Serafina adalah murid sekolah dasar kelas empat. Umurnya sembilan tahun. Hobinya baca buku, main violin, piano, gitar dan keyboard. Dua alat musik terakhir dipelajarinya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Walaupun baru kelas empat SD, Serafina sudah mendapatkan pelajaran PKN, singkatan dari Pendidikan Kewarganegaraan. Saat saya masih seumurnya, pelajaran soal kewarganegaraan diberikan pada saat siswa duduk di bangku sekolah menengah atas (sekarang SMU), dikenal dengan mata pelajaran tata negara. Itupun hanya diberikan pada murid yang mengambil jurusan A3 atau Ilmu Sosial.
Begitulah. Jaman memang sudah berubah. Meskipun saya juga masih bingung apa manfaat pelajaran kewarganegaraan bagi anak umur delapan tahun, nyatanya setiap sekolah memang diwajibkan memasukkan mata pelajaran tersebut ke dalam kurikulum.
Suatu hari, Serafina akan menghadapi ulangan harian PKN. Maka sehabis mandi sore, ia pun menyiapkan buku PKNnya untuk dibaca-baca. “Ma, aku isi latihan soal ini dulu ya, nanti baru menghafal.” Katanya. “Tentu saja sayangku.” Jawab saya.
Serafina banyak bertanya mengenai isi jawaban soal-soal yang sedang dikerjakannya. Buat saya, materi pelajaran PKN ini lumayan susah. Salah satunya adalah pertanyaan mengenai siapa ketua Mahkamah Konstitusi.
Memberikan jawaban nama si ketua tidak masalah. Persoalannya adalah pertanyaan selanjutnya yang diajukan si anak. “Mahkamah Konstitusi itu artinya apa sih ma?”
Di buku ada uraian seadanya. Tapi anak terus menuntut penjelasan logis mengenai Mahkamah Konsitusi yang terkait dengan kehidupan anak seusianya. Ah, bagaimana saya menjelaskan arti institusi ini pada anak umur delapan tahun? Mungkin teman-teman ada yang bisa membantu.
Pertanyaan berikutnya adalah siapa ketua Mahkamah Agung. Saya mulai sedikit kesal. “Serafina, jawaban pertanyaan kamu itu tentu sudah ada semua di buku. Coba dilihat lagi.” ujar saya. “Mahkamah Agung itu apa ma…?” Dia terus menyerocos tanpa perduli ucapan saya sebelumnya. Hari sudah semakin larut dan Serafina tidak henti-hentinya minta penjelasan panjang lebar tentang lembaga-lembaga peradilan itu.
Maka saya katakan padanya, “Tulis saja dulu siapa nama ketua MA, nanti kalau pekerjaanmu sudah beres, kita bisa ngobrol-ngobrol lagi soal Mahkamah Agung.” “Kalau begitu, siapa ketua MA, ma?” Waduh, saya juga lupa tuh siapa ketua MA yang sekarang. “Hmm..kalau tidak salah sih pak Bagir Manan. Tapi mama lupa, dia itu udah pensiun atau belum ya. Soalnya waktu itu dia sudah disuruh pensiun tapi dia tidak mau.” Jawab saya.
Serafina tidak menjawab. Dia malah sibuk membolak-balik buku PKNnya. “Ha…lihat ini ma…” teriaknya tiba-tiba. “Ini kan gambar pak Bagir Manan?” katanya sambil menunjukkan kepada saya foto Bagir Manan dengan seluruh rambutnya yang sudah memutih, yang ada di bukunya. “Bener ma?’ ulangnya minta penegasan. “Tentu saja sayangku. Itu benar pak Bagir Manan.”
Lantas Serafina tertawa terkekeh-kekeh. Dengan gayanya yang sok tua dia berujar,” Mama…mama…ini sih bukan pak Bagir Manan, tapi kakek Bagir Manan. Lihat tuh ma, dia udah tua banget ya. Mestinya dia kayak pak Sardjono (guru violin Serafina). Kalau sudah tua, jadi guru biola aja…”
Saya kehabisan kata mendengar komentar Serafina. Kebayang nggak sih kakek Bagir Manan mengajar biola di Mahkamah Agung? *
Pondokgede, Jum'at 28 November 2008
Arsip Blog
-
▼
2010
(22)
-
▼
Mei
(22)
- MENJADI SEORANG AYAH BECOMING A FATHER
- IBU DAN WARTAWAN
- NAMAKU ADALAH...
- IBU DAN PERAWAN TUA
- KAKEK BAGIR BUKAN BAPAK BAGIR
- AKU CINTA INDONESIA
- HOW GOD CREATED A MILLION FACES
- 360 ANDERSON COOPER
- SAVED BY A SPIDER
- FORBIDDEN LOVE
- SEBOTOL PARFUM
- ROCK LIKE NEVER BEFORE?
- DOC MART & MINI SKIRT
- OH MY BUTT!
- KRISIS EKONOMI TIDAK MAMPIR KE SINI
- ORGEL
- SUATU KETIKA DI LOKASI SHOOTING
- REUNI VERSI SAYA
- KETIKA CINTA DATANG LAGI
- JURNALISTIK KELOMPOK EMPAT
- KERUBIN EKATERINA SIMANJUNTAK
- THE PRINCE AND THE PAUPER
-
▼
Mei
(22)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar