apa ke dalam kabin pesawat. Kontras dengan penumpang SQ yang lain.
Keributan kecil itu masih berlangsung. Petugas screening yang juga perempuan, dengan wajah dingin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesekali ia berujar tanpa ekspresi, ”Tak bisa makcik, tak boleh.”
“Mosok ndak boleh sih bu…cuma begituan aja…saya kan bawa jaoh-jaoh dari sini…” Petugas hanya menatap si mbak dan mata si mbak tidak lepas dari botol-botol yang ada di hadapannya. Ia terus mengoceh perihal keberatannya atas penahanan barang-barang miliknya itu.
Sesekali si mbak membungkukkan tubuhnya, seperti sedang menyembah sang petugas. Kedua tangannya ia lipat di dadanya, layaknya sedang berdoa. Merasa permintaannya tidak digubris, akhirnta ia berteriak,” Duuuh…tolong dong Bu…mosok ndak boleh…?”
Ekspresi petugas tidak berubah. Si mbak lantas berteriak lebih keras lagi, ia mencoba menawar si petugas, “Kalo gitu satu aja deh bu yang saya bawa…satuuuu aja…” Si mbak nampak mulai lepas kendali. Kakinya dihentak-hentakkan ke lantai. Ia mengeluarkan suara seperti orang menangis, “Mosok semuanya ndak boleh dibawa…?” Jawaban datar petugas kembali terdengar,” Tak bisa makcik…”
“Ampuuun….Gusti Allah…mosok satu juga ndak boleh? Satuuuu aja Bu, demi Allah…satu aja…!” Ia merengek tak putus-putus, sembari jemarinya menggenggam sebuah parfum dalam botol mungil. Parfum yang mungkin akan diberikannya kepada sang kekasih di kampung halaman. Sebab hanya benda itulah yang begitu ia perjuangkan untuk dibawa, dibanding benda-benda lainnya.
Dan petugas pun hilang kesabaran, si mbak diminta meletakkan parfum yang dipegangnya, lalu beserta teman-temannya lantas setengah dipaksa digiring ke konter berikutnya, boarding pass. Tapi sebelum itu, di depan kepala saya, dan juga sepasang mata milik si mbak, petugas meraup semua botol itu dan membuangnya ke keranjang sampah!
Hasil keringat si mbak selama menjadi kuli di negeri orang, ternyata ada yang harus berakhir di sebuah tong berwarna kelabu di bandara Changi. Saya ingin membantu, tapi tidak berdaya. Siapa yang berani melawan aturan di negeri itu?
Hanya satu yang bisa saya perbuat pada saat itu, membisiki si mbak, “Lain kali barang-barang macam begitu dimasukkan ke bagasi saja mbak, jangan dibawa ke dalam kabin.” Si mbak menjawab, dengan nada yang begitu sedih, “Wong saya ndak tau mbak…ndak ada yang kasih tau…ndak ada yang kasih tau…” ujarnya berulang-ulang. Rasa kecewa begitu jelas terlihat di wajahnya.
Ada secercah air hangat di kedua sudut mata saya. Untunglah ia tidak sampai mengalir keluar. Tidak ada yang memberi tahu si mbak bahwa segala macam bentuk cairan, senyawa berbau dan entah apalagi, tidak boleh dibawa ke dalam pesawat.
Kalau ditotal, semua benda yang dibuang ke tempat sampah tadi nampaknya tidak sampai ratusan dollar. Tapi, ketika bayangan untuk memberi oleh-oleh bagi orang-orang yang disayanginya buyar, mungkin tidak ada yang lebih menyakitkan selain menyaksikan benda-benda tersebut dilempar dengan kasar ke tempat sampah.
Sebotol parfum dari negeri seberang, bilakah engkau tiba di tangan kekasih hati…
*oleh-oleh dari Singapore, 23-26 April ‘09
Bila bukan karena keperluan yang sangat mendesak, saya mungkin tidak akan pernah menginjakkan kaki di negeri kecil ini. Negeri yang konon luasnya hanya sepertiga pulau Jawa. Negeri yang dipenuhi oleh gedung-gedung tinggi. Negeri yang katanya ‘surga belanja’ (buat saya, lebih surga Manggadua dan Tanabang, sesuai dengan kantong). Negeri yang bersih, teratur dan rakyatnya yang sangat disiplin (di mata saya mereka seperti robot hidup, jarang ada berita maling ayam dihukum lima tahun, koruptor dihukum satu tahun...nggak seru deh...)
Namun di sisi lain, saya senang bisa melihat dari dekat kehidupan di Singapura. Di mana para pejalan kaki begitu dihormati. Tidak ada yang merokok sembarangan apalagi membuang ludah seenaknya. Toilet umum bersih dan selalu tersedia tissue.
Antri di kasir, antri menunggu taksi, antri di stasiun kereta dan di halte bus. Tidak ada yang main serobot. Berada dimana pun saya selalu dibantu. Seperti dibukakan pintu, diberi jalan lebih dulu saat di lift. Pendeknya diberi prioritas di tempat umum, karena saya membawa ibu yang duduk di kursi roda.
Di beberapa tempat, khususnya di Orchad Road, saya melihat orang-orang Indonesia berkeliaran. Mereka menjinjing tas-tas belanjaan. Tapi ada juga ‘mbak-mbak’ yang asik mengusap-usap anjing majikan, atau sibuk mengejar-ngejar anak si tuan yang tidak bisa diam. Ada benarnya juga beberapa tulisan yang pernah saya baca mengenai orang Indonesia di negeri ini. Sekarang saya sudah lihat sendiri.
Dua minggu yang lalu, kali kedua saya mengunjungi Singapura dalam dua bulan terakhir. Lumayan, sudah bisa menikmati berada di negeri asing. Meskipun udaranya panas seperti Jakarta, paling tidak bersih dari asap kendaraan yang berwarna hitam dan berbau menyengat.
Satu hari rasanya cukup untuk berkeliling di pusat kota. Mampir ke pusat syaraf Tan Tock Seng, Bugis Village, Botanical Garden, minum teh di Raffless Hotel (salah satu dari sedikit bangunan tua yang ada di Singapore), melihat-lihat peradaban manusia di Asean Museum, menyusuri Orchad Road. Tidak mengunjungi Marlion karena masih dalam tahap diperbaiki setelah tersambar petir.
Ketika tiba waktunya pulang. Tidak banyak yang saya bawa, karena saya hanya dua hari situ. Beberapa buku dan cd favorit yang tidak saya temukan di tanah air, saya beli di Wheelock. Salah satunya buku tentang beragam sejarah kebudayaan Indonesia yang penuh dengan foto-foto kuno. Saya tidak pernah melihatnya dalam bentuk edisi Bahasa Indonesia. Semua barang itu saya masukkan ke dalam koper kecil di bagasi. Hanya paspor dan sedikit uang buat taksi di Jakarta, saya masukkan dalam tas kecil yang diselempangkan ke bahu.
Sebelum masuk ke ruang tunggu, seperti biasa penumpang harus di screening terlebih dahulu. Saya lolos dengan aman, karena memang saya tidak membawa barang yang aneh-aneh. Tapi di depan saya, sekelompok perempuan muda, meriung di hadapan petugas bandara. Salah satu dari mereka kelihatan seperti sedang memohon-mohon kepada petugas.
Saya masih tidak mengerti kenapa perempuan-perempuan itu begitu memelas, sampai akhirnya mata saya tertuju pada benda-benda yang berada di meja petugas. Saya lihat di situ ada beberapa botol besar sabun cair, sekitar tiga buah botol dengan ukuran sedang; nampaknya pelembab untuk tubuh. Juga ada parfum-parfum dalam botol besar dan kecil.
Sementara itu, petugas lainnya masih membongkar satu lagi tas plastik besar milik si mbak tadi. Ternyata mereka membawa serta kantong-kantong plastik lusuh, yang entah isinya apa ke dalam kabin pesawat. Kontras dengan penumpang SQ yang lain.
Keributan kecil itu masih berlangsung. Petugas screening yang juga perempuan, dengan wajah dingin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesekali ia berujar tanpa ekspresi, ”Tak bisa makcik, tak boleh.”
“Mosok ndak boleh sih bu…cuma begituan aja…saya kan bawa jaoh-jaoh dari sini…” Petugas hanya menatap si mbak dan mata si mbak tidak lepas dari botol-botol yang ada di hadapannya. Ia terus mengoceh perihal keberatannya atas penahanan barang-barang miliknya itu.
Sesekali si mbak membungkukkan tubuhnya, seperti sedang menyembah sang petugas. Kedua tangannya ia lipat di dadanya, layaknya sedang berdoa. Merasa permintaannya tidak digubris, akhirnta ia berteriak,” Duuuh…tolong dong Bu…mosok ndak boleh…?”
Ekspresi petugas tidak berubah. Si mbak lantas berteriak lebih keras lagi, ia mencoba menawar si petugas, “Kalo gitu satu aja deh bu yang saya bawa…satuuuu aja…” Si mbak nampak mulai lepas kendali. Kakinya dihentak-hentakkan ke lantai. Ia mengeluarkan suara seperti orang menangis, “Mosok semuanya ndak boleh dibawa…?” Jawaban datar petugas kembali terdengar,” Tak bisa makcik…”
“Ampuuun….Gusti Allah…mosok satu juga ndak boleh? Satuuuu aja Bu, demi Allah…satu aja…!” Ia merengek tak putus-putus, sembari jemarinya menggenggam sebuah parfum dalam botol mungil. Parfum yang mungkin akan diberikannya kepada sang kekasih di kampung halaman. Sebab hanya benda itulah yang begitu ia perjuangkan untuk dibawa, dibanding benda-benda lainnya.
Dan petugas pun hilang kesabaran, si mbak diminta meletakkan parfum yang dipegangnya, lalu beserta teman-temannya lantas setengah dipaksa digiring ke konter berikutnya, boarding pass. Tapi sebelum itu, di depan kepala saya, dan juga sepasang mata milik si mbak, petugas meraup semua botol itu dan membuangnya ke keranjang sampah!
Hasil keringat si mbak selama menjadi kuli di negeri orang, ternyata ada yang harus berakhir di sebuah tong berwarna kelabu di bandara Changi. Saya ingin membantu, tapi tidak berdaya. Siapa yang berani melawan aturan di negeri itu?
Hanya satu yang bisa saya perbuat pada saat itu, membisiki si mbak, “Lain kali barang-barang macam begitu dimasukkan ke bagasi saja mbak, jangan dibawa ke dalam kabin.” Si mbak menjawab, dengan nada yang begitu sedih, “Wong saya ndak tau mbak…ndak ada yang kasih tau…ndak ada yang kasih tau…” ujarnya berulang-ulang. Rasa kecewa begitu jelas terlihat di wajahnya.
Ada secercah air hangat di kedua sudut mata saya. Untunglah ia tidak sampai mengalir keluar. Tidak ada yang memberi tahu si mbak bahwa segala macam bentuk cairan, senyawa berbau dan entah apalagi, tidak boleh dibawa ke dalam pesawat.
Kalau ditotal, semua benda yang dibuang ke tempat sampah tadi nampaknya tidak sampai ratusan dollar. Tapi, ketika bayangan untuk memberi oleh-oleh bagi orang-orang yang disayanginya buyar, mungkin tidak ada yang lebih menyakitkan selain menyaksikan benda-benda tersebut dilempar dengan kasar ke tempat sampah.
Sebotol parfum dari negeri seberang, bilakah engkau tiba di tangan kekasih hati…
*oleh-oleh dari Singapore, 23-26 April ‘09
ROCK LIKE NEVER BEFORE?
Penonton perempuan juga banyak. Mereka memakai celana pendek, atasan tank top, sepatu high heels dan membawa handbag. Saya sempat ragu, jangan-jangan saya salah masuk ke arena panggungnya Backstreet Boys, ataukah sedang ada Midnight Sale di Ancol?
Tidak banyak konser musik yang pernah saya saksikan. Konser pertama yang saya tonton adalah Europe. Group musik rock dari Swedia yang terdiri dari lima personil yaitu Joey Tempest, Mic Michaeli, John Leven, Kee Marcello dan Ian Haughland. Jaman itu lagu The Final Countdown cukup ngetop di Jakarta. Lagu-lagu lain seperti On Broken Wings, Cherokee, Rock The Night juga lumayan akrab di telinga.
Diadakan di Ancol, kalau tidak salah di arena Drive In. Tahunnya, saya benar-benar lupa, mungkin antara tahun 1990-1991. Harga tiketnya 15 ribu, masih terasa mahal buat mahasiswa seperti saya. Tapi, kapan lagi melihat aksi Joey Tempest dan kawan-kawan. Konser Europe saat itu tidak terlalu dipadati pengunjung. Saya dengan bebas bisa bergerak menikmati alunan musik dan tampang keren empat cowok bule itu. Penonton tertib dan hampir setiap lagu mereka ikut bernyanyi. Kelihatanlah kalau mereka memang ngefans sama group ini.
Konser musik berikutnya yang saya tonton adalah Metallica. Mungkin ini adalah yang paling heboh. Mereka manggung di Stadion Lebak Bulus, 10 April 1993. Waktu itu harga tiketnya kalau tidak salah di kisaran 30 ribu-150 ribu perak. Saya beli yang kelas festival, dibandrol 45 ribu. Buat kantong mahasiswa, dulu segitu itu rasanya mahal banget. Ya, tapi kapan lagi nonton Metallica…sebab selain musim panas dan hujan, di negeri ini sekarang juga ada musim bom. Jadi belum tentu mereka mau main lagi di Jakarta.
Rata-rata penonton memang lebih banyak laki-laki. Ada juga perempuan seperti saya, tapi jumlahnya sedikit sekali. Pakaian mereka kebanyakan kaus bergambar group-group metal. Rambut gondrong, tangan dan leher berhias aseoris layaknya penyanyi rock. Penonton perempuan kurang lebih sama penampilannya. Jauh dari kesan feminim. Iyalah…masak nonton musik rock, pakai celana pendek, atasan tanktop, sepatu high heels dan bawa handbag?
Sound system yang bagus, penonton yang antusias membuat suasana konser begitu terasa. Apalagi saat lagu The Unforgiven dimainkan, lampu digelapkan, semua penonton bernyanyi sambil mengangkat tangan dan menyalakan korek api. Rasanya merinding, menyaksikan Metallica sendiri yang beraksi depan saya.
Ketika Master of Puppets, Wherever I May Roam, And Justice For All dan seterusnya, dilantunkan oleh suara khas Hetfield, para penonton tidak ketinggalan ber-head banger. Meskipun sempat terjadi aksi dorong mendorong, tapi tidak sampai terjadi kekisruhan. Suguhan yang sungguh solid dari Hetfield, Hammet, Ulrich dan Newsted. Dari lagu pertama sampai lagu terakhir, penonton tidak henti ikut bernyanyi.
Puas rasanya melihat penampilan mereka berempat. Posisi saya berada tepat di depan panggung. Setiap tetes keringat yang keluar dari para personil bisa saya lihat dengan jelas. Bahkan Charles berhasil mendapatkan pick gitar berwarna hijau yang dilempar Hetfield ke arah penonton.
Saking asiknya larut dalam suasana konser itu, bahkan saya tidak tahu, bahwa di pintu masuk stadion telah terjadi keributan akibat calon penonton yang marah tidak kebagian tiket, tapi ingin menerobos masuk. Saya sempat melihat kepulan asap dari arah pintu utama stadion. Untunglah api tidak membesar.
Gara-gara kerusuhan itu, saya bersama empat orang teman lainnya terpaksa jalan kaki kadang setengah berlari, dari stadion Lebak Bulus sampai ke pertigaan Pasar Minggu. Tidak ada kendaraan yang berani melintas, karena sepanjang jalan sudah dijaga penuh oleh polisi dan prajurit. Dan selama dalam perjalanan pulang itu, bokong dan kaki saya dua kali kena pentungan tentara…hahaa…haa…
Konser musik yang ketiga adalah Fire House. Manggung di Stadion Sumantri Brojonegoro, Kuningan, kalau tidak salah antara tahun 1996-1997. Nah, saya sudah jadi wartawan. Lumayan dapat akses ke back stage dan melihat dari dekat penampilan mereka. Penonton Fire House hampir sama dengan karakter penonton yang saya temui dalam konser Europe maupun Metallica. Rata-rata berpakaian hitam, berambut gondrong dst.
Dengan lagu-lagu sweet rocknya, Bill Leverty, CJ Snare, Perry Richardson dan Michael Foster bisa membawa penontonnya menikmati lagu-lagu mereka. Lazimnya dalam sebuah pertunjukan konser rock, penonton dengan bebasnya ikut bernyanyi. Siapa sih yang tidak tahu lagu Love of A Lifetime, I Live My Live For You, You Are My Religion?
Penampilan Mr. Big di Acol, Pantai Carnaval adalah pertunjukan musik pertama yang saya datangi setelah 12 tahun absen. Saya tidak tahu, kenapa sejak memasuki arena panggung, terasa ada yang janggal. Para penonton saya perhatikan kebanyakan para ABG. Penonton perempuan juga banyak. Mereka memakai celana pendek, atasan tank top, sepatu high heels dan membawa handbag. Saya sempat ragu, jangan-jangan saya salah masuk ke arena panggungnya Backstreet Boys, ataukah sedang ada Midnight Sale di Ancol?
Di konser Mr. Big ini, saya tidak merasakan aura seperti yang pernah saya rasakan di pertunjukan group rock sebelumnya. Apakah memang sudah seperti ini setelah sekian lama saya tidak melihat pertunjukkan musik, sungguh tidak mengerti.
Lagu pertama adalah Daddy, Brother, Lover, Little Boy. Eric Martin membawakannya dengan baik. Tapi tidak didukung oleh sound system yang beres. Treble terdengar begitu nyaring, sementara dentuman bas tidak terasa getarannya. Saya masih berharap di lagu berikutnya akan ada perbaikan. Ternyata tidak. Sampai lagu terakhir sound system masih tetap begitu. Kasihan sekali penampilan solo Paul Gilbert yang kemudian berjam-in dengan Billy Sheehan, tidak terasa gregetnya.
Kemudian penonton…kok tidak kedengaran suaranya mengikuti Martin bernyanyi? Sebenarnya pada tahu Mr. Big nggak yaa…Colorado Bulldog, Take Over, Green-Tinted Sixties Mind dibawakan oleh mereka dengan semangat, tapi saya perhatikan penonton kok banyak yang diam saja. Tidak ada yang menggerakkan tubuh mengikuti irama, pun hanya beberapa gelintir yang ikut menyanyi.
Tapi ketika To Be With You, Goin’ Where The Wind Blows dan Take My Heart When You dikeluarkan, barulah terdengar ramai suara penonton. Hmm… saya paham sekarang, mereka ini pasti penggemar cd kompilasi Love Songs yang banyak beredar di pasar, hahaaa…Pantas saja suasananya berbeda sekali dengan yang saya rasakan ketika menonton konser-konser musik rock sebelumnya.
Kesimpulannya adalah, saya kecewa dengan penyelenggara konser Mr. Big kemarin. Konser itu adalah konser reuni antara Eric Martin, Paul Gilbert, Billy Sheehan dan Pat Torpey. Karena sebelumnya Paul Gilbert sudah meninggalkan Mr. Big di tahun 1999 silam. Namun kenapa panitia tidak menyediakan sound system yang representatif untuk gitaris sekelas Paul Gilbert? Saya tidak tahu. Bahkan betotan bass Billy Sheehan yang mestinya mantap pun jadi terdengar mono. Sementara itu, di sekitar lokasi dimana-mana terpampang tulisan 'Rock! Like Never Before!'. Memang benar, baru sekali ini saya melihat pertunjukan musik yang model begini. Menonton konser Mr. Big di Pantai Carnaval kemarin, ibarat mendengarkan kaset kusut dari sebuah mini compo butut.
Tidak banyak konser musik yang pernah saya saksikan. Konser pertama yang saya tonton adalah Europe. Group musik rock dari Swedia yang terdiri dari lima personil yaitu Joey Tempest, Mic Michaeli, John Leven, Kee Marcello dan Ian Haughland. Jaman itu lagu The Final Countdown cukup ngetop di Jakarta. Lagu-lagu lain seperti On Broken Wings, Cherokee, Rock The Night juga lumayan akrab di telinga.
Diadakan di Ancol, kalau tidak salah di arena Drive In. Tahunnya, saya benar-benar lupa, mungkin antara tahun 1990-1991. Harga tiketnya 15 ribu, masih terasa mahal buat mahasiswa seperti saya. Tapi, kapan lagi melihat aksi Joey Tempest dan kawan-kawan. Konser Europe saat itu tidak terlalu dipadati pengunjung. Saya dengan bebas bisa bergerak menikmati alunan musik dan tampang keren empat cowok bule itu. Penonton tertib dan hampir setiap lagu mereka ikut bernyanyi. Kelihatanlah kalau mereka memang ngefans sama group ini.
Konser musik berikutnya yang saya tonton adalah Metallica. Mungkin ini adalah yang paling heboh. Mereka manggung di Stadion Lebak Bulus, 10 April 1993. Waktu itu harga tiketnya kalau tidak salah di kisaran 30 ribu-150 ribu perak. Saya beli yang kelas festival, dibandrol 45 ribu. Buat kantong mahasiswa, dulu segitu itu rasanya mahal banget. Ya, tapi kapan lagi nonton Metallica…sebab selain musim panas dan hujan, di negeri ini sekarang juga ada musim bom. Jadi belum tentu mereka mau main lagi di Jakarta.
Rata-rata penonton memang lebih banyak laki-laki. Ada juga perempuan seperti saya, tapi jumlahnya sedikit sekali. Pakaian mereka kebanyakan kaus bergambar group-group metal. Rambut gondrong, tangan dan leher berhias aseoris layaknya penyanyi rock. Penonton perempuan kurang lebih sama penampilannya. Jauh dari kesan feminim. Iyalah…masak nonton musik rock, pakai celana pendek, atasan tanktop, sepatu high heels dan bawa handbag?
Sound system yang bagus, penonton yang antusias membuat suasana konser begitu terasa. Apalagi saat lagu The Unforgiven dimainkan, lampu digelapkan, semua penonton bernyanyi sambil mengangkat tangan dan menyalakan korek api. Rasanya merinding, menyaksikan Metallica sendiri yang beraksi depan saya.
Ketika Master of Puppets, Wherever I May Roam, And Justice For All dan seterusnya, dilantunkan oleh suara khas Hetfield, para penonton tidak ketinggalan ber-head banger. Meskipun sempat terjadi aksi dorong mendorong, tapi tidak sampai terjadi kekisruhan. Suguhan yang sungguh solid dari Hetfield, Hammet, Ulrich dan Newsted. Dari lagu pertama sampai lagu terakhir, penonton tidak henti ikut bernyanyi.
Puas rasanya melihat penampilan mereka berempat. Posisi saya berada tepat di depan panggung. Setiap tetes keringat yang keluar dari para personil bisa saya lihat dengan jelas. Bahkan Charles berhasil mendapatkan pick gitar berwarna hijau yang dilempar Hetfield ke arah penonton.
Saking asiknya larut dalam suasana konser itu, bahkan saya tidak tahu, bahwa di pintu masuk stadion telah terjadi keributan akibat calon penonton yang marah tidak kebagian tiket, tapi ingin menerobos masuk. Saya sempat melihat kepulan asap dari arah pintu utama stadion. Untunglah api tidak membesar.
Gara-gara kerusuhan itu, saya bersama empat orang teman lainnya terpaksa jalan kaki kadang setengah berlari, dari stadion Lebak Bulus sampai ke pertigaan Pasar Minggu. Tidak ada kendaraan yang berani melintas, karena sepanjang jalan sudah dijaga penuh oleh polisi dan prajurit. Dan selama dalam perjalanan pulang itu, bokong dan kaki saya dua kali kena pentungan tentara…hahaa…haa…
Konser musik yang ketiga adalah Fire House. Manggung di Stadion Sumantri Brojonegoro, Kuningan, kalau tidak salah antara tahun 1996-1997. Nah, saya sudah jadi wartawan. Lumayan dapat akses ke back stage dan melihat dari dekat penampilan mereka. Penonton Fire House hampir sama dengan karakter penonton yang saya temui dalam konser Europe maupun Metallica. Rata-rata berpakaian hitam, berambut gondrong dst.
Dengan lagu-lagu sweet rocknya, Bill Leverty, CJ Snare, Perry Richardson dan Michael Foster bisa membawa penontonnya menikmati lagu-lagu mereka. Lazimnya dalam sebuah pertunjukan konser rock, penonton dengan bebasnya ikut bernyanyi. Siapa sih yang tidak tahu lagu Love of A Lifetime, I Live My Live For You, You Are My Religion?
Penampilan Mr. Big di Acol, Pantai Carnaval adalah pertunjukan musik pertama yang saya datangi setelah 12 tahun absen. Saya tidak tahu, kenapa sejak memasuki arena panggung, terasa ada yang janggal. Para penonton saya perhatikan kebanyakan para ABG. Penonton perempuan juga banyak. Mereka memakai celana pendek, atasan tank top, sepatu high heels dan membawa handbag. Saya sempat ragu, jangan-jangan saya salah masuk ke arena panggungnya Backstreet Boys, ataukah sedang ada Midnight Sale di Ancol?
Di konser Mr. Big ini, saya tidak merasakan aura seperti yang pernah saya rasakan di pertunjukan group rock sebelumnya. Apakah memang sudah seperti ini setelah sekian lama saya tidak melihat pertunjukkan musik, sungguh tidak mengerti.
Lagu pertama adalah Daddy, Brother, Lover, Little Boy. Eric Martin membawakannya dengan baik. Tapi tidak didukung oleh sound system yang beres. Treble terdengar begitu nyaring, sementara dentuman bas tidak terasa getarannya. Saya masih berharap di lagu berikutnya akan ada perbaikan. Ternyata tidak. Sampai lagu terakhir sound system masih tetap begitu. Kasihan sekali penampilan solo Paul Gilbert yang kemudian berjam-in dengan Billy Sheehan, tidak terasa gregetnya.
Kemudian penonton…kok tidak kedengaran suaranya mengikuti Martin bernyanyi? Sebenarnya pada tahu Mr. Big nggak yaa…Colorado Bulldog, Take Over, Green-Tinted Sixties Mind dibawakan oleh mereka dengan semangat, tapi saya perhatikan penonton kok banyak yang diam saja. Tidak ada yang menggerakkan tubuh mengikuti irama, pun hanya beberapa gelintir yang ikut menyanyi.
Tapi ketika To Be With You, Goin’ Where The Wind Blows dan Take My Heart When You dikeluarkan, barulah terdengar ramai suara penonton. Hmm… saya paham sekarang, mereka ini pasti penggemar cd kompilasi Love Songs yang banyak beredar di pasar, hahaaa…Pantas saja suasananya berbeda sekali dengan yang saya rasakan ketika menonton konser-konser musik rock sebelumnya.
Kesimpulannya adalah, saya kecewa dengan penyelenggara konser Mr. Big kemarin. Konser itu adalah konser reuni antara Eric Martin, Paul Gilbert, Billy Sheehan dan Pat Torpey. Karena sebelumnya Paul Gilbert sudah meninggalkan Mr. Big di tahun 1999 silam. Namun kenapa panitia tidak menyediakan sound system yang representatif untuk gitaris sekelas Paul Gilbert? Saya tidak tahu. Bahkan betotan bass Billy Sheehan yang mestinya mantap pun jadi terdengar mono. Sementara itu, di sekitar lokasi dimana-mana terpampang tulisan 'Rock! Like Never Before!'. Memang benar, baru sekali ini saya melihat pertunjukan musik yang model begini. Menonton konser Mr. Big di Pantai Carnaval kemarin, ibarat mendengarkan kaset kusut dari sebuah mini compo butut.
DOC MART & MINI SKIRT
Saya pusing waktu itu.
Dalam ‘outline’ penugasan saya, salah satu narasumber yang harus diwawancara adalah seorang tentara. Setelah tanya sana, tanya sini. Telepon sana telepon sini, narasumber yang dimaksud ketahuan berkantor di Cilangkap.
Menurut cerita teman-teman di lapangan, menembus narasumber dari kalangan elit tentara itu susah. Apalagi kalau wartawannya model kayak saya. Jam terbang masih minim, medianya ‘nggak ngetop’ pula. Bisa-bisa, surat permohonan wawancara saya, dilirik pun tidak.
Katanya sih, kalau mau dapat wawancara eksklusif, harus sudah punya lobi yang bagus supaya bapak-bapak perwira itu mau ngomong ke media kita.
Makin pusinglah saya. Kenapa saya yang disuruh? Sebagai langkah awal, alangkah baiknya jika oom redaktur yang jalan lebih dulu dibanding ‘ceré’ seperti saya.
Namun, supaya status ‘carep’ saya bisa cepat naik pangkat jadi reporter ‘beneran’, saya harus tetap melaksanakan tugas yang sudah diperintahkan.
Tidak disangka, permohonan wawancara saya langsung ditanggapi. Terang saja cepat, karena saya hanya diperkenankan bertemu dengan bagian Humas. Bukankah memang sudah kerjaannya orang Humas untuk meladeni permintaan wawancara?
Kata bos gede saya, “Ngapain kalo cuma dapet Humas.” Artinya, berpijak pada kebijaksanaan redaksional tempat saya bekerja, pernyataan dari Humas itu ibarat keranjang kosong. “Itu sih sama aja nggak dapet belanjaan.” Sambung bos gede yang satu lagi.
‘Duh, majalah baru terbit empat edisi kok banyak banget permintaannya. Memangnya belum tahu apa bahwa pekerjaan mengenalkan majalah ini ke masyarakat susahnya setengah mati. Mendengar nama majalahnya saja, orang sudah langsung curiga kalau saya berasal dari media tukang peras. Istilahnya, wartawan bodrek begitu (betul nggak sih?).
Ketika itu, saya ingin punya satu kaset rekaman yang berisi narasi tentang sejarah lengkap majalah saya itu. Bahwa orang-orang yang terlibat di situ adalah segerombolan manusia jenius yang berasal dari majalah X yang hebat itu, tapi sudah dibredel dan bla..blaa..blaaa... Jangan keburu curiga kalau saya wartawan ‘nggak bener’ dari media yang tidak jelas pula.
Jadi kalau ada yang tanya, DOR itu majalah apa sih? Nah, saya tinggal ongkang-ongkang kaki sambil minum kopi sembari menunggu calon narasumber menyimak penjelasan dari tape recorder saya. Daripada mulut saya berbusa-busa memberikan penjelasan yang itu-itu lagi. Supaya mereka mau diwawancara.
Akhirnya, saya memang tetap harus wawancara Humas dari Markas Besar. Saat itu situasinya sangat tidak mungkin saya bisa mendapatkan wawancara ekslusif dengan Pak Jenderal yang dimaksud.
Sehari sebelum wawancara, seorang teman memberi tahu bahwa kalau berkunjung ke markas, kaum perempuan dilarang mengenakan celana panjang apalagi jeans. Hukumnya wajib pakai rok dan sepatu. Pokoknya harus rapi dan sopan.
Saya mau menangis mendengarnya. Pasalnya, saya tidak punya rok dan sepatu fantovel (?). Masa saya harus belanja hanya untuk sekali wawancara. Tahu sendiri kan gaji wartawan pemula, masih carep lagi.
Di rumah, saya pun bongkar lemari pakaian. Dari laci paling bawah, saya temukan sepotong rok berwarna biru. Sudah kependekan, sedikit diatas lutut jatuhnya. Lumayanlah, masih pas di badan dan layak pakai. Toh tidak ada penjelasan jenis rok apa yang boleh dan tidak boleh dikenakan. Rok mini, midi atau longdress sekalian. Whatever!
Bagaimana dengan sepatu? Saya juga tidak punya sepatu perempuan. Selain sepatu Reebok bulukan saya itu, saya hanya punya sepasang lagi yaitu sepatu boot Doctor Martin dari kulit warna hitam.
Cuma, kalau pakai si Doc Mart ini, saya harus pakai kaus kaki tebal karena sebetulnya sepatu itu agak kebesaran buat kaki saya.
Sudah terbayang betapa kacaunya penampilan saya besok. Pakai rok setengah mini, sepatu Doc Mart hitam bertali, plus kaus kaki. Mudah-mudahan saja saya tidak diusir di pintu masuk oleh penjaga yang bersenjata itu. Disangka orang gila!
Saya beruntung. Dengan senyum ramah Pak Kepala Humas Mabes menyilahkan saya masuk ke ruangannya. Wawancara berlangsung santai. Pak Kahumas bersedia menjawab semua pertanyaan saya. Selesai wawancara, saya bahkan diantar dengan mobil oleh bawahannya, sampai ke pintu gerbang markas yang jaraknya lumayan jauh dari gedung tempat saya melakukan wawancara.
Kembali ke kantor, rapat perencanaan sudah dimulai. Begitu saya masuk ke ruang rapat, saya habis ditertawakan teman-teman satu kantor. “Reko…Reko..,nggak salah kamu…ha…ha…ha…” Begitu kata mereka ketika melihat penampilan saya yang super aneh itu.
Biarlah kalau rok, sepatu dan kaus kaki saya itu bisa membuat teman-teman gembira. Sebab, tidak diusir dari Mabes karena rok setengah mini dan sepatu boot yang kebesaran- sudah menjadi hadiah terindah bagi saya hari itu.
*Secuil kenangan dari TIM 051208
Dalam ‘outline’ penugasan saya, salah satu narasumber yang harus diwawancara adalah seorang tentara. Setelah tanya sana, tanya sini. Telepon sana telepon sini, narasumber yang dimaksud ketahuan berkantor di Cilangkap.
Menurut cerita teman-teman di lapangan, menembus narasumber dari kalangan elit tentara itu susah. Apalagi kalau wartawannya model kayak saya. Jam terbang masih minim, medianya ‘nggak ngetop’ pula. Bisa-bisa, surat permohonan wawancara saya, dilirik pun tidak.
Katanya sih, kalau mau dapat wawancara eksklusif, harus sudah punya lobi yang bagus supaya bapak-bapak perwira itu mau ngomong ke media kita.
Makin pusinglah saya. Kenapa saya yang disuruh? Sebagai langkah awal, alangkah baiknya jika oom redaktur yang jalan lebih dulu dibanding ‘ceré’ seperti saya.
Namun, supaya status ‘carep’ saya bisa cepat naik pangkat jadi reporter ‘beneran’, saya harus tetap melaksanakan tugas yang sudah diperintahkan.
Tidak disangka, permohonan wawancara saya langsung ditanggapi. Terang saja cepat, karena saya hanya diperkenankan bertemu dengan bagian Humas. Bukankah memang sudah kerjaannya orang Humas untuk meladeni permintaan wawancara?
Kata bos gede saya, “Ngapain kalo cuma dapet Humas.” Artinya, berpijak pada kebijaksanaan redaksional tempat saya bekerja, pernyataan dari Humas itu ibarat keranjang kosong. “Itu sih sama aja nggak dapet belanjaan.” Sambung bos gede yang satu lagi.
‘Duh, majalah baru terbit empat edisi kok banyak banget permintaannya. Memangnya belum tahu apa bahwa pekerjaan mengenalkan majalah ini ke masyarakat susahnya setengah mati. Mendengar nama majalahnya saja, orang sudah langsung curiga kalau saya berasal dari media tukang peras. Istilahnya, wartawan bodrek begitu (betul nggak sih?).
Ketika itu, saya ingin punya satu kaset rekaman yang berisi narasi tentang sejarah lengkap majalah saya itu. Bahwa orang-orang yang terlibat di situ adalah segerombolan manusia jenius yang berasal dari majalah X yang hebat itu, tapi sudah dibredel dan bla..blaa..blaaa... Jangan keburu curiga kalau saya wartawan ‘nggak bener’ dari media yang tidak jelas pula.
Jadi kalau ada yang tanya, DOR itu majalah apa sih? Nah, saya tinggal ongkang-ongkang kaki sambil minum kopi sembari menunggu calon narasumber menyimak penjelasan dari tape recorder saya. Daripada mulut saya berbusa-busa memberikan penjelasan yang itu-itu lagi. Supaya mereka mau diwawancara.
Akhirnya, saya memang tetap harus wawancara Humas dari Markas Besar. Saat itu situasinya sangat tidak mungkin saya bisa mendapatkan wawancara ekslusif dengan Pak Jenderal yang dimaksud.
Sehari sebelum wawancara, seorang teman memberi tahu bahwa kalau berkunjung ke markas, kaum perempuan dilarang mengenakan celana panjang apalagi jeans. Hukumnya wajib pakai rok dan sepatu. Pokoknya harus rapi dan sopan.
Saya mau menangis mendengarnya. Pasalnya, saya tidak punya rok dan sepatu fantovel (?). Masa saya harus belanja hanya untuk sekali wawancara. Tahu sendiri kan gaji wartawan pemula, masih carep lagi.
Di rumah, saya pun bongkar lemari pakaian. Dari laci paling bawah, saya temukan sepotong rok berwarna biru. Sudah kependekan, sedikit diatas lutut jatuhnya. Lumayanlah, masih pas di badan dan layak pakai. Toh tidak ada penjelasan jenis rok apa yang boleh dan tidak boleh dikenakan. Rok mini, midi atau longdress sekalian. Whatever!
Bagaimana dengan sepatu? Saya juga tidak punya sepatu perempuan. Selain sepatu Reebok bulukan saya itu, saya hanya punya sepasang lagi yaitu sepatu boot Doctor Martin dari kulit warna hitam.
Cuma, kalau pakai si Doc Mart ini, saya harus pakai kaus kaki tebal karena sebetulnya sepatu itu agak kebesaran buat kaki saya.
Sudah terbayang betapa kacaunya penampilan saya besok. Pakai rok setengah mini, sepatu Doc Mart hitam bertali, plus kaus kaki. Mudah-mudahan saja saya tidak diusir di pintu masuk oleh penjaga yang bersenjata itu. Disangka orang gila!
Saya beruntung. Dengan senyum ramah Pak Kepala Humas Mabes menyilahkan saya masuk ke ruangannya. Wawancara berlangsung santai. Pak Kahumas bersedia menjawab semua pertanyaan saya. Selesai wawancara, saya bahkan diantar dengan mobil oleh bawahannya, sampai ke pintu gerbang markas yang jaraknya lumayan jauh dari gedung tempat saya melakukan wawancara.
Kembali ke kantor, rapat perencanaan sudah dimulai. Begitu saya masuk ke ruang rapat, saya habis ditertawakan teman-teman satu kantor. “Reko…Reko..,nggak salah kamu…ha…ha…ha…” Begitu kata mereka ketika melihat penampilan saya yang super aneh itu.
Biarlah kalau rok, sepatu dan kaus kaki saya itu bisa membuat teman-teman gembira. Sebab, tidak diusir dari Mabes karena rok setengah mini dan sepatu boot yang kebesaran- sudah menjadi hadiah terindah bagi saya hari itu.
*Secuil kenangan dari TIM 051208
OH MY BUTT!
Ini adalah kesekian kalinya pantat saya diremek oleh seorang bocah laki-laki. Entah disengaja atau tidak, kenapa selalu pas di pantat. Kalau si anak bermaksud mengenali saya sebagai orang yang mungkin dikenalnya, tentu ada cara lain yang lebih sopan. Menepuk bahu atau lengan, misalnya. Tapi ini kok, sekali lagi di pantat. Kadang pantat sebelah kiri, tapi rasanya lebih sering yang sebelah kanan.
Beruntung saya selalu berhasil mengendalikan tangan untuk tidak langsung menampar si pelaku. Karena begitu menengok ke belakang, yang terlihat hanyalah seorang anak laki-laki berwajah polos. Tidak ada orang lain kecuali si bocah beserta ibu yang menggandengnya. Umumnya para lelaki kecil ini langsung berlagak pilon sehabis menjalankan aksinya. Dan mulut saya pun tidak mampu berkata-kata melihat kenyataan itu. Jangan-jangan nanti saya yang dianggap tidak waras karena menuding bocah sebagai pelaku pelecehan seksual. Kemudian, apakah si ibu yang meremas pantat saya? 99.9% tidak mungkin.
Sebelum saya menghakimi si bocah bersalah karena telah begitu kurang ajar terhadap saya, ada baiknya saya intropeksi diri dulu. Apakah saya mengenakan hotpants pada saat pantat saya dikerjai? Apakah saya memakai atasan bertali spaghetti sehingga ketiak dan dada saya memantul kemana-mana? (walaupun itu sebenarnya urusan saya untuk menutupi atau tidak aurat saya). Jawabannya ‘tidak’. Pakaian favorit saya sampai saat ini tidak berubah, sama ketika masih kuliah dulu. Celana jeans dan kaus. Saya paling tidak bisa keluar rumah pakai setelan yang serba minim, nggak ada untungnya sama sekali. Perut jadi gampang kembung. Istilah populernya, masuk angin. Kalau sudah begitu, bisa sengsara berhari-hari.
Lalu, kenapa kasus terhadap pantat saya berulang sampai sekian kali? Kenapa pula selalu anak dibawah umur yang melakukannya terhadap saya? Kalau seorang anak lelaki sampai berani meremas pantat perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya, kenapa bisa begitu?
Saya bukanlah seorang ahli untuk menganalisis masalah macam begini. Apalagi sampai mengutarakan pendapat pribadi mengenai sesuatu hal yang saya sendiri belum tahu jawabannya. Bisa-bisa saya dilabrak para ibu yang punya anak laki-laki.
Namun saya berharap, mudah-mudahan saja perilaku anak yang demikian itu hanyalah spontanitas sesaat yang gemas melihat sepotong pantat. Dan kebetulan sekali, itu adalah pantat saya…*
Beruntung saya selalu berhasil mengendalikan tangan untuk tidak langsung menampar si pelaku. Karena begitu menengok ke belakang, yang terlihat hanyalah seorang anak laki-laki berwajah polos. Tidak ada orang lain kecuali si bocah beserta ibu yang menggandengnya. Umumnya para lelaki kecil ini langsung berlagak pilon sehabis menjalankan aksinya. Dan mulut saya pun tidak mampu berkata-kata melihat kenyataan itu. Jangan-jangan nanti saya yang dianggap tidak waras karena menuding bocah sebagai pelaku pelecehan seksual. Kemudian, apakah si ibu yang meremas pantat saya? 99.9% tidak mungkin.
Sebelum saya menghakimi si bocah bersalah karena telah begitu kurang ajar terhadap saya, ada baiknya saya intropeksi diri dulu. Apakah saya mengenakan hotpants pada saat pantat saya dikerjai? Apakah saya memakai atasan bertali spaghetti sehingga ketiak dan dada saya memantul kemana-mana? (walaupun itu sebenarnya urusan saya untuk menutupi atau tidak aurat saya). Jawabannya ‘tidak’. Pakaian favorit saya sampai saat ini tidak berubah, sama ketika masih kuliah dulu. Celana jeans dan kaus. Saya paling tidak bisa keluar rumah pakai setelan yang serba minim, nggak ada untungnya sama sekali. Perut jadi gampang kembung. Istilah populernya, masuk angin. Kalau sudah begitu, bisa sengsara berhari-hari.
Lalu, kenapa kasus terhadap pantat saya berulang sampai sekian kali? Kenapa pula selalu anak dibawah umur yang melakukannya terhadap saya? Kalau seorang anak lelaki sampai berani meremas pantat perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya, kenapa bisa begitu?
Saya bukanlah seorang ahli untuk menganalisis masalah macam begini. Apalagi sampai mengutarakan pendapat pribadi mengenai sesuatu hal yang saya sendiri belum tahu jawabannya. Bisa-bisa saya dilabrak para ibu yang punya anak laki-laki.
Namun saya berharap, mudah-mudahan saja perilaku anak yang demikian itu hanyalah spontanitas sesaat yang gemas melihat sepotong pantat. Dan kebetulan sekali, itu adalah pantat saya…*
KRISIS EKONOMI TIDAK MAMPIR KE SINI
Mama pernah bilang, tidak usah membicarakan krisis di negeri ini. Menurutnya yang namanya krisis ekonomi sesungguhnya tidak begitu dikenal oleh rakyat Indonesia. Mama bahkan membuat sajak khusus yang menggambarkan situasi krisis moneter di tahun 1998 silam. Ma, sajak itu mama kirim ke koran nggak ya, dimuat atau tidak? Saya lupa…
Bagi saya, pendapat mama itu sungguh sangat aneh. Sebab waktu itu bukan hanya Indonesia yang terkena krisis, tapi juga negara-negara di kawasan Asia. Gilanya lagi, Indonesia termasuk yang lama alias paling buntut dinyatakan pulih dari krisis dibanding teman-teman negaranya yang lain. Lalu kenapa ia bilang nggak kena krisis?
Kini, sepuluh tahun kemudian, perusahaan besar Lehman Brothers di Amerika ambruk. Pelan tapi pasti, Indonesia mulai merasakan imbasnya. Lucunya seperti biasa, para pejabat mulai berkoar mengenai pondasi ekonomi kita. Malah ada yang berani bilang, kita tidak akan kena krisis, gubraaak! Sementara yang terjadi di alam nyata, rupiah terus melemah terhadap dollar Amerika. Satu dollar dihargai duabelas ribu rupiah. Tadinya cuma sembilan ribuan.
Harga kelapa sawit dan karet anjlok. Para petani bertahan hidup dengan hasil seadanya. Ekspor mulai tersendat, karena yang pesan barang sudah makin sedikit. Konon pelanggan di sana juga sudah pada tidak punya duit untuk beli-beli barang dari Indonesia. Kesimpulannya, uang masuk minim, pengusaha bisa gulung tikar (lagi), akhirnya pengangguran bertambah (lagi). Jadi kalau masalah ini dianalisis oleh para ahli yang pandai-pandai itu, Indonesia sudah masuk kategori terkena krisis ekonomi, bab dua, mungkin.
Sebelum saya melanjutkan, mohon maaf bila saya kelihatannya berlagak seperti seorang ekonom. Sebetulnya saya ingin cerita-cerita saja, seperti layaknya seorang ibu sedang nggosipin tetangga sebelah yang baru saja pindah.
Saya lalu berargumentasi dengan mama. Yang benar saja dong ma…Indonesia ini negara apa? Kalau dilihat dari kedua bola matanya negara-negara maju itu, negeri kita ini mereka bilang negara dunia ketiga. Rakyatnya masih pada miskin sekaligus bodoh. Ingatkah waktu pak Harto menandatangani Letter of Intent disaksikan pak Michel Camdessus yang berdiri disebelahnya sambil bersidekap tangan? Aduh, rasanya harga diri sebagai anak bangsa terkoyak. Halaaah…ngutang lagi, ngutang lagi. Nurut lagi…nurut lagi sama yang namanya pak ‘bos’ IMF. Disiarkan pula ke seantero jagad. Malu…
Jika menurut mama, bangsa ini tidak pernah kena krisis, artinya perekonomian kita hebat banget dong. Sebab katanya koran, Citibank, bank top di Amerika itu saja, tidak lama lagi akan memPHK sekian ribu karyawannya. Bahkan sebuah perusahaan otomotif terbesar di sana juga sedang pikir-pikir untuk menyatakan diri bangkrut karena kesulitan likuiditas. Lalu bagaimana mungkin mama bilang Indonesia tidak terkena krisis ekonomi. Karena contohnya sudah jelas, negara yang kuat ekonominya saja kena, apalagi kita?
“Sudahlah, kamu yakin saja kalau bangsa kita tidak kenal krisis ekonomi, krisis moneter, atau krisis apalah namanya. Ia tidak mampir ke sini.” Begitu kata mama. “Jalan-jalanlah ke pasar Gembrong, Pasarpagi, ITC Mangga Dua, Ambassador dan pasar Tanabang. Mal-mal dari ujung utara ke selatan. Pusat-pusat belanja dari ujung barat ke timur. Sogo Jongkok sampai lapak-lapak pedagang kaki lima di pinggir jalan. Toko-toko jual beli telepon seluler. Tempat-tempat makan. Adakah yang sepi dari pembeli?
Hari Jumat, Sabtu sampai Minggu, mal-mal pinggiran pun juga selalu penuh oleh pengunjung. Antrian terjadi di mana-mana, terutama di toko donat dan toko roti yang harga selusinnya bisa buat belanja tiga hari. Ada lagi yang namanya midnight shopping (belanja bareng hantu, maksudnya?). Nah, buat yang lagi bokek, tetap masih bisa buang duit. Carilah toko semua lima ribu atau sepuluh ribu tiga, yang penting nafsu membeli sesuatu tetap bisa dipenuhi.”
Ah, mama…pasar memang selalu ramai ma…Tapi apakah manusia yang berjejal di setiap pertokoan menunjukkan bangsa ini kebal terhadap krisis ekonomi? Walahualam…*
Bagi saya, pendapat mama itu sungguh sangat aneh. Sebab waktu itu bukan hanya Indonesia yang terkena krisis, tapi juga negara-negara di kawasan Asia. Gilanya lagi, Indonesia termasuk yang lama alias paling buntut dinyatakan pulih dari krisis dibanding teman-teman negaranya yang lain. Lalu kenapa ia bilang nggak kena krisis?
Kini, sepuluh tahun kemudian, perusahaan besar Lehman Brothers di Amerika ambruk. Pelan tapi pasti, Indonesia mulai merasakan imbasnya. Lucunya seperti biasa, para pejabat mulai berkoar mengenai pondasi ekonomi kita. Malah ada yang berani bilang, kita tidak akan kena krisis, gubraaak! Sementara yang terjadi di alam nyata, rupiah terus melemah terhadap dollar Amerika. Satu dollar dihargai duabelas ribu rupiah. Tadinya cuma sembilan ribuan.
Harga kelapa sawit dan karet anjlok. Para petani bertahan hidup dengan hasil seadanya. Ekspor mulai tersendat, karena yang pesan barang sudah makin sedikit. Konon pelanggan di sana juga sudah pada tidak punya duit untuk beli-beli barang dari Indonesia. Kesimpulannya, uang masuk minim, pengusaha bisa gulung tikar (lagi), akhirnya pengangguran bertambah (lagi). Jadi kalau masalah ini dianalisis oleh para ahli yang pandai-pandai itu, Indonesia sudah masuk kategori terkena krisis ekonomi, bab dua, mungkin.
Sebelum saya melanjutkan, mohon maaf bila saya kelihatannya berlagak seperti seorang ekonom. Sebetulnya saya ingin cerita-cerita saja, seperti layaknya seorang ibu sedang nggosipin tetangga sebelah yang baru saja pindah.
Saya lalu berargumentasi dengan mama. Yang benar saja dong ma…Indonesia ini negara apa? Kalau dilihat dari kedua bola matanya negara-negara maju itu, negeri kita ini mereka bilang negara dunia ketiga. Rakyatnya masih pada miskin sekaligus bodoh. Ingatkah waktu pak Harto menandatangani Letter of Intent disaksikan pak Michel Camdessus yang berdiri disebelahnya sambil bersidekap tangan? Aduh, rasanya harga diri sebagai anak bangsa terkoyak. Halaaah…ngutang lagi, ngutang lagi. Nurut lagi…nurut lagi sama yang namanya pak ‘bos’ IMF. Disiarkan pula ke seantero jagad. Malu…
Jika menurut mama, bangsa ini tidak pernah kena krisis, artinya perekonomian kita hebat banget dong. Sebab katanya koran, Citibank, bank top di Amerika itu saja, tidak lama lagi akan memPHK sekian ribu karyawannya. Bahkan sebuah perusahaan otomotif terbesar di sana juga sedang pikir-pikir untuk menyatakan diri bangkrut karena kesulitan likuiditas. Lalu bagaimana mungkin mama bilang Indonesia tidak terkena krisis ekonomi. Karena contohnya sudah jelas, negara yang kuat ekonominya saja kena, apalagi kita?
“Sudahlah, kamu yakin saja kalau bangsa kita tidak kenal krisis ekonomi, krisis moneter, atau krisis apalah namanya. Ia tidak mampir ke sini.” Begitu kata mama. “Jalan-jalanlah ke pasar Gembrong, Pasarpagi, ITC Mangga Dua, Ambassador dan pasar Tanabang. Mal-mal dari ujung utara ke selatan. Pusat-pusat belanja dari ujung barat ke timur. Sogo Jongkok sampai lapak-lapak pedagang kaki lima di pinggir jalan. Toko-toko jual beli telepon seluler. Tempat-tempat makan. Adakah yang sepi dari pembeli?
Hari Jumat, Sabtu sampai Minggu, mal-mal pinggiran pun juga selalu penuh oleh pengunjung. Antrian terjadi di mana-mana, terutama di toko donat dan toko roti yang harga selusinnya bisa buat belanja tiga hari. Ada lagi yang namanya midnight shopping (belanja bareng hantu, maksudnya?). Nah, buat yang lagi bokek, tetap masih bisa buang duit. Carilah toko semua lima ribu atau sepuluh ribu tiga, yang penting nafsu membeli sesuatu tetap bisa dipenuhi.”
Ah, mama…pasar memang selalu ramai ma…Tapi apakah manusia yang berjejal di setiap pertokoan menunjukkan bangsa ini kebal terhadap krisis ekonomi? Walahualam…*
ORGEL
Orgel itu teronggok di teras sebuah rumah. Rumah tante Sara, anak ompung nomor dua, dari sepuluh anak-anaknya. Sebelum dibawa ke rumah tante Sara, orgel itu masih diletakkan di dalam rumah. Di rumah tulang Didi, anak bungsu ompung. Apa hendak dikata, tulang Didi telah pergi meninggalkan kami semua di usianya yang baru limapuluh. Ia sakit keras, sudah bertahun-tahun. Seorang perokok berat. Kepergiannya membuat kedua anaknya yang baru berangkat remaja menjadi yatim piatu. Nangtulang Didi, istrinya sudah lebih dulu menghadap Tuhan ketika anaknya yang paling kecil baru berusia tiga tahun. Sama seperti tulang, ia sakit keras sampai ajal menjemputnya.
Dengan sukarela, tante Sara yang tidak menikah bersedia menampung kedua anak yatim piatu itu. Maka tak berapa lama setelah kepergian tulang Didi, kedua anak-anaknya pindah ke rumah tante Sara bersama seluruh barang-barang mereka. Sebab tidak mungkin lagi kedua anak itu membayar uang sewa rumah. Rumah tante Sara yang tidak seberapa besar terpaksa harus menampung perabotan dari satu rumah lagi. Bisa dibayangkan betapa penuhnya rumah itu. Begitulah akhirnya, kenapa orgel ompung berada di teras. Karena memang sudah tidak ada lagi tempat untuknya di dalam rumah.
Ketika saya masih kecil, setiap malam pergantian tahun, seluruh anak-anak ompung, cucu dan menantunya selalu berkumpul di rumahnya. Waktu itu ompung tinggal di jalan Susilo Raya, Grogol. Tepat jam duabelas, kami semua memulai kebaktian dengan doa ucapan syukur karena sudah melewati tahun yang lalu dan akan memasuki tahun yang baru. Setelah berdoa, kami bernyanyi, biasanya diambil dari buku Ende; buku lagu berbahasa Batak. Ompung Doli (ompung laki-laki) tidak bisa bermain orgel lagi. Ia hanya duduk sambil kadang-kadang tersenyum pada kami. Ia sudah tidak bisa bicara dengan lancar dan jelas. Tubuhnya pun sudah setengah lumpuh. Ompung kena stroke. Maka tulang Horas, anak ompung yang nomor sembilan yang mengiringi kami bernyanyi dengan orgel itu. Demikianlah semua itu berjalan hampir setiap malam pergantian tahun.
Cerita ibu saya, ompung Doli semasa sehat senang bermain orgel. Biasanya tiap hari Minggu ia mengiringi jemaat dengan orgel pipa di gereja Anglikan, Menteng. Bila di rumah, dialah yang selalu mengiringi keluarga bernyanyi. Orgel itu dulu diperoleh ompung dari seorang peranakan Cina. Dibeli seharga 25 ribu rupiah, pada sekitar tahun 60an. Tidak jelas buatan mana. Alat musik itu terbuat dari kayu, berwarna kuning muda. Kalau tidak salah terdiri dari lima oktaf atau lebih. Lapisan tutsnya terbuat dari gading. Di atas tuts terdapat tombol-tombol kayu manual untuk mengatur keras lembutnya suara. Agar bisa berbunyi, terdapat dua buah semacam pedal yang harus diinjak seperti orang mengayuh sepeda air. Nampaknya pedal itulah yang menghasilkan energi sehingga orgel bisa berbunyi.
Semasa kecil, saya selalu penasaran untuk bisa mencoba orgel itu. Tetapi kaki saya yang masih pendek tidak mampu menggapai pedal orgel, andaikan dipaksakan untuk sampai, saya tidak kuat mengayuhnya karena terlalu berat. Kalau sedang beruntung, saya mampu membunyikannya sambil memainkan lagu Twinkle Twinkle Little Star. Satu-satunya lagu yang saya bisa.
Rumah tante Sara rawan banjir. Sudah beberapa kali ia kebanjiran. Tidak tanggung-tanggung, air bisa sampai setinggi rumah bisa sungai di dekatnya meluap. Lelah kebanjiran terus, tante memutuskan untuk pindah dari situ. Karena keterbatasan dana, ia hanya bisa mendapatkan rumah yang lebih kecil dari sebelumnya. Artinya, beberapa perabotan tidak bisa ikut dibawa ke rumah baru. Barang yang penting-penting saja. Orgel ompung tidak termasuk yang dibawa. Selain tidak ada tempat, orgel itu pun sudah lama rusak. Tidak ada lagi nada yang keluar dari tutsnya. Kedua pedalnya pun sudah ‘oglek’. Di negeri ini ternyata tidak ada yang mampu mereparasinya. Karena sudah sangat kuno, spare partnya juga sudah tidak ada yang jual. Kesimpulannya, bila tidak ada yang mau, orgel tua itu akan dimutilasi di tangan pemulung.
Andai ompung bisa bicara pada saya, apakah yang akan dikatakannya pada saya bila melihat orgel kesayangannya akan dibuang? Setiap kali saya menatapnya, hati seakan miris. Teringat saat-saat indah, berkumpul di rumah ompung sambil bernyanyi diiringi orgel itu.
Sehari sebelum kepindahan tante Sara ke rumah baru, saya berkunjung ke rumahnya untuk sekedar membantu beres-beres. Sekali lagi saya melihat orgel ompung, terhimpit diantara tumpukan barang-barang. Debu menutupi seluruh kayunya. Warnanya semakin terlihat kusam. Seolah-olah saya mendengar ompung berbisik di telinga saya, “Bila kau mau, orgel itu bisa kau pakai sebagai rak bukumu. Bukankah lemari bukumu yang lama itu sudah sangat penuh?”
Ah ompung…benarkah itu? Segera saya amati lebih jauh benda itu. Iya juga ya…Waktu masih berfungsi, bagian atas orgel itu biasa ditaruh berbagai macam pajangan. Sekarang bila saya mau, tempat pajangan itu bisa saya isi dengan buku-buku saya yang memang sudah tidak ada tempat. Seluruh tutsnya bisa dibuang, dan bekas tempat tutsnya itu ditutup dengan kayu lagi, sehingga bisa juga dipakai untuk meletakkan buku.
Akhirnya, tanpa perlu debat dengan anak cucu ompung yang lain, orgel tua itu jatuh ke tangan saya. Benda itu langsung saya bawa ke tukang kayu. Saya minta dibuatkan seperti yang saya sudah bayangkan tadi. Saya harus menunggu sebulan penuh orgel ompung ‘dioperasi’. Hasilnya sungguh membuat saya terharu bercampur gembira. Orgel tua ompung kini terlihat sangat cantik dan antik. Warna kuningnya sudah berubah, diganti dengan warna kayu yang lebih gelap sehingga ukiran daun sulurnya kelihatan sangat indah. Semua tutsnya sudah tidak ada, diganti dengan kayu tebal sebagai penutupnya. Pedalnya pun sudah dibuang. Jadinya memang mirip seperti meja tulis kuno. Sungguh tidak bosan-bosan saya memandanginya. Warisan terindah yang pernah saya terima. Pun tidak akan saya lepas kalau ada yang mau membayarnya dengan harga selangit.
Saat ini orgel sudah berada di rumah saya. Saya letakkan di ruang tamu, supaya semua orang yang datang bisa langsung melihatnya. Buku-buku saya yang selama ini berceceran, saya susun semua diatasnya. Setelah hampir tigapuluh tahun ompung tiada, saya seakan merasakan kembali sedang berada di dekatnya. Selain sekali-sekali ia datang di dalam mimpi.
I luv u ompung Doli, hope you’re fine in heaven, miss u much!
*orgel: organ
*ompung doli: kakek; bahasa batak
*tulang: saudara laki-laki ibu; bahasa batak
*nangtulang; istri tulang
Dengan sukarela, tante Sara yang tidak menikah bersedia menampung kedua anak yatim piatu itu. Maka tak berapa lama setelah kepergian tulang Didi, kedua anak-anaknya pindah ke rumah tante Sara bersama seluruh barang-barang mereka. Sebab tidak mungkin lagi kedua anak itu membayar uang sewa rumah. Rumah tante Sara yang tidak seberapa besar terpaksa harus menampung perabotan dari satu rumah lagi. Bisa dibayangkan betapa penuhnya rumah itu. Begitulah akhirnya, kenapa orgel ompung berada di teras. Karena memang sudah tidak ada lagi tempat untuknya di dalam rumah.
Ketika saya masih kecil, setiap malam pergantian tahun, seluruh anak-anak ompung, cucu dan menantunya selalu berkumpul di rumahnya. Waktu itu ompung tinggal di jalan Susilo Raya, Grogol. Tepat jam duabelas, kami semua memulai kebaktian dengan doa ucapan syukur karena sudah melewati tahun yang lalu dan akan memasuki tahun yang baru. Setelah berdoa, kami bernyanyi, biasanya diambil dari buku Ende; buku lagu berbahasa Batak. Ompung Doli (ompung laki-laki) tidak bisa bermain orgel lagi. Ia hanya duduk sambil kadang-kadang tersenyum pada kami. Ia sudah tidak bisa bicara dengan lancar dan jelas. Tubuhnya pun sudah setengah lumpuh. Ompung kena stroke. Maka tulang Horas, anak ompung yang nomor sembilan yang mengiringi kami bernyanyi dengan orgel itu. Demikianlah semua itu berjalan hampir setiap malam pergantian tahun.
Cerita ibu saya, ompung Doli semasa sehat senang bermain orgel. Biasanya tiap hari Minggu ia mengiringi jemaat dengan orgel pipa di gereja Anglikan, Menteng. Bila di rumah, dialah yang selalu mengiringi keluarga bernyanyi. Orgel itu dulu diperoleh ompung dari seorang peranakan Cina. Dibeli seharga 25 ribu rupiah, pada sekitar tahun 60an. Tidak jelas buatan mana. Alat musik itu terbuat dari kayu, berwarna kuning muda. Kalau tidak salah terdiri dari lima oktaf atau lebih. Lapisan tutsnya terbuat dari gading. Di atas tuts terdapat tombol-tombol kayu manual untuk mengatur keras lembutnya suara. Agar bisa berbunyi, terdapat dua buah semacam pedal yang harus diinjak seperti orang mengayuh sepeda air. Nampaknya pedal itulah yang menghasilkan energi sehingga orgel bisa berbunyi.
Semasa kecil, saya selalu penasaran untuk bisa mencoba orgel itu. Tetapi kaki saya yang masih pendek tidak mampu menggapai pedal orgel, andaikan dipaksakan untuk sampai, saya tidak kuat mengayuhnya karena terlalu berat. Kalau sedang beruntung, saya mampu membunyikannya sambil memainkan lagu Twinkle Twinkle Little Star. Satu-satunya lagu yang saya bisa.
Rumah tante Sara rawan banjir. Sudah beberapa kali ia kebanjiran. Tidak tanggung-tanggung, air bisa sampai setinggi rumah bisa sungai di dekatnya meluap. Lelah kebanjiran terus, tante memutuskan untuk pindah dari situ. Karena keterbatasan dana, ia hanya bisa mendapatkan rumah yang lebih kecil dari sebelumnya. Artinya, beberapa perabotan tidak bisa ikut dibawa ke rumah baru. Barang yang penting-penting saja. Orgel ompung tidak termasuk yang dibawa. Selain tidak ada tempat, orgel itu pun sudah lama rusak. Tidak ada lagi nada yang keluar dari tutsnya. Kedua pedalnya pun sudah ‘oglek’. Di negeri ini ternyata tidak ada yang mampu mereparasinya. Karena sudah sangat kuno, spare partnya juga sudah tidak ada yang jual. Kesimpulannya, bila tidak ada yang mau, orgel tua itu akan dimutilasi di tangan pemulung.
Andai ompung bisa bicara pada saya, apakah yang akan dikatakannya pada saya bila melihat orgel kesayangannya akan dibuang? Setiap kali saya menatapnya, hati seakan miris. Teringat saat-saat indah, berkumpul di rumah ompung sambil bernyanyi diiringi orgel itu.
Sehari sebelum kepindahan tante Sara ke rumah baru, saya berkunjung ke rumahnya untuk sekedar membantu beres-beres. Sekali lagi saya melihat orgel ompung, terhimpit diantara tumpukan barang-barang. Debu menutupi seluruh kayunya. Warnanya semakin terlihat kusam. Seolah-olah saya mendengar ompung berbisik di telinga saya, “Bila kau mau, orgel itu bisa kau pakai sebagai rak bukumu. Bukankah lemari bukumu yang lama itu sudah sangat penuh?”
Ah ompung…benarkah itu? Segera saya amati lebih jauh benda itu. Iya juga ya…Waktu masih berfungsi, bagian atas orgel itu biasa ditaruh berbagai macam pajangan. Sekarang bila saya mau, tempat pajangan itu bisa saya isi dengan buku-buku saya yang memang sudah tidak ada tempat. Seluruh tutsnya bisa dibuang, dan bekas tempat tutsnya itu ditutup dengan kayu lagi, sehingga bisa juga dipakai untuk meletakkan buku.
Akhirnya, tanpa perlu debat dengan anak cucu ompung yang lain, orgel tua itu jatuh ke tangan saya. Benda itu langsung saya bawa ke tukang kayu. Saya minta dibuatkan seperti yang saya sudah bayangkan tadi. Saya harus menunggu sebulan penuh orgel ompung ‘dioperasi’. Hasilnya sungguh membuat saya terharu bercampur gembira. Orgel tua ompung kini terlihat sangat cantik dan antik. Warna kuningnya sudah berubah, diganti dengan warna kayu yang lebih gelap sehingga ukiran daun sulurnya kelihatan sangat indah. Semua tutsnya sudah tidak ada, diganti dengan kayu tebal sebagai penutupnya. Pedalnya pun sudah dibuang. Jadinya memang mirip seperti meja tulis kuno. Sungguh tidak bosan-bosan saya memandanginya. Warisan terindah yang pernah saya terima. Pun tidak akan saya lepas kalau ada yang mau membayarnya dengan harga selangit.
Saat ini orgel sudah berada di rumah saya. Saya letakkan di ruang tamu, supaya semua orang yang datang bisa langsung melihatnya. Buku-buku saya yang selama ini berceceran, saya susun semua diatasnya. Setelah hampir tigapuluh tahun ompung tiada, saya seakan merasakan kembali sedang berada di dekatnya. Selain sekali-sekali ia datang di dalam mimpi.
I luv u ompung Doli, hope you’re fine in heaven, miss u much!
*orgel: organ
*ompung doli: kakek; bahasa batak
*tulang: saudara laki-laki ibu; bahasa batak
*nangtulang; istri tulang
SUATU KETIKA DI LOKASI SHOOTING
Seorang anak perempuan kecil, berdiri setengah telanjang di depan pintu sebuah kamar mandi. Hanya mengenakan celana dalam berwarna putih. Dan ia menangis tersedu-sedu. Kamar mandi yang saya maksud di sini, adalah toilet di salah satu studio di Selatan Jakarta. Belakangan saya tahu, ternyata gadis kecil itu sedang menjalani hukuman yang diberikan ibunya. Ia sengaja dibiarkan kedinginan di situ karena tidak mau menuruti keinginan sang bunda.
Di studio tersebut sedang dilakukan pengambilan gambar untuk satu program acara televisi. Untuk keperluan itu memang dibutuhkan beberapa anak balita yang berfungsi sebagai ‘penggembira’, mendampingi si pembawa acara. Anak itu adalah salah satunya, panggil saja Cica.
Hari itu akan dilakukan syuting untuk delapan episode sekaligus. Tapi tiap episode singkat saja, karena akan dimasukkan sebagai VT. Dan di tiap pergantian topik, anak-anak tersebut harus juga berganti kostum sesuai tema. Cica, sejak awal pengambilan gambar memang terlihat tidak nyaman dengan situasi yang dihadapinya saat itu. Ruang ganti yang penuh sesak, asap rokok yang menyengat, lampu-lampu yang bersinar panas dan menyilaukan. Orang-orang yang berseliweran silih berganti.
Cica sudah sampai di lokasi sejak sekitar pukul tujuh pagi. Ia sarapan, makan siang bahkan makan malam di tempat yang sama. Mungkin ia merindukan teman-teman dan mainannya di rumah. Atau nikmatnya tidur siang di kamarnya. Hari itu Cica jadi begitu susah diatur. Berulang kali secara tidak sengaja, saya melihat ibunya mencubit lengannya. Sebabnya sudah jelas, karena Cica banyak menolak perintah sang bunda. Dari mulai memakai baju, menyisir, makan sampai memakai sepatu.
Ketika Cica dan teman-temanya sudah berada di tengah set dan aba-aba dari director sudah dimulai, tiba-tiba saja ia menangis. Masalahnya sepele saja, mainan yang sedang dipegangnya, direbut oleh anak lain. Adegan langsung di cut, dan Cica dikeluarkan dari areal set. Wajah sang ibu langsung berubah. Ia menggendong Cica dengan kasar, dan membawanya keluar studio. Tak lama kemudian, terdengarlah suara tangisannya.
Take berikutnya kembali dimulai. Cica sudah berganti pakaian. Saya lihat ia begitu lucu dengan balutan baju, rok mini dan sepatu boot warna kuning. Matanya sembab. Ibunya kembali membawanya ke dalam studio. Sekali lagi Cica menolak untuk bergabung dengan teman-temannya. Raut marah dan tidak sabaran menyelimuti muka ibunya. Untuk ke sekian kali, lengan kecilnyanya diseret dengan kasar keluar dari set. Saya lihat, ia dibawa ibunya ke balik pintu yang ada di dekat situ. Sesaat, kembali terdengar jeritannya menangis. Saya berani bertaruh, Cica baru saja mendapatkan lagi satu cubitan pedas dari sang bunda.
Hati saya begitu trenyuh menyaksikan apa yang terjadi pada Cica. Sementara saya tidak punya kesempatan untuk berbincang-bincang dengan ibundanya. Sekedar mempertanyakan; kenapa perempuan itu begitu memaksa anaknya untuk tampil. Apakah soal honor (konon ‘cuma’ seratus ribu per hari dari pagi sampai selesai), popularitas, mimpi jadi kaya mendadak, atau menyalurkan ‘bakat’ anak?
Selang dua minggu berlalu. Saya bertemu lagi dengan Cica kecil. Masih syuting untuk program yang sama, tapi di lokasi yang berbeda. Kali ini bukan di studio, tapi di sebuah rumah yang cukup besar di bilangan Kebagusan. Cica terlihat ceria. Ketika sedang menunggu set selesai disiapkan, ia melintas di depan saya. “Cica, udah makan belum,” sapa saya berbasa-basi. “Udah,” jawabnya tersipu malu. Saya pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari tahu tentang diri dan keluarganya.
Dari mulut mungilnya, Cica bercerita, walaupun dengan kalimat-kalimat yang kadang membingungkan. Ia tinggal di Condet, dan adik kecilnya tinggal bersama nenek di Tangerang. Cica dan ibunya datang ke lokasi syuting diantar oleh paman dengan mengendarai sepeda motor. Menurutnya, ayahnya saat itu sedang sakit. “Tapi bapak sudah dipijit, sekarang bapak lagi jalan-jalan ke Pramuka”, katanya lagi.
Saya berusaha mencerna perkataannya. Bapak sedang sakit, terus dipijit, lantas jalan-jalan ke Pramuka. Percuma saya tanyakan, pramuka itu nama jalan atau nama suatu tempat. Tentu ia belum mengeri. “Bapak sudah sembuh belum?” Tanya saya penasaran. Jawaban yang saya terima darinya hanyalah gelengan kepala. Sekali lagi saya tidak mengerti apa maksudnya. Ia menjawab ayahnya sudah sembuh, tetapi ketika saya mengulangi pertanyaan yang sama, ia menggeleng. Gadis kecil itu begitu polos, sayang sinar matanya tidak secerah anak-anak seumurnya.
Begitulah kisah Cica. Seorang gadis kecil yang belum genap berusia empat tahun. Dibawa ibunya untuk ‘kerja’ dari pagi hingga matahari terbenam. Naik sepeda motor ke Cipete, ke Kebagusan, entah kemana lagi…dari rumahnya di daerah Condet. I’m speechless, really…just hoping that little girl will always be fine…
kebagusan, march 09
Di studio tersebut sedang dilakukan pengambilan gambar untuk satu program acara televisi. Untuk keperluan itu memang dibutuhkan beberapa anak balita yang berfungsi sebagai ‘penggembira’, mendampingi si pembawa acara. Anak itu adalah salah satunya, panggil saja Cica.
Hari itu akan dilakukan syuting untuk delapan episode sekaligus. Tapi tiap episode singkat saja, karena akan dimasukkan sebagai VT. Dan di tiap pergantian topik, anak-anak tersebut harus juga berganti kostum sesuai tema. Cica, sejak awal pengambilan gambar memang terlihat tidak nyaman dengan situasi yang dihadapinya saat itu. Ruang ganti yang penuh sesak, asap rokok yang menyengat, lampu-lampu yang bersinar panas dan menyilaukan. Orang-orang yang berseliweran silih berganti.
Cica sudah sampai di lokasi sejak sekitar pukul tujuh pagi. Ia sarapan, makan siang bahkan makan malam di tempat yang sama. Mungkin ia merindukan teman-teman dan mainannya di rumah. Atau nikmatnya tidur siang di kamarnya. Hari itu Cica jadi begitu susah diatur. Berulang kali secara tidak sengaja, saya melihat ibunya mencubit lengannya. Sebabnya sudah jelas, karena Cica banyak menolak perintah sang bunda. Dari mulai memakai baju, menyisir, makan sampai memakai sepatu.
Ketika Cica dan teman-temanya sudah berada di tengah set dan aba-aba dari director sudah dimulai, tiba-tiba saja ia menangis. Masalahnya sepele saja, mainan yang sedang dipegangnya, direbut oleh anak lain. Adegan langsung di cut, dan Cica dikeluarkan dari areal set. Wajah sang ibu langsung berubah. Ia menggendong Cica dengan kasar, dan membawanya keluar studio. Tak lama kemudian, terdengarlah suara tangisannya.
Take berikutnya kembali dimulai. Cica sudah berganti pakaian. Saya lihat ia begitu lucu dengan balutan baju, rok mini dan sepatu boot warna kuning. Matanya sembab. Ibunya kembali membawanya ke dalam studio. Sekali lagi Cica menolak untuk bergabung dengan teman-temannya. Raut marah dan tidak sabaran menyelimuti muka ibunya. Untuk ke sekian kali, lengan kecilnyanya diseret dengan kasar keluar dari set. Saya lihat, ia dibawa ibunya ke balik pintu yang ada di dekat situ. Sesaat, kembali terdengar jeritannya menangis. Saya berani bertaruh, Cica baru saja mendapatkan lagi satu cubitan pedas dari sang bunda.
Hati saya begitu trenyuh menyaksikan apa yang terjadi pada Cica. Sementara saya tidak punya kesempatan untuk berbincang-bincang dengan ibundanya. Sekedar mempertanyakan; kenapa perempuan itu begitu memaksa anaknya untuk tampil. Apakah soal honor (konon ‘cuma’ seratus ribu per hari dari pagi sampai selesai), popularitas, mimpi jadi kaya mendadak, atau menyalurkan ‘bakat’ anak?
Selang dua minggu berlalu. Saya bertemu lagi dengan Cica kecil. Masih syuting untuk program yang sama, tapi di lokasi yang berbeda. Kali ini bukan di studio, tapi di sebuah rumah yang cukup besar di bilangan Kebagusan. Cica terlihat ceria. Ketika sedang menunggu set selesai disiapkan, ia melintas di depan saya. “Cica, udah makan belum,” sapa saya berbasa-basi. “Udah,” jawabnya tersipu malu. Saya pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari tahu tentang diri dan keluarganya.
Dari mulut mungilnya, Cica bercerita, walaupun dengan kalimat-kalimat yang kadang membingungkan. Ia tinggal di Condet, dan adik kecilnya tinggal bersama nenek di Tangerang. Cica dan ibunya datang ke lokasi syuting diantar oleh paman dengan mengendarai sepeda motor. Menurutnya, ayahnya saat itu sedang sakit. “Tapi bapak sudah dipijit, sekarang bapak lagi jalan-jalan ke Pramuka”, katanya lagi.
Saya berusaha mencerna perkataannya. Bapak sedang sakit, terus dipijit, lantas jalan-jalan ke Pramuka. Percuma saya tanyakan, pramuka itu nama jalan atau nama suatu tempat. Tentu ia belum mengeri. “Bapak sudah sembuh belum?” Tanya saya penasaran. Jawaban yang saya terima darinya hanyalah gelengan kepala. Sekali lagi saya tidak mengerti apa maksudnya. Ia menjawab ayahnya sudah sembuh, tetapi ketika saya mengulangi pertanyaan yang sama, ia menggeleng. Gadis kecil itu begitu polos, sayang sinar matanya tidak secerah anak-anak seumurnya.
Begitulah kisah Cica. Seorang gadis kecil yang belum genap berusia empat tahun. Dibawa ibunya untuk ‘kerja’ dari pagi hingga matahari terbenam. Naik sepeda motor ke Cipete, ke Kebagusan, entah kemana lagi…dari rumahnya di daerah Condet. I’m speechless, really…just hoping that little girl will always be fine…
kebagusan, march 09
REUNI VERSI SAYA
Apa sih isu paling populer di antara manusia fesbuk saat ini? Kalau dilihat dari statusnya kemarin, sudah jelas pemilu legislative. Selain itu? Apalagi lagi kalau bukan soal ‘reunian’. Buat sebagian orang reuni bisa jadi terdengar begitu menyenangkan. Ada yang tiba-tiba terkenang-kenang dengan cinta monyetnya. Teringat dengan salah satu guru yang ditaksir. Membayangkan si ini sudah seperti apa, si itu sudah bagaimana. Pendek kata, dijamin setiap orang yang menerima satu undangan reuni, pikirannya langsung terbang melayang dengan segala imajinasinya.
Itu bagi sebagian orang. Nah, bagaimana sisanya? Mungkin seperti yang saya rasakan. Reuni? Buat apa’an? Memangnya orang-orang itu masih ingat saya? Jangan-jangan waktu sekolah dulu, mereka bahkan tidak tahu apakah saya ada di muka bumi ini atau tidak.
Masuk sekolah menengah pertama, teman-teman saya rata-rata berasal dari sekolah dasar yang sama, karena masih satu perguruan. Meskipun saat itu sebenarnya kami semua anak baru di SMP itu, tapi karena saya bukan berasal dari SD yang sama, jadi tetap saja saya dianggap anak baru oleh anak-anak ‘baru’ yang lain.
Sempat ‘digencet’ kakak kelas karena menurut mereka saya telah menerima sepucuk surat cinta dari seorang anak laki dari kelas tiga yang ternyata sudah punya pacar. Buat anak baru seperti saya, urusan ‘gencet-menggencet’ yang super dupper tolol itu memang lumayan bikin stress. Dan beberapa hal lain yang malas saya ceritakan di sini. Kesimpulannya, saya tidak punya terlalu banyak kenangan manis ketika duduk di bangku SMP. Meskipun saya masih punya beberapa sahabat yang baik selama tiga tahun bersekolah di situ.
Episode berikutnya. Lulus SMP, saya diterima ke SMU negeri. Tapi karena orangtua saya tidak yakin dengan kualitas sekolah negeri itu, lagi-lagi saya dimasukkan ke sekolah swasta. Untunglah, saya bahagia belajar di situ. Sekolah swasta yang tidak berdasarkan satu agama tertentu. Di situ saya belajar bertoleransi, mengenal berbagai perbedaan setelah sekian lama saya belajar di sekolah yang berlandaskan agama. Di SMU inilah saya mendapat tiga orang teman akrab yang sampai sekarang hubungan kami masih terjalin dengan baik.
Kalau bicara pengalaman lucu selama di SMU ini, mungkin tidak akan ada habisnya. Saya betul-betul menikmati masa remaja di sini. Dari soal bolos, coba-coba merokok, dimarahi guru karena ribut di kelas, ketahuan menyontek…pokoknya sudah semua saya rasakan. Seneng beneeerrr…karena saya melakukannya bersama teman-teman.
Sayang, kebahagiaan saya cuma sampai dua tahun. Naik kelas tiga, saya dipindahkan oleh orangtua saya ke sekolah negeri favorit. Muridnya pintar-pintar. Berada di sekolah itu ibarat terdampar di padang pasir yang gersang dan panas. Hampir setiap hari sebelum ke sekolah, saya menangis. Gimana nggak stress, sudah sekolah favorit, saya masuk di IPA pula. Aduh, pelajarannya sungguh-sungguh bikin kram otak. Apa iya kalau mau jadi wartawan harus juga masuk Biologi? Karena tidak tahan melihat saya menangis setiap hari sebelum berangkat ke sekolah, ibu kembali ke sekolah yang lama, minta saya kembali diijinkan belajar di situ. Tentu saja tidak bisa.
Akhirnya,melalui perjuangan panjang, saya mulai bisa beradaptasi. Dengan pelajarannya, juga dengan teman-teman. Tidak sampai setahun, saya ikut ujian kelulusan. Untunglah saya berhasil lolos, meskipun saya selalu dapat rangking 43 dari 45 anak. Ternyata masih ada yang lebih goblok dari saya…hahaaaa…haaa…!
Kembali ke soal reuni tadi. Sekarang, baru terasa tidak enaknya bila kita pindah sekolah ditengah-tengah kurikulum yang sedang berjalan. Di sekolah A, saya Cuma dua tahun. Banyak teman yang keburu lupa bahwa saya pernah berkawan dengan mereka.Di sekolah B lebih parah lagi , tidak sampai satu tahun. Siapa pula yang mengingat saya, kecuali teman-teman sekelas. Itu juga saya tidak terlalu yakin. Di sekolah C? Kalau yang ini, acara-acara sejenis hanya diadakan dan dihadiri oleh kelompok-kelompok tertentu saja.
Jadi, bila nanti ikutan dalam suatu reuni, mau datang ke reuni sekolah yang mana? Lalu saya mau ngobrol sama siapa? Mau cerita-cerita tentang apa? Rasanya membingungkan juga. Mestinya kan ajang reuni itu menjadi acara yang menyenangkan karena kita bertemu teman-teman lama yang idealnya masih mengingat kita. Sudah dua kali acara reuni dari dua sekolah itu saya lewatkan. Daripada nanti saya ditatap dengan pandangan aneh diikuti pertanyaan: ‘siapa lo?’ Membayangkannya saja saya tidak berani. Betul-betul bikin orang jadi nggak percaya diri.
Tapi saya cukup terhibur dengan sapaan manis dari dua orang teman SD saya melalui fesbuk ini. Teman yang telah terpisah selama hampir tigapuluh tahun , ternyata selalu mengingat saya lewat tulisan-tulisan saya yang dimuat di media massa. Dan tentunya tiga orang sahabat saya yang selalu setia dalam suka dan duka. Mudah-mudahan suatu ketika nanti, saya punya kesempatan untuk mengadakan reuni sendiri, versi saya tentunya…*
Itu bagi sebagian orang. Nah, bagaimana sisanya? Mungkin seperti yang saya rasakan. Reuni? Buat apa’an? Memangnya orang-orang itu masih ingat saya? Jangan-jangan waktu sekolah dulu, mereka bahkan tidak tahu apakah saya ada di muka bumi ini atau tidak.
Masuk sekolah menengah pertama, teman-teman saya rata-rata berasal dari sekolah dasar yang sama, karena masih satu perguruan. Meskipun saat itu sebenarnya kami semua anak baru di SMP itu, tapi karena saya bukan berasal dari SD yang sama, jadi tetap saja saya dianggap anak baru oleh anak-anak ‘baru’ yang lain.
Sempat ‘digencet’ kakak kelas karena menurut mereka saya telah menerima sepucuk surat cinta dari seorang anak laki dari kelas tiga yang ternyata sudah punya pacar. Buat anak baru seperti saya, urusan ‘gencet-menggencet’ yang super dupper tolol itu memang lumayan bikin stress. Dan beberapa hal lain yang malas saya ceritakan di sini. Kesimpulannya, saya tidak punya terlalu banyak kenangan manis ketika duduk di bangku SMP. Meskipun saya masih punya beberapa sahabat yang baik selama tiga tahun bersekolah di situ.
Episode berikutnya. Lulus SMP, saya diterima ke SMU negeri. Tapi karena orangtua saya tidak yakin dengan kualitas sekolah negeri itu, lagi-lagi saya dimasukkan ke sekolah swasta. Untunglah, saya bahagia belajar di situ. Sekolah swasta yang tidak berdasarkan satu agama tertentu. Di situ saya belajar bertoleransi, mengenal berbagai perbedaan setelah sekian lama saya belajar di sekolah yang berlandaskan agama. Di SMU inilah saya mendapat tiga orang teman akrab yang sampai sekarang hubungan kami masih terjalin dengan baik.
Kalau bicara pengalaman lucu selama di SMU ini, mungkin tidak akan ada habisnya. Saya betul-betul menikmati masa remaja di sini. Dari soal bolos, coba-coba merokok, dimarahi guru karena ribut di kelas, ketahuan menyontek…pokoknya sudah semua saya rasakan. Seneng beneeerrr…karena saya melakukannya bersama teman-teman.
Sayang, kebahagiaan saya cuma sampai dua tahun. Naik kelas tiga, saya dipindahkan oleh orangtua saya ke sekolah negeri favorit. Muridnya pintar-pintar. Berada di sekolah itu ibarat terdampar di padang pasir yang gersang dan panas. Hampir setiap hari sebelum ke sekolah, saya menangis. Gimana nggak stress, sudah sekolah favorit, saya masuk di IPA pula. Aduh, pelajarannya sungguh-sungguh bikin kram otak. Apa iya kalau mau jadi wartawan harus juga masuk Biologi? Karena tidak tahan melihat saya menangis setiap hari sebelum berangkat ke sekolah, ibu kembali ke sekolah yang lama, minta saya kembali diijinkan belajar di situ. Tentu saja tidak bisa.
Akhirnya,melalui perjuangan panjang, saya mulai bisa beradaptasi. Dengan pelajarannya, juga dengan teman-teman. Tidak sampai setahun, saya ikut ujian kelulusan. Untunglah saya berhasil lolos, meskipun saya selalu dapat rangking 43 dari 45 anak. Ternyata masih ada yang lebih goblok dari saya…hahaaaa…haaa…!
Kembali ke soal reuni tadi. Sekarang, baru terasa tidak enaknya bila kita pindah sekolah ditengah-tengah kurikulum yang sedang berjalan. Di sekolah A, saya Cuma dua tahun. Banyak teman yang keburu lupa bahwa saya pernah berkawan dengan mereka.Di sekolah B lebih parah lagi , tidak sampai satu tahun. Siapa pula yang mengingat saya, kecuali teman-teman sekelas. Itu juga saya tidak terlalu yakin. Di sekolah C? Kalau yang ini, acara-acara sejenis hanya diadakan dan dihadiri oleh kelompok-kelompok tertentu saja.
Jadi, bila nanti ikutan dalam suatu reuni, mau datang ke reuni sekolah yang mana? Lalu saya mau ngobrol sama siapa? Mau cerita-cerita tentang apa? Rasanya membingungkan juga. Mestinya kan ajang reuni itu menjadi acara yang menyenangkan karena kita bertemu teman-teman lama yang idealnya masih mengingat kita. Sudah dua kali acara reuni dari dua sekolah itu saya lewatkan. Daripada nanti saya ditatap dengan pandangan aneh diikuti pertanyaan: ‘siapa lo?’ Membayangkannya saja saya tidak berani. Betul-betul bikin orang jadi nggak percaya diri.
Tapi saya cukup terhibur dengan sapaan manis dari dua orang teman SD saya melalui fesbuk ini. Teman yang telah terpisah selama hampir tigapuluh tahun , ternyata selalu mengingat saya lewat tulisan-tulisan saya yang dimuat di media massa. Dan tentunya tiga orang sahabat saya yang selalu setia dalam suka dan duka. Mudah-mudahan suatu ketika nanti, saya punya kesempatan untuk mengadakan reuni sendiri, versi saya tentunya…*
KETIKA CINTA DATANG LAGI
Kini
kalau ya
lantas ?
tidak juga akan merubah apa-apa
Kemarin
sekarang
besok
lusa
Tahun lalu
dua tahun yang lalu
tiga tahun
Tapi ia baru saja datang
haruskah kau mengusirnya?
Di hari itu
kau tidak mengundangnya
ia berdiam di sudut jiwamu
anggur telah memenuhi lehernya
sulur-sulurnya mengikat kemana-mana
bila bejana itu belum terisi
apakah yang akan kau lakukan?
kalau ya
lantas ?
tidak juga akan merubah apa-apa
Kemarin
sekarang
besok
lusa
Tahun lalu
dua tahun yang lalu
tiga tahun
Tapi ia baru saja datang
haruskah kau mengusirnya?
Di hari itu
kau tidak mengundangnya
ia berdiam di sudut jiwamu
anggur telah memenuhi lehernya
sulur-sulurnya mengikat kemana-mana
bila bejana itu belum terisi
apakah yang akan kau lakukan?
JURNALISTIK KELOMPOK EMPAT
Kelas saya berisi sekitar 25an anak. Tiga perempatnya adalah laki-laki. Maklum saja, jurusan yang saya pilih adalah Jurnalistik. Jaman saya, masih sedikit perempuan yang berminat di jurusan ini. Lain dengan jurusan Humas, yang memang hampir sebagian besar isinya perempuan.
Hari-hari pertama saya menjalani kuliah Jurnalistik di institut ini, perasaan agak sedikit tertekan. Bagaimana tidak, suasana kelas berbeda 180 derajat dengan kelas saya semasa SMU. Di sekolah menengah atas, teman-teman saya rata-rata wangi. Memakai sepatu dan tas bermerk. Bahkan ada lho yang agak heboh kalau ke sekolah. Andaikan hari itu dia memakai tas merah, maka ia juga akan mengenakan ikat pinggang, sepatu, jepit rambut dan…mobil berwarna merah. Begitu juga bila suatu hari ia memakai tas hitam. Ini bukan imajinasi, tapi demikianlah yang saya lihat ketika itu.
Di kelas Jurnalistik kelompok empat, teman-teman saya beberapa bersandal jepit. Ada juga yang memakai sepatu, mereknya ‘Semoga Awet’, itu pemakainya sendiri yang bilang. Mengenakan pakaian sederhana. Ada yang membawa tas, ada yang cuma mengikat buku-bukunya dengan tali. Bagi yang laki-laki, rata-rata berambut gondrong. Jangan harap mencium wangi parfum mahal diantara mereka. Kalau bau ketek, bau matahari dan rokok, itu biasa.
Ketika menunggu dosen datang, teman laki-laki biasanya saling bercanda satu sama lain. Dengan suara dan tawa yang sangat keras, celaan-celaan dilontarkan dengan sangat frontal. Suasana ramai itu ditambah lagi dengan suara bunyi orang membuang ingus, bertahak sampai bunyi buang angin. Sungguh bukan model mahasiswa yang saya bayangkan sebelumnya. Lebih mirip preman terminal.
Tidak pakai basa-basi, juga tidak berpikir perasaan korban yang sedang jadi bahan ejekan. Saya pun tidak luput dari bahan tertawaan mereka. Tanpa sungkan mereka meledek saya yang tidak bisa mengucapkan huruf ‘R’ dengan sempurna, alias cadel. Sungguh saya tersentak ketika mendengarnya. Seumur hidup, tidak pernah ada yang berani mengejek saya terang-terangan seperti itu.
Selesai kuliah, mereka sering ‘memanen’ hasil kebun yang ada di sekitar kampus. Buah kecapi dan rambutan, kadang-kadang pepaya untuk dimakan bersama. Menurut mereka, uang kuliah yang disetor tiap semester itu sudah termasuk untuk membayar buah-buahan yang mereka petik. ‘Kampus beserta isinya’ begitu kata mereka sambi menggigiti buah yang diambil dari pohon-pohon di kampus.
Hanya satu persamaan saya dengan mereka, selera musik yang kurang lebih sama. Meskipun juga ada yang aneh bagi saya, ternyata ada diantara yang suka tarling; gitar suling. Aliran musik itu juga baru saya ketahui ketika berkumpul dengan teman-teman sekelas saya ini.
Satu semester pertama saya jalani bersama kelompok ini. Saya makin terbiasa dengan tingkah polah mereka yang ajaib itu. Saya pun mulai bisa menikmatinya. Gerombolan kami terdiri dari tujuhbelas orang laki-laki dan empat orang perempuan termasuk saya. Saya mengalami berbagai pengalaman menarik dengan mereka. Bersama merekalah, saya pertama kali merasakan nikmatnya makan dan ngopi di warteg. Sungguh saya senang, karena setiap makan di warteg, saya masih punya sisa banyak uang jajan. Dengan porsi makan saya yang sedikit, waktu itu dengan uang 900 perak, perut saya sudah bisa kenyang plus segar dengan segelas teh es manis.
Para anggota gerombolan kami punya hobi yang sama, yaitu kemping. Hampir tiap bulan kemping. Bahkan saat-saat anak lain belajar menjelang ujian, kami malah berangkat menuju Cilember, tempat favorit kami. Kalau ada yang tanya, “Kok mau ujian kemping?” jawaban kami adalah, “Refreshing sebelum ujian,” (maksa banget yak…hahahaaa…). Untuk urusan kemping, uang tidak pernah jadi masalah buat kami. Dengan tiga ribu perak pun, kami berani berangkat tanpa takut kelaparan atau kehabisan ongkos buat naik kereta.
Sekali lagi, seumur hidup baru kali ini saya ikut kemping. Karena kami bukan berasal dari keluarga kaya, maka bila berkemah, kami selalu membawa segala sesuatunya dari rumah. Dari kompor, penggorengan sampai cobek untuk menggiling cabai. Mungkin hanya kami yang pergi kemping membawa ulekan…hahahaaa….Beras, mie instan dan ikan asin. Ikan asin adalah salah satu menu wajib di waktu kemping. Karena kami selalu mendapatkannya gratis dari salah satu teman kami, yang orangtuanya punya usaha dagang ikan asin di pasar.
Ketika kemping inilah, saya baru tahu caranya memasak nasi, menyalakan kompor minyak, sampai meracik bumbu untuk masak. Dan semuanya justru dikerjakan oleh teman laki-laki. Kami yang perempuan lebih banyak bersantai-santai. Sungguh tidak menyangka, dibalik ‘liarnya’ sikap mereka, ternyata anak-anak ini begitu perhatian dan tanggung jawab.
Namun demikian, bukan berarti kami tidak pernah punya masalah. Masalah yang sering dihadapi kami adalah uang kuliah yang kadang sulit dipenuhi oleh teman-teman. Urusan percintaan tentunya iya juga dong yaaa...hahahaa...jangan dibahas di sini tapi yak...Sebetulnya masih banyak yang ingin saya ceritakan, tapi mungkin bisa berpuluh halaman bahkan menjadi satu buku. Mudah-mudahan di lain waktu bisa saya sambung.
Tigabelas tahun berlalu, sejak kami semua akhirnya lulus dan meninggalkan kampus. Saya tidak bisa dipisahkan dari gerombolan ‘Gardoe’, teman-teman yang saya ceritakan tadi di atas. Mereka mungkin sudah lebih dari sekedar sahabat. Kami saling menyayangi. Kini hampir semua dari kami sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Beberapa diantara kami mendapat jodoh teman satu kampus. Tapi yang mendapat pasangan teman satu kampus dan juga sekelas, cuma saya (ehem…eheemm…).
Tidak ada yang berubah dari mereka, celaan-celaan yang frontal. Caci maki yang begitu jujur. Satu hal yang jarang saya temui dalam kelompok-kelompok pertemanan. Sikap rendah hati dan sederhana dari mereka, menjadi pegangan saya ketika menginginkan sesuatu yang jauh diluar jangkauan.
Karena kesibukan masing-masing, kami mengusahakan bertemu setiap tiga bulan sekali, melalui kegiatan arisan. Kadang kalau sudah begitu rindu, kami tidak menunggu selama itu untuk berjumpa...Semoga saja hubungan ini akan terus terjalin. Terima kasih Tuhan untuk persahabatan yang indah ini.
Hari-hari pertama saya menjalani kuliah Jurnalistik di institut ini, perasaan agak sedikit tertekan. Bagaimana tidak, suasana kelas berbeda 180 derajat dengan kelas saya semasa SMU. Di sekolah menengah atas, teman-teman saya rata-rata wangi. Memakai sepatu dan tas bermerk. Bahkan ada lho yang agak heboh kalau ke sekolah. Andaikan hari itu dia memakai tas merah, maka ia juga akan mengenakan ikat pinggang, sepatu, jepit rambut dan…mobil berwarna merah. Begitu juga bila suatu hari ia memakai tas hitam. Ini bukan imajinasi, tapi demikianlah yang saya lihat ketika itu.
Di kelas Jurnalistik kelompok empat, teman-teman saya beberapa bersandal jepit. Ada juga yang memakai sepatu, mereknya ‘Semoga Awet’, itu pemakainya sendiri yang bilang. Mengenakan pakaian sederhana. Ada yang membawa tas, ada yang cuma mengikat buku-bukunya dengan tali. Bagi yang laki-laki, rata-rata berambut gondrong. Jangan harap mencium wangi parfum mahal diantara mereka. Kalau bau ketek, bau matahari dan rokok, itu biasa.
Ketika menunggu dosen datang, teman laki-laki biasanya saling bercanda satu sama lain. Dengan suara dan tawa yang sangat keras, celaan-celaan dilontarkan dengan sangat frontal. Suasana ramai itu ditambah lagi dengan suara bunyi orang membuang ingus, bertahak sampai bunyi buang angin. Sungguh bukan model mahasiswa yang saya bayangkan sebelumnya. Lebih mirip preman terminal.
Tidak pakai basa-basi, juga tidak berpikir perasaan korban yang sedang jadi bahan ejekan. Saya pun tidak luput dari bahan tertawaan mereka. Tanpa sungkan mereka meledek saya yang tidak bisa mengucapkan huruf ‘R’ dengan sempurna, alias cadel. Sungguh saya tersentak ketika mendengarnya. Seumur hidup, tidak pernah ada yang berani mengejek saya terang-terangan seperti itu.
Selesai kuliah, mereka sering ‘memanen’ hasil kebun yang ada di sekitar kampus. Buah kecapi dan rambutan, kadang-kadang pepaya untuk dimakan bersama. Menurut mereka, uang kuliah yang disetor tiap semester itu sudah termasuk untuk membayar buah-buahan yang mereka petik. ‘Kampus beserta isinya’ begitu kata mereka sambi menggigiti buah yang diambil dari pohon-pohon di kampus.
Hanya satu persamaan saya dengan mereka, selera musik yang kurang lebih sama. Meskipun juga ada yang aneh bagi saya, ternyata ada diantara yang suka tarling; gitar suling. Aliran musik itu juga baru saya ketahui ketika berkumpul dengan teman-teman sekelas saya ini.
Satu semester pertama saya jalani bersama kelompok ini. Saya makin terbiasa dengan tingkah polah mereka yang ajaib itu. Saya pun mulai bisa menikmatinya. Gerombolan kami terdiri dari tujuhbelas orang laki-laki dan empat orang perempuan termasuk saya. Saya mengalami berbagai pengalaman menarik dengan mereka. Bersama merekalah, saya pertama kali merasakan nikmatnya makan dan ngopi di warteg. Sungguh saya senang, karena setiap makan di warteg, saya masih punya sisa banyak uang jajan. Dengan porsi makan saya yang sedikit, waktu itu dengan uang 900 perak, perut saya sudah bisa kenyang plus segar dengan segelas teh es manis.
Para anggota gerombolan kami punya hobi yang sama, yaitu kemping. Hampir tiap bulan kemping. Bahkan saat-saat anak lain belajar menjelang ujian, kami malah berangkat menuju Cilember, tempat favorit kami. Kalau ada yang tanya, “Kok mau ujian kemping?” jawaban kami adalah, “Refreshing sebelum ujian,” (maksa banget yak…hahahaaa…). Untuk urusan kemping, uang tidak pernah jadi masalah buat kami. Dengan tiga ribu perak pun, kami berani berangkat tanpa takut kelaparan atau kehabisan ongkos buat naik kereta.
Sekali lagi, seumur hidup baru kali ini saya ikut kemping. Karena kami bukan berasal dari keluarga kaya, maka bila berkemah, kami selalu membawa segala sesuatunya dari rumah. Dari kompor, penggorengan sampai cobek untuk menggiling cabai. Mungkin hanya kami yang pergi kemping membawa ulekan…hahahaaa….Beras, mie instan dan ikan asin. Ikan asin adalah salah satu menu wajib di waktu kemping. Karena kami selalu mendapatkannya gratis dari salah satu teman kami, yang orangtuanya punya usaha dagang ikan asin di pasar.
Ketika kemping inilah, saya baru tahu caranya memasak nasi, menyalakan kompor minyak, sampai meracik bumbu untuk masak. Dan semuanya justru dikerjakan oleh teman laki-laki. Kami yang perempuan lebih banyak bersantai-santai. Sungguh tidak menyangka, dibalik ‘liarnya’ sikap mereka, ternyata anak-anak ini begitu perhatian dan tanggung jawab.
Namun demikian, bukan berarti kami tidak pernah punya masalah. Masalah yang sering dihadapi kami adalah uang kuliah yang kadang sulit dipenuhi oleh teman-teman. Urusan percintaan tentunya iya juga dong yaaa...hahahaa...jangan dibahas di sini tapi yak...Sebetulnya masih banyak yang ingin saya ceritakan, tapi mungkin bisa berpuluh halaman bahkan menjadi satu buku. Mudah-mudahan di lain waktu bisa saya sambung.
Tigabelas tahun berlalu, sejak kami semua akhirnya lulus dan meninggalkan kampus. Saya tidak bisa dipisahkan dari gerombolan ‘Gardoe’, teman-teman yang saya ceritakan tadi di atas. Mereka mungkin sudah lebih dari sekedar sahabat. Kami saling menyayangi. Kini hampir semua dari kami sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Beberapa diantara kami mendapat jodoh teman satu kampus. Tapi yang mendapat pasangan teman satu kampus dan juga sekelas, cuma saya (ehem…eheemm…).
Tidak ada yang berubah dari mereka, celaan-celaan yang frontal. Caci maki yang begitu jujur. Satu hal yang jarang saya temui dalam kelompok-kelompok pertemanan. Sikap rendah hati dan sederhana dari mereka, menjadi pegangan saya ketika menginginkan sesuatu yang jauh diluar jangkauan.
Karena kesibukan masing-masing, kami mengusahakan bertemu setiap tiga bulan sekali, melalui kegiatan arisan. Kadang kalau sudah begitu rindu, kami tidak menunggu selama itu untuk berjumpa...Semoga saja hubungan ini akan terus terjalin. Terima kasih Tuhan untuk persahabatan yang indah ini.
KERUBIN EKATERINA SIMANJUNTAK
Matanya bulat. Hidungnya pesek, tidak lebih mancung dari hidung kucing Persia. Pipinya sedikit tembam, tapi tubuhnya cenderung kurus. Rambutnya hitam lurus dan tebal, padahal dulunya bergelombang seperti milik ayah dan ibunya. Dengarkanlah bila ia menyanyi, suaranya sungguh sangat sumbang. Seringkali memancing amarah Serafina yang lebih peka terhadap musik. “Bukan begitu adiiiikkkk….” demikian ujar sang kakak jika mereka sedang bernyanyi bersama.
Kerubin Ekaterina telah bergelung di perutku selama enam bulan tanpa aku sadari keberadaannya. Selama itu pula aku sibuk beraktivitas. Mencuci pakaian, memasak, menyapu, mengepel lantai, bahkan mengangkat karung-karung berisi batu koral yang akan kupakai untuk menghias halaman rumah.
Untunglah ia lahir dengan sehat. Semua anggota tubuhnya lengkap. Nilai APGAR pun bagus. Hanya saja, ketika pertama kali melihat wajahnya, rasanya ingin menangis. Berbeda jauh dengan Serafina yang lahir lebih dulu. Kakaknya lahir dengan kulit yang putih bersih. Rambut lebat hitam berkilat. Bulu mata lentik dan jemari yang panjang. Bibir merekah warna merah jambu. Hampir setiap pengunjung yang datang membesuk ke ruang Imanuel di Carolus, selalu mampir ke tempatku menggendong Serafina. Kenal tidak kenal, semua memuji kecantikan bayi perempuanku itu.
Muka Kerubin ketika baru dilahirkan, sekali lagi sungguh membuatku pilu. Rambutnya tipis. Matanya segaris mirip encim-encim dan bulu matanya hanya satu atau dua millimeter panjangnya. Hidungnya cuma kelihatan dua lubangnya. Bibirnya tipis berwarna kecoklatan. Kulitnya gelap dan keriput karena beratnya tidak lebih dari 2600 gram. Bahkan ketika dibawa pulang, beratnya tinggal 2400 gram. “Anakmu kok kayak kodok…” begitu ucapan spontan sahabat dekatku. Kejujuran yang sangat menyakitkan, tapi memang begitu adanya. Kerubin memang lebih mirip kodok ketimbang anak manusia saat itu.Tapi Charlie selalu menghiburku. Sejelek apapun dia, yang penting sehat jasmani dan rohaninya.
Aku tidak siap dengan kehadiran anak kedua yang begitu dekat jarak lahirnya dengan anak pertama. Maka aku juga tidak mau repot-repot memilihkan nama untuk bayi perempuanku yang kedua ini. Nama Kerubin diambil dari Alkitab. Serafina dan Kerubin menurut Kisah Perjanjian Lama adalah mahluk-mahluk yang mengelilingi tahta Allah. Ekaterina diambil dari nama ice skater terkenal dari Rusia. Jadilah Kerubin Ekaterina. Menurutku nama yang aneh, tapi biarlah…
Kerubin menjadi bayi yang mandiri. Ia jarang kutimang. Aku sibuk dengan urusan rumah tangga dan mengurus kakaknya yang belum lagi genap setahun umurnya. Belum bisa jalan. Dan tidak ada yang membantuku saat itu, karena aku tidak mampu membayar pembantu apalagi babysitter.
Setiap hari Kerubin kuletakkan di dalam boxnya. Ia hanya kugendong saat kususui. Bila ia mengantuk, ia menghisap ibu jarinya sampai tertidur. Kerubin juga jarang menangis. Ia tidak rewel meskipun hanya diberi ASI selama enam bulan.
Ketika ia mulai bisa merangkak dan berdiri, Kerubin mulai bosan berada di dalam boxnya. Sampai suatu hari aku mendapatinya sedang ‘nangkring’ bergelantungan di pintu boxnya. Rupanya ia ingin keluar. Aku tidak mau ambil resiko, maka box itu aku bongkar, kubiarkan ia berlatih sendiri merayap kemudian berjalan.
Aku, Charlie dan Serafina punya ritual khusus sebelum tidur, yaitu membaca buku bersama. Tapi Kerubin tidak suka membaca. Ia sibuk dengan mainannya ketika kami sudah mulai asik dengan buku masing-masing. Aku tidak memaksanya untuk ikut membaca, daripada membuatnya makin apatis terhadap buku. Namun, lama kelamaan ia bosan juga setiap kali melihat manusia disekelilingnya sibuk membaca. Malu-malu ia meminta ayahnya untuk dibacakan satu cerita bergambar tokoh kesayangannya, Winnie the Pooh. Senang sekali melihat minat membacanya mulai tumbuh. Hanya kegemaran barunya itu sempat membuat aku dan ayahnya uring-uringan. Bayangkan saja, dalam sehari ia bisa minta membacakan cerita yang sama sampai lima kali berulang-ulang!
Kerubin Ekaterina kini berumur delapan tahun, kelas empat SD. Kulitnya tidak segelap dan keriput seperti saat baru dilahirkan. Hidungnya masih pesek, tapi mulai kelihatan sedikit batang hidungnya. Matanya bulat bundar seperti bulan purnama, tidak segaris lagi seperti dulu. Dan bulu matanya panjang dan lentik. Beberapa orang bertanya, apakah aku menggunting bulu matanya agar tumbuh lebih panjang? Aku katakan tidak, karena semua yang ada padanya kuterima dengan rasa syukur. Rambutnya juga mulai lebat, hitam dan berkilat. Pendek kata, ia tidak lagi terlihat seperti kodok.
Kerubin tumbuh menjadi anak yang periang. Ia adalah obat yang paling mujarab buatku di kala sakit, sedih maupun susah. Pelukan dan ciumannya sayangnya selalu ia berikan untukku, pun ketika aku habis memarahinya karena satu hal. Dalam satu hari ia tidak pernah lupa bilang ‘I love you mama’. Ia selalu memuji diriku cantik (walaupun aku tahu aku sama sekali tidak cantik seperti yang ia ungkapkan).
Ia senang menari dengan gerakan yang menurutnya tari balet. Ia senang bernyanyi meskipun suaranya tidak pernah singkron dengan nada keyboard yang ia mainkan sendiri. Ia menabung uang jajannya untuk membeli ikan hias dan komik Tintin. Ia tergila-gila pada permainan bulu tangkis. Ia mengimbangi sifat Serafina kakaknya yang selalu serius. Ia meramaikan isi rumah dengan tingkahnya yang ia sengaja buat agar kami semua tertawa. Lagu ‘Tak Gendong’ Mbah Surip, Kerubinlah yang pertama kali menyanyikannya di rumah, entah ia dengar dari mana. Ia selalu menyantap habis masakanku yang menurutnya paling enak sedunia, walau hanya kuberi bawang merah, bawang putih dan garam tanpa bumbu penyedap.
Kerubin Ekaterina adalah bonus, hadiah ekstra terindah yang diberikan untukku. Tidak terbayangkan bila ia tidak ada diantara kami. Terima kasih kepada Ibuku yang telah mengingatkan aku untuk mempertahankannya ketika aku berkeras tidak mau menerima kehadirannya di dalam perutku. Kerubin yang manis, Kerubin yang lucu, yang selalu akan menjadi kecintaanku...
I do love you my little frog :)
Kerubin Ekaterina telah bergelung di perutku selama enam bulan tanpa aku sadari keberadaannya. Selama itu pula aku sibuk beraktivitas. Mencuci pakaian, memasak, menyapu, mengepel lantai, bahkan mengangkat karung-karung berisi batu koral yang akan kupakai untuk menghias halaman rumah.
Untunglah ia lahir dengan sehat. Semua anggota tubuhnya lengkap. Nilai APGAR pun bagus. Hanya saja, ketika pertama kali melihat wajahnya, rasanya ingin menangis. Berbeda jauh dengan Serafina yang lahir lebih dulu. Kakaknya lahir dengan kulit yang putih bersih. Rambut lebat hitam berkilat. Bulu mata lentik dan jemari yang panjang. Bibir merekah warna merah jambu. Hampir setiap pengunjung yang datang membesuk ke ruang Imanuel di Carolus, selalu mampir ke tempatku menggendong Serafina. Kenal tidak kenal, semua memuji kecantikan bayi perempuanku itu.
Muka Kerubin ketika baru dilahirkan, sekali lagi sungguh membuatku pilu. Rambutnya tipis. Matanya segaris mirip encim-encim dan bulu matanya hanya satu atau dua millimeter panjangnya. Hidungnya cuma kelihatan dua lubangnya. Bibirnya tipis berwarna kecoklatan. Kulitnya gelap dan keriput karena beratnya tidak lebih dari 2600 gram. Bahkan ketika dibawa pulang, beratnya tinggal 2400 gram. “Anakmu kok kayak kodok…” begitu ucapan spontan sahabat dekatku. Kejujuran yang sangat menyakitkan, tapi memang begitu adanya. Kerubin memang lebih mirip kodok ketimbang anak manusia saat itu.Tapi Charlie selalu menghiburku. Sejelek apapun dia, yang penting sehat jasmani dan rohaninya.
Aku tidak siap dengan kehadiran anak kedua yang begitu dekat jarak lahirnya dengan anak pertama. Maka aku juga tidak mau repot-repot memilihkan nama untuk bayi perempuanku yang kedua ini. Nama Kerubin diambil dari Alkitab. Serafina dan Kerubin menurut Kisah Perjanjian Lama adalah mahluk-mahluk yang mengelilingi tahta Allah. Ekaterina diambil dari nama ice skater terkenal dari Rusia. Jadilah Kerubin Ekaterina. Menurutku nama yang aneh, tapi biarlah…
Kerubin menjadi bayi yang mandiri. Ia jarang kutimang. Aku sibuk dengan urusan rumah tangga dan mengurus kakaknya yang belum lagi genap setahun umurnya. Belum bisa jalan. Dan tidak ada yang membantuku saat itu, karena aku tidak mampu membayar pembantu apalagi babysitter.
Setiap hari Kerubin kuletakkan di dalam boxnya. Ia hanya kugendong saat kususui. Bila ia mengantuk, ia menghisap ibu jarinya sampai tertidur. Kerubin juga jarang menangis. Ia tidak rewel meskipun hanya diberi ASI selama enam bulan.
Ketika ia mulai bisa merangkak dan berdiri, Kerubin mulai bosan berada di dalam boxnya. Sampai suatu hari aku mendapatinya sedang ‘nangkring’ bergelantungan di pintu boxnya. Rupanya ia ingin keluar. Aku tidak mau ambil resiko, maka box itu aku bongkar, kubiarkan ia berlatih sendiri merayap kemudian berjalan.
Aku, Charlie dan Serafina punya ritual khusus sebelum tidur, yaitu membaca buku bersama. Tapi Kerubin tidak suka membaca. Ia sibuk dengan mainannya ketika kami sudah mulai asik dengan buku masing-masing. Aku tidak memaksanya untuk ikut membaca, daripada membuatnya makin apatis terhadap buku. Namun, lama kelamaan ia bosan juga setiap kali melihat manusia disekelilingnya sibuk membaca. Malu-malu ia meminta ayahnya untuk dibacakan satu cerita bergambar tokoh kesayangannya, Winnie the Pooh. Senang sekali melihat minat membacanya mulai tumbuh. Hanya kegemaran barunya itu sempat membuat aku dan ayahnya uring-uringan. Bayangkan saja, dalam sehari ia bisa minta membacakan cerita yang sama sampai lima kali berulang-ulang!
Kerubin Ekaterina kini berumur delapan tahun, kelas empat SD. Kulitnya tidak segelap dan keriput seperti saat baru dilahirkan. Hidungnya masih pesek, tapi mulai kelihatan sedikit batang hidungnya. Matanya bulat bundar seperti bulan purnama, tidak segaris lagi seperti dulu. Dan bulu matanya panjang dan lentik. Beberapa orang bertanya, apakah aku menggunting bulu matanya agar tumbuh lebih panjang? Aku katakan tidak, karena semua yang ada padanya kuterima dengan rasa syukur. Rambutnya juga mulai lebat, hitam dan berkilat. Pendek kata, ia tidak lagi terlihat seperti kodok.
Kerubin tumbuh menjadi anak yang periang. Ia adalah obat yang paling mujarab buatku di kala sakit, sedih maupun susah. Pelukan dan ciumannya sayangnya selalu ia berikan untukku, pun ketika aku habis memarahinya karena satu hal. Dalam satu hari ia tidak pernah lupa bilang ‘I love you mama’. Ia selalu memuji diriku cantik (walaupun aku tahu aku sama sekali tidak cantik seperti yang ia ungkapkan).
Ia senang menari dengan gerakan yang menurutnya tari balet. Ia senang bernyanyi meskipun suaranya tidak pernah singkron dengan nada keyboard yang ia mainkan sendiri. Ia menabung uang jajannya untuk membeli ikan hias dan komik Tintin. Ia tergila-gila pada permainan bulu tangkis. Ia mengimbangi sifat Serafina kakaknya yang selalu serius. Ia meramaikan isi rumah dengan tingkahnya yang ia sengaja buat agar kami semua tertawa. Lagu ‘Tak Gendong’ Mbah Surip, Kerubinlah yang pertama kali menyanyikannya di rumah, entah ia dengar dari mana. Ia selalu menyantap habis masakanku yang menurutnya paling enak sedunia, walau hanya kuberi bawang merah, bawang putih dan garam tanpa bumbu penyedap.
Kerubin Ekaterina adalah bonus, hadiah ekstra terindah yang diberikan untukku. Tidak terbayangkan bila ia tidak ada diantara kami. Terima kasih kepada Ibuku yang telah mengingatkan aku untuk mempertahankannya ketika aku berkeras tidak mau menerima kehadirannya di dalam perutku. Kerubin yang manis, Kerubin yang lucu, yang selalu akan menjadi kecintaanku...
I do love you my little frog :)
Langganan:
Postingan (Atom)