Penonton perempuan juga banyak. Mereka memakai celana pendek, atasan tank top, sepatu high heels dan membawa handbag. Saya sempat ragu, jangan-jangan saya salah masuk ke arena panggungnya Backstreet Boys, ataukah sedang ada Midnight Sale di Ancol?
Tidak banyak konser musik yang pernah saya saksikan. Konser pertama yang saya tonton adalah Europe. Group musik rock dari Swedia yang terdiri dari lima personil yaitu Joey Tempest, Mic Michaeli, John Leven, Kee Marcello dan Ian Haughland. Jaman itu lagu The Final Countdown cukup ngetop di Jakarta. Lagu-lagu lain seperti On Broken Wings, Cherokee, Rock The Night juga lumayan akrab di telinga.
Diadakan di Ancol, kalau tidak salah di arena Drive In. Tahunnya, saya benar-benar lupa, mungkin antara tahun 1990-1991. Harga tiketnya 15 ribu, masih terasa mahal buat mahasiswa seperti saya. Tapi, kapan lagi melihat aksi Joey Tempest dan kawan-kawan. Konser Europe saat itu tidak terlalu dipadati pengunjung. Saya dengan bebas bisa bergerak menikmati alunan musik dan tampang keren empat cowok bule itu. Penonton tertib dan hampir setiap lagu mereka ikut bernyanyi. Kelihatanlah kalau mereka memang ngefans sama group ini.
Konser musik berikutnya yang saya tonton adalah Metallica. Mungkin ini adalah yang paling heboh. Mereka manggung di Stadion Lebak Bulus, 10 April 1993. Waktu itu harga tiketnya kalau tidak salah di kisaran 30 ribu-150 ribu perak. Saya beli yang kelas festival, dibandrol 45 ribu. Buat kantong mahasiswa, dulu segitu itu rasanya mahal banget. Ya, tapi kapan lagi nonton Metallica…sebab selain musim panas dan hujan, di negeri ini sekarang juga ada musim bom. Jadi belum tentu mereka mau main lagi di Jakarta.
Rata-rata penonton memang lebih banyak laki-laki. Ada juga perempuan seperti saya, tapi jumlahnya sedikit sekali. Pakaian mereka kebanyakan kaus bergambar group-group metal. Rambut gondrong, tangan dan leher berhias aseoris layaknya penyanyi rock. Penonton perempuan kurang lebih sama penampilannya. Jauh dari kesan feminim. Iyalah…masak nonton musik rock, pakai celana pendek, atasan tanktop, sepatu high heels dan bawa handbag?
Sound system yang bagus, penonton yang antusias membuat suasana konser begitu terasa. Apalagi saat lagu The Unforgiven dimainkan, lampu digelapkan, semua penonton bernyanyi sambil mengangkat tangan dan menyalakan korek api. Rasanya merinding, menyaksikan Metallica sendiri yang beraksi depan saya.
Ketika Master of Puppets, Wherever I May Roam, And Justice For All dan seterusnya, dilantunkan oleh suara khas Hetfield, para penonton tidak ketinggalan ber-head banger. Meskipun sempat terjadi aksi dorong mendorong, tapi tidak sampai terjadi kekisruhan. Suguhan yang sungguh solid dari Hetfield, Hammet, Ulrich dan Newsted. Dari lagu pertama sampai lagu terakhir, penonton tidak henti ikut bernyanyi.
Puas rasanya melihat penampilan mereka berempat. Posisi saya berada tepat di depan panggung. Setiap tetes keringat yang keluar dari para personil bisa saya lihat dengan jelas. Bahkan Charles berhasil mendapatkan pick gitar berwarna hijau yang dilempar Hetfield ke arah penonton.
Saking asiknya larut dalam suasana konser itu, bahkan saya tidak tahu, bahwa di pintu masuk stadion telah terjadi keributan akibat calon penonton yang marah tidak kebagian tiket, tapi ingin menerobos masuk. Saya sempat melihat kepulan asap dari arah pintu utama stadion. Untunglah api tidak membesar.
Gara-gara kerusuhan itu, saya bersama empat orang teman lainnya terpaksa jalan kaki kadang setengah berlari, dari stadion Lebak Bulus sampai ke pertigaan Pasar Minggu. Tidak ada kendaraan yang berani melintas, karena sepanjang jalan sudah dijaga penuh oleh polisi dan prajurit. Dan selama dalam perjalanan pulang itu, bokong dan kaki saya dua kali kena pentungan tentara…hahaa…haa…
Konser musik yang ketiga adalah Fire House. Manggung di Stadion Sumantri Brojonegoro, Kuningan, kalau tidak salah antara tahun 1996-1997. Nah, saya sudah jadi wartawan. Lumayan dapat akses ke back stage dan melihat dari dekat penampilan mereka. Penonton Fire House hampir sama dengan karakter penonton yang saya temui dalam konser Europe maupun Metallica. Rata-rata berpakaian hitam, berambut gondrong dst.
Dengan lagu-lagu sweet rocknya, Bill Leverty, CJ Snare, Perry Richardson dan Michael Foster bisa membawa penontonnya menikmati lagu-lagu mereka. Lazimnya dalam sebuah pertunjukan konser rock, penonton dengan bebasnya ikut bernyanyi. Siapa sih yang tidak tahu lagu Love of A Lifetime, I Live My Live For You, You Are My Religion?
Penampilan Mr. Big di Acol, Pantai Carnaval adalah pertunjukan musik pertama yang saya datangi setelah 12 tahun absen. Saya tidak tahu, kenapa sejak memasuki arena panggung, terasa ada yang janggal. Para penonton saya perhatikan kebanyakan para ABG. Penonton perempuan juga banyak. Mereka memakai celana pendek, atasan tank top, sepatu high heels dan membawa handbag. Saya sempat ragu, jangan-jangan saya salah masuk ke arena panggungnya Backstreet Boys, ataukah sedang ada Midnight Sale di Ancol?
Di konser Mr. Big ini, saya tidak merasakan aura seperti yang pernah saya rasakan di pertunjukan group rock sebelumnya. Apakah memang sudah seperti ini setelah sekian lama saya tidak melihat pertunjukkan musik, sungguh tidak mengerti.
Lagu pertama adalah Daddy, Brother, Lover, Little Boy. Eric Martin membawakannya dengan baik. Tapi tidak didukung oleh sound system yang beres. Treble terdengar begitu nyaring, sementara dentuman bas tidak terasa getarannya. Saya masih berharap di lagu berikutnya akan ada perbaikan. Ternyata tidak. Sampai lagu terakhir sound system masih tetap begitu. Kasihan sekali penampilan solo Paul Gilbert yang kemudian berjam-in dengan Billy Sheehan, tidak terasa gregetnya.
Kemudian penonton…kok tidak kedengaran suaranya mengikuti Martin bernyanyi? Sebenarnya pada tahu Mr. Big nggak yaa…Colorado Bulldog, Take Over, Green-Tinted Sixties Mind dibawakan oleh mereka dengan semangat, tapi saya perhatikan penonton kok banyak yang diam saja. Tidak ada yang menggerakkan tubuh mengikuti irama, pun hanya beberapa gelintir yang ikut menyanyi.
Tapi ketika To Be With You, Goin’ Where The Wind Blows dan Take My Heart When You dikeluarkan, barulah terdengar ramai suara penonton. Hmm… saya paham sekarang, mereka ini pasti penggemar cd kompilasi Love Songs yang banyak beredar di pasar, hahaaa…Pantas saja suasananya berbeda sekali dengan yang saya rasakan ketika menonton konser-konser musik rock sebelumnya.
Kesimpulannya adalah, saya kecewa dengan penyelenggara konser Mr. Big kemarin. Konser itu adalah konser reuni antara Eric Martin, Paul Gilbert, Billy Sheehan dan Pat Torpey. Karena sebelumnya Paul Gilbert sudah meninggalkan Mr. Big di tahun 1999 silam. Namun kenapa panitia tidak menyediakan sound system yang representatif untuk gitaris sekelas Paul Gilbert? Saya tidak tahu. Bahkan betotan bass Billy Sheehan yang mestinya mantap pun jadi terdengar mono. Sementara itu, di sekitar lokasi dimana-mana terpampang tulisan 'Rock! Like Never Before!'. Memang benar, baru sekali ini saya melihat pertunjukan musik yang model begini. Menonton konser Mr. Big di Pantai Carnaval kemarin, ibarat mendengarkan kaset kusut dari sebuah mini compo butut.
Arsip Blog
-
▼
2010
(22)
-
▼
Mei
(22)
- MENJADI SEORANG AYAH BECOMING A FATHER
- IBU DAN WARTAWAN
- NAMAKU ADALAH...
- IBU DAN PERAWAN TUA
- KAKEK BAGIR BUKAN BAPAK BAGIR
- AKU CINTA INDONESIA
- HOW GOD CREATED A MILLION FACES
- 360 ANDERSON COOPER
- SAVED BY A SPIDER
- FORBIDDEN LOVE
- SEBOTOL PARFUM
- ROCK LIKE NEVER BEFORE?
- DOC MART & MINI SKIRT
- OH MY BUTT!
- KRISIS EKONOMI TIDAK MAMPIR KE SINI
- ORGEL
- SUATU KETIKA DI LOKASI SHOOTING
- REUNI VERSI SAYA
- KETIKA CINTA DATANG LAGI
- JURNALISTIK KELOMPOK EMPAT
- KERUBIN EKATERINA SIMANJUNTAK
- THE PRINCE AND THE PAUPER
-
▼
Mei
(22)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar