Arsip Blog
-
▼
2010
(22)
-
▼
Mei
(22)
- MENJADI SEORANG AYAH BECOMING A FATHER
- IBU DAN WARTAWAN
- NAMAKU ADALAH...
- IBU DAN PERAWAN TUA
- KAKEK BAGIR BUKAN BAPAK BAGIR
- AKU CINTA INDONESIA
- HOW GOD CREATED A MILLION FACES
- 360 ANDERSON COOPER
- SAVED BY A SPIDER
- FORBIDDEN LOVE
- SEBOTOL PARFUM
- ROCK LIKE NEVER BEFORE?
- DOC MART & MINI SKIRT
- OH MY BUTT!
- KRISIS EKONOMI TIDAK MAMPIR KE SINI
- ORGEL
- SUATU KETIKA DI LOKASI SHOOTING
- REUNI VERSI SAYA
- KETIKA CINTA DATANG LAGI
- JURNALISTIK KELOMPOK EMPAT
- KERUBIN EKATERINA SIMANJUNTAK
- THE PRINCE AND THE PAUPER
-
▼
Mei
(22)
Minggu, 09 Mei 2010
THE PRINCE AND THE PAUPER
UNTUK sahabat-sahabatku yang tinggal di kolong jembatan, di emperan toko, di gang-gang sempit dan pengap, anak-anak jalanan dan mereka semua yang masih menderita dalam kemiskinan dan kebodohan.
Tulisan ini sekedar menumpahkan sedikit kegundahan terhadap sebuah acara bergenre ‘reality show’.
Saya memang awam soal buat-membuat program. Tidak mengerti rating share, belum pernah survey mengenai tayangan seperti apa yang diminati pemirsa, dsb. Mohon maaf sebelumnya pada rekan-rekan pekerja broadcast.
Dalam sebuah episodenya, diceritakan satu keluarga kaya tinggal di rumah mewah. Ayah menduduki posisi bagus dalam sebuah perusahaan. Ibu, mengurus anak dan rumah tangga dengan fasilitas lengkap. Dari kitchen set sampai alat-alat fitness, tersedia di rumahnya. Beberapa mobil diparkir di garasi. Seekor anjing penjaga, dipelihara di dalam kandang, tidak jauh dari situ.
Sementara itu, digambarkan pula sebuah keluarga miskin. Tinggal di rumah reot, ruang tidur yang lebih mirip gudang, kamar mandi yang tidak ada pintunya. Lantai yang masih beralas ubin hitam. Ayah bekerja serabutan. Ibu berjualan mie ayam di depan rumah, dengan gerobak ala kadarnya.
Ceritanya dua keluarga bertolak belakang status sosialnya ini bertukar peran. Si miskin jadi kaya, si kaya jadi miskin. Drama komedi yang sama sekali tidak lucu pun dimulai.
Sejak awal tayangan, diperlihatkan si ibu kaya terus merajuk. Mengungkapkan terang-terangan keberatannya harus menjalani hidup sebagai orang miskin. Ia mengeluhkan kamar yang panas tanpa ac, kasur yang keras, banyak nyamuk, bla…blaa…blaa…
Ibu kaya lalu berjualan mie ayam, sambil tidak henti-hentinya menggerutu. Sekali waktu si ibu histeris, pura-pura tersedu menangisi kesialannya menjadi orang miskin. Sementara anak perempuannya berdiri di sampingnya sambil menahan senyum. Skenario payah, plus aktris amatiran yang tidak pernah latihan. Klop!
Peran si miskin yang jadi orang kaya jauh lebih absurd. Take gambar di garasi. Ayah, ibu dan dua anak disuruh memegang-megang bodi mobil. Mengelus-elusnya sambil menunjukkan wajah keheranan. Apakah setiap orang miskin bereaksi seperti itu ketika melihat mobil? Memangnya mereka Tarzan yang baru datang dari hutan?
Kemudian adegan makan malam. Hidangan tersedia lengkap di meja. Wajarlah bila keluarga ini kelihatan sumringah melihat makanan berlimpah ruah di hadapan mereka. Masing-masing mengambil piringnya. Mulanya semua berjalan normal. Setelah mengisinya dengan makanan, ibu akan duduk di bangku. Entah apa yang mau ditunjukkan ke para penonton, akhirnya mereka semua malah duduk di lantai, di sisi kursi meja makan.
Apakah orang miskin begitu tololnya, sehingga ketika ada meja dan kursi untuk makan, mereka lebih memilih untuk duduk di lantai? Apakah mereka juga melakukan hal yang sama ketika makan di warteg di pinggir jalan?
Pagi hari, ayah sampai di kantor. Di ruang kerja si kaya, si miskin diminta untuk memegang keyboard komputer. Benda itu beberapa kali diangkat dan diturunkan olehnya, dibolak-balik, diendus-endus. Sungguh suatu hal yang tidak masuk akal. Meskipun mereka miskin dan tidak pernah bersentuhan dengan komputer, saya yakin dalam dunia sebenarnya, mereka tidak akan melakukan hal yang super dupper bodoh macam begitu.
Terakhir, si anak diperlihatkan memberi makan anjing peliharaan si kaya. Dengan takut-takut anak itu berusaha memasukkan makanan ke dalam kandang. Walau memakai tongkat panjang untuk menaruh makanannya, buat saya scene itu sama sekali tidak perlu ada. Kalau orang-orang miskin ini memang dimaksudkan untuk berlagak jadi orang kaya, kenapa pula harus ada adegan memberi makan anjing? Bukankah tugas memberi makan hewan piaraan adalah jatahnya pembantu rumahtangga?
Menurut saya, sungguh tidak punya hati mereka yang meminta si miskin melakukan hal-hal semacam itu di depan publik. Di acara yang disiarkan secara nasional pula. Saya tidak tahu apa maksud dari pembuatan program ini. Yang tertangkap oleh panca indra saya adalah sebuah tayangan yang tidak kurang tidak lebih, ingin mengejek, mencemooh orang miskin dengan sangat frontal!
Ada sebuah buku berjudul The Prince and The Pauper karangan Mark Twain. Saya membacanya ketika duduk di kelas empat sekolah dasar. Bercerita mengenai seorang pangeran yang bertukar peran dengan seorang anak gembel. Tulisan Twain yang begitu menggugah, membuat mata saya lebih terbuka dan berempati kepada si miskin. Tanpa harus menonton 'pagelaran konyol' tentang penderitaan dan kebodohan kalangan tak berpunya.
Berangan-angan, suatu ketika bisa menyaksikan sebuah ‘reality show’ yang betul-betul ‘real’. Tanpa mengeksploitasi secara berlebihan penderitaan dan kekurangan orang lain. Bangsa Indonesia, yang selalu didengung-dengungkan dalam setiap mata pelajaran di sekolah, sebagai bangsa yang beradab. Semestinya mampu memroduksi program televisi yang lebih manusiawi daripada sekedar mengolok-olok si miskin yang nota bene bangsa sendiri, dalam penderitaannya*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar