Ini adalah kesekian kalinya pantat saya diremek oleh seorang bocah laki-laki. Entah disengaja atau tidak, kenapa selalu pas di pantat. Kalau si anak bermaksud mengenali saya sebagai orang yang mungkin dikenalnya, tentu ada cara lain yang lebih sopan. Menepuk bahu atau lengan, misalnya. Tapi ini kok, sekali lagi di pantat. Kadang pantat sebelah kiri, tapi rasanya lebih sering yang sebelah kanan.
Beruntung saya selalu berhasil mengendalikan tangan untuk tidak langsung menampar si pelaku. Karena begitu menengok ke belakang, yang terlihat hanyalah seorang anak laki-laki berwajah polos. Tidak ada orang lain kecuali si bocah beserta ibu yang menggandengnya. Umumnya para lelaki kecil ini langsung berlagak pilon sehabis menjalankan aksinya. Dan mulut saya pun tidak mampu berkata-kata melihat kenyataan itu. Jangan-jangan nanti saya yang dianggap tidak waras karena menuding bocah sebagai pelaku pelecehan seksual. Kemudian, apakah si ibu yang meremas pantat saya? 99.9% tidak mungkin.
Sebelum saya menghakimi si bocah bersalah karena telah begitu kurang ajar terhadap saya, ada baiknya saya intropeksi diri dulu. Apakah saya mengenakan hotpants pada saat pantat saya dikerjai? Apakah saya memakai atasan bertali spaghetti sehingga ketiak dan dada saya memantul kemana-mana? (walaupun itu sebenarnya urusan saya untuk menutupi atau tidak aurat saya). Jawabannya ‘tidak’. Pakaian favorit saya sampai saat ini tidak berubah, sama ketika masih kuliah dulu. Celana jeans dan kaus. Saya paling tidak bisa keluar rumah pakai setelan yang serba minim, nggak ada untungnya sama sekali. Perut jadi gampang kembung. Istilah populernya, masuk angin. Kalau sudah begitu, bisa sengsara berhari-hari.
Lalu, kenapa kasus terhadap pantat saya berulang sampai sekian kali? Kenapa pula selalu anak dibawah umur yang melakukannya terhadap saya? Kalau seorang anak lelaki sampai berani meremas pantat perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya, kenapa bisa begitu?
Saya bukanlah seorang ahli untuk menganalisis masalah macam begini. Apalagi sampai mengutarakan pendapat pribadi mengenai sesuatu hal yang saya sendiri belum tahu jawabannya. Bisa-bisa saya dilabrak para ibu yang punya anak laki-laki.
Namun saya berharap, mudah-mudahan saja perilaku anak yang demikian itu hanyalah spontanitas sesaat yang gemas melihat sepotong pantat. Dan kebetulan sekali, itu adalah pantat saya…*
Arsip Blog
-
▼
2010
(22)
-
▼
Mei
(22)
- MENJADI SEORANG AYAH BECOMING A FATHER
- IBU DAN WARTAWAN
- NAMAKU ADALAH...
- IBU DAN PERAWAN TUA
- KAKEK BAGIR BUKAN BAPAK BAGIR
- AKU CINTA INDONESIA
- HOW GOD CREATED A MILLION FACES
- 360 ANDERSON COOPER
- SAVED BY A SPIDER
- FORBIDDEN LOVE
- SEBOTOL PARFUM
- ROCK LIKE NEVER BEFORE?
- DOC MART & MINI SKIRT
- OH MY BUTT!
- KRISIS EKONOMI TIDAK MAMPIR KE SINI
- ORGEL
- SUATU KETIKA DI LOKASI SHOOTING
- REUNI VERSI SAYA
- KETIKA CINTA DATANG LAGI
- JURNALISTIK KELOMPOK EMPAT
- KERUBIN EKATERINA SIMANJUNTAK
- THE PRINCE AND THE PAUPER
-
▼
Mei
(22)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar