Senin, 10 Mei 2010

REUNI VERSI SAYA

Apa sih isu paling populer di antara manusia fesbuk saat ini? Kalau dilihat dari statusnya kemarin, sudah jelas pemilu legislative. Selain itu? Apalagi lagi kalau bukan soal ‘reunian’. Buat sebagian orang reuni bisa jadi terdengar begitu menyenangkan. Ada yang tiba-tiba terkenang-kenang dengan cinta monyetnya. Teringat dengan salah satu guru yang ditaksir. Membayangkan si ini sudah seperti apa, si itu sudah bagaimana. Pendek kata, dijamin setiap orang yang menerima satu undangan reuni, pikirannya langsung terbang melayang dengan segala imajinasinya.

Itu bagi sebagian orang. Nah, bagaimana sisanya? Mungkin seperti yang saya rasakan. Reuni? Buat apa’an? Memangnya orang-orang itu masih ingat saya? Jangan-jangan waktu sekolah dulu, mereka bahkan tidak tahu apakah saya ada di muka bumi ini atau tidak.

Masuk sekolah menengah pertama, teman-teman saya rata-rata berasal dari sekolah dasar yang sama, karena masih satu perguruan. Meskipun saat itu sebenarnya kami semua anak baru di SMP itu, tapi karena saya bukan berasal dari SD yang sama, jadi tetap saja saya dianggap anak baru oleh anak-anak ‘baru’ yang lain.

Sempat ‘digencet’ kakak kelas karena menurut mereka saya telah menerima sepucuk surat cinta dari seorang anak laki dari kelas tiga yang ternyata sudah punya pacar. Buat anak baru seperti saya, urusan ‘gencet-menggencet’ yang super dupper tolol itu memang lumayan bikin stress. Dan beberapa hal lain yang malas saya ceritakan di sini. Kesimpulannya, saya tidak punya terlalu banyak kenangan manis ketika duduk di bangku SMP. Meskipun saya masih punya beberapa sahabat yang baik selama tiga tahun bersekolah di situ.

Episode berikutnya. Lulus SMP, saya diterima ke SMU negeri. Tapi karena orangtua saya tidak yakin dengan kualitas sekolah negeri itu, lagi-lagi saya dimasukkan ke sekolah swasta. Untunglah, saya bahagia belajar di situ. Sekolah swasta yang tidak berdasarkan satu agama tertentu. Di situ saya belajar bertoleransi, mengenal berbagai perbedaan setelah sekian lama saya belajar di sekolah yang berlandaskan agama. Di SMU inilah saya mendapat tiga orang teman akrab yang sampai sekarang hubungan kami masih terjalin dengan baik.

Kalau bicara pengalaman lucu selama di SMU ini, mungkin tidak akan ada habisnya. Saya betul-betul menikmati masa remaja di sini. Dari soal bolos, coba-coba merokok, dimarahi guru karena ribut di kelas, ketahuan menyontek…pokoknya sudah semua saya rasakan. Seneng beneeerrr…karena saya melakukannya bersama teman-teman.

Sayang, kebahagiaan saya cuma sampai dua tahun. Naik kelas tiga, saya dipindahkan oleh orangtua saya ke sekolah negeri favorit. Muridnya pintar-pintar. Berada di sekolah itu ibarat terdampar di padang pasir yang gersang dan panas. Hampir setiap hari sebelum ke sekolah, saya menangis. Gimana nggak stress, sudah sekolah favorit, saya masuk di IPA pula. Aduh, pelajarannya sungguh-sungguh bikin kram otak. Apa iya kalau mau jadi wartawan harus juga masuk Biologi? Karena tidak tahan melihat saya menangis setiap hari sebelum berangkat ke sekolah, ibu kembali ke sekolah yang lama, minta saya kembali diijinkan belajar di situ. Tentu saja tidak bisa.

Akhirnya,melalui perjuangan panjang, saya mulai bisa beradaptasi. Dengan pelajarannya, juga dengan teman-teman. Tidak sampai setahun, saya ikut ujian kelulusan. Untunglah saya berhasil lolos, meskipun saya selalu dapat rangking 43 dari 45 anak. Ternyata masih ada yang lebih goblok dari saya…hahaaaa…haaa…!

Kembali ke soal reuni tadi. Sekarang, baru terasa tidak enaknya bila kita pindah sekolah ditengah-tengah kurikulum yang sedang berjalan. Di sekolah A, saya Cuma dua tahun. Banyak teman yang keburu lupa bahwa saya pernah berkawan dengan mereka.Di sekolah B lebih parah lagi , tidak sampai satu tahun. Siapa pula yang mengingat saya, kecuali teman-teman sekelas. Itu juga saya tidak terlalu yakin. Di sekolah C? Kalau yang ini, acara-acara sejenis hanya diadakan dan dihadiri oleh kelompok-kelompok tertentu saja.

Jadi, bila nanti ikutan dalam suatu reuni, mau datang ke reuni sekolah yang mana? Lalu saya mau ngobrol sama siapa? Mau cerita-cerita tentang apa? Rasanya membingungkan juga. Mestinya kan ajang reuni itu menjadi acara yang menyenangkan karena kita bertemu teman-teman lama yang idealnya masih mengingat kita. Sudah dua kali acara reuni dari dua sekolah itu saya lewatkan. Daripada nanti saya ditatap dengan pandangan aneh diikuti pertanyaan: ‘siapa lo?’ Membayangkannya saja saya tidak berani. Betul-betul bikin orang jadi nggak percaya diri.

Tapi saya cukup terhibur dengan sapaan manis dari dua orang teman SD saya melalui fesbuk ini. Teman yang telah terpisah selama hampir tigapuluh tahun , ternyata selalu mengingat saya lewat tulisan-tulisan saya yang dimuat di media massa. Dan tentunya tiga orang sahabat saya yang selalu setia dalam suka dan duka. Mudah-mudahan suatu ketika nanti, saya punya kesempatan untuk mengadakan reuni sendiri, versi saya tentunya…*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar