Senin, 10 Mei 2010

SUATU KETIKA DI LOKASI SHOOTING

Seorang anak perempuan kecil, berdiri setengah telanjang di depan pintu sebuah kamar mandi. Hanya mengenakan celana dalam berwarna putih. Dan ia menangis tersedu-sedu. Kamar mandi yang saya maksud di sini, adalah toilet di salah satu studio di Selatan Jakarta. Belakangan saya tahu, ternyata gadis kecil itu sedang menjalani hukuman yang diberikan ibunya. Ia sengaja dibiarkan kedinginan di situ karena tidak mau menuruti keinginan sang bunda.

Di studio tersebut sedang dilakukan pengambilan gambar untuk satu program acara televisi. Untuk keperluan itu memang dibutuhkan beberapa anak balita yang berfungsi sebagai ‘penggembira’, mendampingi si pembawa acara. Anak itu adalah salah satunya, panggil saja Cica.

Hari itu akan dilakukan syuting untuk delapan episode sekaligus. Tapi tiap episode singkat saja, karena akan dimasukkan sebagai VT. Dan di tiap pergantian topik, anak-anak tersebut harus juga berganti kostum sesuai tema. Cica, sejak awal pengambilan gambar memang terlihat tidak nyaman dengan situasi yang dihadapinya saat itu. Ruang ganti yang penuh sesak, asap rokok yang menyengat, lampu-lampu yang bersinar panas dan menyilaukan. Orang-orang yang berseliweran silih berganti.

Cica sudah sampai di lokasi sejak sekitar pukul tujuh pagi. Ia sarapan, makan siang bahkan makan malam di tempat yang sama. Mungkin ia merindukan teman-teman dan mainannya di rumah. Atau nikmatnya tidur siang di kamarnya. Hari itu Cica jadi begitu susah diatur. Berulang kali secara tidak sengaja, saya melihat ibunya mencubit lengannya. Sebabnya sudah jelas, karena Cica banyak menolak perintah sang bunda. Dari mulai memakai baju, menyisir, makan sampai memakai sepatu.

Ketika Cica dan teman-temanya sudah berada di tengah set dan aba-aba dari director sudah dimulai, tiba-tiba saja ia menangis. Masalahnya sepele saja, mainan yang sedang dipegangnya, direbut oleh anak lain. Adegan langsung di cut, dan Cica dikeluarkan dari areal set. Wajah sang ibu langsung berubah. Ia menggendong Cica dengan kasar, dan membawanya keluar studio. Tak lama kemudian, terdengarlah suara tangisannya.

Take berikutnya kembali dimulai. Cica sudah berganti pakaian. Saya lihat ia begitu lucu dengan balutan baju, rok mini dan sepatu boot warna kuning. Matanya sembab. Ibunya kembali membawanya ke dalam studio. Sekali lagi Cica menolak untuk bergabung dengan teman-temannya. Raut marah dan tidak sabaran menyelimuti muka ibunya. Untuk ke sekian kali, lengan kecilnyanya diseret dengan kasar keluar dari set. Saya lihat, ia dibawa ibunya ke balik pintu yang ada di dekat situ. Sesaat, kembali terdengar jeritannya menangis. Saya berani bertaruh, Cica baru saja mendapatkan lagi satu cubitan pedas dari sang bunda.

Hati saya begitu trenyuh menyaksikan apa yang terjadi pada Cica. Sementara saya tidak punya kesempatan untuk berbincang-bincang dengan ibundanya. Sekedar mempertanyakan; kenapa perempuan itu begitu memaksa anaknya untuk tampil. Apakah soal honor (konon ‘cuma’ seratus ribu per hari dari pagi sampai selesai), popularitas, mimpi jadi kaya mendadak, atau menyalurkan ‘bakat’ anak?

Selang dua minggu berlalu. Saya bertemu lagi dengan Cica kecil. Masih syuting untuk program yang sama, tapi di lokasi yang berbeda. Kali ini bukan di studio, tapi di sebuah rumah yang cukup besar di bilangan Kebagusan. Cica terlihat ceria. Ketika sedang menunggu set selesai disiapkan, ia melintas di depan saya. “Cica, udah makan belum,” sapa saya berbasa-basi. “Udah,” jawabnya tersipu malu. Saya pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari tahu tentang diri dan keluarganya.

Dari mulut mungilnya, Cica bercerita, walaupun dengan kalimat-kalimat yang kadang membingungkan. Ia tinggal di Condet, dan adik kecilnya tinggal bersama nenek di Tangerang. Cica dan ibunya datang ke lokasi syuting diantar oleh paman dengan mengendarai sepeda motor. Menurutnya, ayahnya saat itu sedang sakit. “Tapi bapak sudah dipijit, sekarang bapak lagi jalan-jalan ke Pramuka”, katanya lagi.

Saya berusaha mencerna perkataannya. Bapak sedang sakit, terus dipijit, lantas jalan-jalan ke Pramuka. Percuma saya tanyakan, pramuka itu nama jalan atau nama suatu tempat. Tentu ia belum mengeri. “Bapak sudah sembuh belum?” Tanya saya penasaran. Jawaban yang saya terima darinya hanyalah gelengan kepala. Sekali lagi saya tidak mengerti apa maksudnya. Ia menjawab ayahnya sudah sembuh, tetapi ketika saya mengulangi pertanyaan yang sama, ia menggeleng. Gadis kecil itu begitu polos, sayang sinar matanya tidak secerah anak-anak seumurnya.

Begitulah kisah Cica. Seorang gadis kecil yang belum genap berusia empat tahun. Dibawa ibunya untuk ‘kerja’ dari pagi hingga matahari terbenam. Naik sepeda motor ke Cipete, ke Kebagusan, entah kemana lagi…dari rumahnya di daerah Condet. I’m speechless, really…just hoping that little girl will always be fine…

kebagusan, march 09

Tidak ada komentar:

Posting Komentar