Kelas saya berisi sekitar 25an anak. Tiga perempatnya adalah laki-laki. Maklum saja, jurusan yang saya pilih adalah Jurnalistik. Jaman saya, masih sedikit perempuan yang berminat di jurusan ini. Lain dengan jurusan Humas, yang memang hampir sebagian besar isinya perempuan.
Hari-hari pertama saya menjalani kuliah Jurnalistik di institut ini, perasaan agak sedikit tertekan. Bagaimana tidak, suasana kelas berbeda 180 derajat dengan kelas saya semasa SMU. Di sekolah menengah atas, teman-teman saya rata-rata wangi. Memakai sepatu dan tas bermerk. Bahkan ada lho yang agak heboh kalau ke sekolah. Andaikan hari itu dia memakai tas merah, maka ia juga akan mengenakan ikat pinggang, sepatu, jepit rambut dan…mobil berwarna merah. Begitu juga bila suatu hari ia memakai tas hitam. Ini bukan imajinasi, tapi demikianlah yang saya lihat ketika itu.
Di kelas Jurnalistik kelompok empat, teman-teman saya beberapa bersandal jepit. Ada juga yang memakai sepatu, mereknya ‘Semoga Awet’, itu pemakainya sendiri yang bilang. Mengenakan pakaian sederhana. Ada yang membawa tas, ada yang cuma mengikat buku-bukunya dengan tali. Bagi yang laki-laki, rata-rata berambut gondrong. Jangan harap mencium wangi parfum mahal diantara mereka. Kalau bau ketek, bau matahari dan rokok, itu biasa.
Ketika menunggu dosen datang, teman laki-laki biasanya saling bercanda satu sama lain. Dengan suara dan tawa yang sangat keras, celaan-celaan dilontarkan dengan sangat frontal. Suasana ramai itu ditambah lagi dengan suara bunyi orang membuang ingus, bertahak sampai bunyi buang angin. Sungguh bukan model mahasiswa yang saya bayangkan sebelumnya. Lebih mirip preman terminal.
Tidak pakai basa-basi, juga tidak berpikir perasaan korban yang sedang jadi bahan ejekan. Saya pun tidak luput dari bahan tertawaan mereka. Tanpa sungkan mereka meledek saya yang tidak bisa mengucapkan huruf ‘R’ dengan sempurna, alias cadel. Sungguh saya tersentak ketika mendengarnya. Seumur hidup, tidak pernah ada yang berani mengejek saya terang-terangan seperti itu.
Selesai kuliah, mereka sering ‘memanen’ hasil kebun yang ada di sekitar kampus. Buah kecapi dan rambutan, kadang-kadang pepaya untuk dimakan bersama. Menurut mereka, uang kuliah yang disetor tiap semester itu sudah termasuk untuk membayar buah-buahan yang mereka petik. ‘Kampus beserta isinya’ begitu kata mereka sambi menggigiti buah yang diambil dari pohon-pohon di kampus.
Hanya satu persamaan saya dengan mereka, selera musik yang kurang lebih sama. Meskipun juga ada yang aneh bagi saya, ternyata ada diantara yang suka tarling; gitar suling. Aliran musik itu juga baru saya ketahui ketika berkumpul dengan teman-teman sekelas saya ini.
Satu semester pertama saya jalani bersama kelompok ini. Saya makin terbiasa dengan tingkah polah mereka yang ajaib itu. Saya pun mulai bisa menikmatinya. Gerombolan kami terdiri dari tujuhbelas orang laki-laki dan empat orang perempuan termasuk saya. Saya mengalami berbagai pengalaman menarik dengan mereka. Bersama merekalah, saya pertama kali merasakan nikmatnya makan dan ngopi di warteg. Sungguh saya senang, karena setiap makan di warteg, saya masih punya sisa banyak uang jajan. Dengan porsi makan saya yang sedikit, waktu itu dengan uang 900 perak, perut saya sudah bisa kenyang plus segar dengan segelas teh es manis.
Para anggota gerombolan kami punya hobi yang sama, yaitu kemping. Hampir tiap bulan kemping. Bahkan saat-saat anak lain belajar menjelang ujian, kami malah berangkat menuju Cilember, tempat favorit kami. Kalau ada yang tanya, “Kok mau ujian kemping?” jawaban kami adalah, “Refreshing sebelum ujian,” (maksa banget yak…hahahaaa…). Untuk urusan kemping, uang tidak pernah jadi masalah buat kami. Dengan tiga ribu perak pun, kami berani berangkat tanpa takut kelaparan atau kehabisan ongkos buat naik kereta.
Sekali lagi, seumur hidup baru kali ini saya ikut kemping. Karena kami bukan berasal dari keluarga kaya, maka bila berkemah, kami selalu membawa segala sesuatunya dari rumah. Dari kompor, penggorengan sampai cobek untuk menggiling cabai. Mungkin hanya kami yang pergi kemping membawa ulekan…hahahaaa….Beras, mie instan dan ikan asin. Ikan asin adalah salah satu menu wajib di waktu kemping. Karena kami selalu mendapatkannya gratis dari salah satu teman kami, yang orangtuanya punya usaha dagang ikan asin di pasar.
Ketika kemping inilah, saya baru tahu caranya memasak nasi, menyalakan kompor minyak, sampai meracik bumbu untuk masak. Dan semuanya justru dikerjakan oleh teman laki-laki. Kami yang perempuan lebih banyak bersantai-santai. Sungguh tidak menyangka, dibalik ‘liarnya’ sikap mereka, ternyata anak-anak ini begitu perhatian dan tanggung jawab.
Namun demikian, bukan berarti kami tidak pernah punya masalah. Masalah yang sering dihadapi kami adalah uang kuliah yang kadang sulit dipenuhi oleh teman-teman. Urusan percintaan tentunya iya juga dong yaaa...hahahaa...jangan dibahas di sini tapi yak...Sebetulnya masih banyak yang ingin saya ceritakan, tapi mungkin bisa berpuluh halaman bahkan menjadi satu buku. Mudah-mudahan di lain waktu bisa saya sambung.
Tigabelas tahun berlalu, sejak kami semua akhirnya lulus dan meninggalkan kampus. Saya tidak bisa dipisahkan dari gerombolan ‘Gardoe’, teman-teman yang saya ceritakan tadi di atas. Mereka mungkin sudah lebih dari sekedar sahabat. Kami saling menyayangi. Kini hampir semua dari kami sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Beberapa diantara kami mendapat jodoh teman satu kampus. Tapi yang mendapat pasangan teman satu kampus dan juga sekelas, cuma saya (ehem…eheemm…).
Tidak ada yang berubah dari mereka, celaan-celaan yang frontal. Caci maki yang begitu jujur. Satu hal yang jarang saya temui dalam kelompok-kelompok pertemanan. Sikap rendah hati dan sederhana dari mereka, menjadi pegangan saya ketika menginginkan sesuatu yang jauh diluar jangkauan.
Karena kesibukan masing-masing, kami mengusahakan bertemu setiap tiga bulan sekali, melalui kegiatan arisan. Kadang kalau sudah begitu rindu, kami tidak menunggu selama itu untuk berjumpa...Semoga saja hubungan ini akan terus terjalin. Terima kasih Tuhan untuk persahabatan yang indah ini.
Arsip Blog
-
▼
2010
(22)
-
▼
Mei
(22)
- MENJADI SEORANG AYAH BECOMING A FATHER
- IBU DAN WARTAWAN
- NAMAKU ADALAH...
- IBU DAN PERAWAN TUA
- KAKEK BAGIR BUKAN BAPAK BAGIR
- AKU CINTA INDONESIA
- HOW GOD CREATED A MILLION FACES
- 360 ANDERSON COOPER
- SAVED BY A SPIDER
- FORBIDDEN LOVE
- SEBOTOL PARFUM
- ROCK LIKE NEVER BEFORE?
- DOC MART & MINI SKIRT
- OH MY BUTT!
- KRISIS EKONOMI TIDAK MAMPIR KE SINI
- ORGEL
- SUATU KETIKA DI LOKASI SHOOTING
- REUNI VERSI SAYA
- KETIKA CINTA DATANG LAGI
- JURNALISTIK KELOMPOK EMPAT
- KERUBIN EKATERINA SIMANJUNTAK
- THE PRINCE AND THE PAUPER
-
▼
Mei
(22)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar