Senin, 10 Mei 2010

SEBOTOL PARFUM

---Tapi ada juga ‘mbak-mbak’ yang asik mengusap-usap anjing majikan, atau sibuk mengejar-ngejar anak si tuan yang tidak bisa diam----

Bila bukan karena keperluan yang sangat mendesak, saya mungkin tidak akan pernah menginjakkan kaki di negeri kecil ini. Negeri yang konon luasnya hanya sepertiga pulau Jawa. Negeri yang dipenuhi oleh gedung-gedung tinggi. Negeri yang katanya ‘surga belanja’ (buat saya, lebih surga Manggadua dan Tanabang, sesuai dengan kantong). Negeri yang bersih, teratur dan rakyatnya yang sangat disiplin (di mata saya mereka seperti robot hidup, jarang ada berita maling ayam dihukum lima tahun, koruptor dihukum satu tahun...nggak seru deh...)

Namun di sisi lain, saya senang bisa melihat dari dekat kehidupan di Singapura. Di mana para pejalan kaki begitu dihormati. Tidak ada yang merokok sembarangan apalagi membuang ludah seenaknya. Toilet umum bersih dan selalu tersedia tissue.

Antri di kasir, antri menunggu taksi, antri di stasiun kereta dan di halte bus. Tidak ada yang main serobot. Berada dimana pun saya selalu dibantu. Seperti dibukakan pintu, diberi jalan lebih dulu saat di lift. Pendeknya diberi prioritas di tempat umum, karena saya membawa ibu yang duduk di kursi roda.

Di beberapa tempat, khususnya di Orchad Road, saya melihat orang-orang Indonesia berkeliaran. Mereka menjinjing tas-tas belanjaan. Tapi ada juga ‘mbak-mbak’ yang asik mengusap-usap anjing majikan, atau sibuk mengejar-ngejar anak si tuan yang tidak bisa diam. Ada benarnya juga beberapa tulisan yang pernah saya baca mengenai orang Indonesia di negeri ini. Sekarang saya sudah lihat sendiri.

Dua minggu yang lalu, kali kedua saya mengunjungi Singapura dalam dua bulan terakhir. Lumayan, sudah bisa menikmati berada di negeri asing. Meskipun udaranya panas seperti Jakarta, paling tidak bersih dari asap kendaraan yang berwarna hitam dan berbau menyengat.

Satu hari rasanya cukup untuk berkeliling di pusat kota. Mampir ke pusat syaraf Tan Tock Seng, Bugis Village, Botanical Garden, minum teh di Raffless Hotel (salah satu dari sedikit bangunan tua yang ada di Singapore), melihat-lihat peradaban manusia di Asean Museum, menyusuri Orchad Road. Tidak mengunjungi Marlion karena masih dalam tahap diperbaiki setelah tersambar petir.

Ketika tiba waktunya pulang. Tidak banyak yang saya bawa, karena saya hanya dua hari situ. Beberapa buku dan cd favorit yang tidak saya temukan di tanah air, saya beli di Wheelock. Salah satunya buku tentang beragam sejarah kebudayaan Indonesia yang penuh dengan foto-foto kuno. Saya tidak pernah melihatnya dalam bentuk edisi Bahasa Indonesia. Semua barang itu saya masukkan ke dalam koper kecil di bagasi. Hanya paspor dan sedikit uang buat taksi di Jakarta, saya masukkan dalam tas kecil yang diselempangkan ke bahu.

Sebelum masuk ke ruang tunggu, seperti biasa penumpang harus di screening terlebih dahulu. Saya lolos dengan aman, karena memang saya tidak membawa barang yang aneh-aneh. Tapi di depan saya, sekelompok perempuan muda, meriung di hadapan petugas bandara. Salah satu dari mereka kelihatan seperti sedang memohon-mohon kepada petugas.

Saya masih tidak mengerti kenapa perempuan-perempuan itu begitu memelas, sampai akhirnya mata saya tertuju pada benda-benda yang berada di meja petugas. Saya lihat di situ ada beberapa botol besar sabun cair, sekitar tiga buah botol dengan ukuran sedang; nampaknya pelembab untuk tubuh. Juga ada parfum-parfum dalam botol besar dan kecil.

Sementara itu, petugas lainnya masih membongkar satu lagi tas plastik besar milik si mbak tadi. Ternyata mereka membawa serta kantong-kantong plastik lusuh, yang entah isinya apa ke dalam kabin pesawat. Kontras dengan penumpang SQ yang lain.

Keributan kecil itu masih berlangsung. Petugas screening yang juga perempuan, dengan wajah dingin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesekali ia berujar tanpa ekspresi, ”Tak bisa makcik, tak boleh.”
“Mosok ndak boleh sih bu…cuma begituan aja…saya kan bawa jaoh-jaoh dari sini…” Petugas hanya menatap si mbak dan mata si mbak tidak lepas dari botol-botol yang ada di hadapannya. Ia terus mengoceh perihal keberatannya atas penahanan barang-barang miliknya itu.

Sesekali si mbak membungkukkan tubuhnya, seperti sedang menyembah sang petugas. Kedua tangannya ia lipat di dadanya, layaknya sedang berdoa. Merasa permintaannya tidak digubris, akhirnta ia berteriak,” Duuuh…tolong dong Bu…mosok ndak boleh…?”

Ekspresi petugas tidak berubah. Si mbak lantas berteriak lebih keras lagi, ia mencoba menawar si petugas, “Kalo gitu satu aja deh bu yang saya bawa…satuuuu aja…” Si mbak nampak mulai lepas kendali. Kakinya dihentak-hentakkan ke lantai. Ia mengeluarkan suara seperti orang menangis, “Mosok semuanya ndak boleh dibawa…?” Jawaban datar petugas kembali terdengar,” Tak bisa makcik…”

“Ampuuun….Gusti Allah…mosok satu juga ndak boleh? Satuuuu aja Bu, demi Allah…satu aja…!” Ia merengek tak putus-putus, sembari jemarinya menggenggam sebuah parfum dalam botol mungil. Parfum yang mungkin akan diberikannya kepada sang kekasih di kampung halaman. Sebab hanya benda itulah yang begitu ia perjuangkan untuk dibawa, dibanding benda-benda lainnya.

Dan petugas pun hilang kesabaran, si mbak diminta meletakkan parfum yang dipegangnya, lalu beserta teman-temannya lantas setengah dipaksa digiring ke konter berikutnya, boarding pass. Tapi sebelum itu, di depan kepala saya, dan juga sepasang mata milik si mbak, petugas meraup semua botol itu dan membuangnya ke keranjang sampah!

Hasil keringat si mbak selama menjadi kuli di negeri orang, ternyata ada yang harus berakhir di sebuah tong berwarna kelabu di bandara Changi. Saya ingin membantu, tapi tidak berdaya. Siapa yang berani melawan aturan di negeri itu?

Hanya satu yang bisa saya perbuat pada saat itu, membisiki si mbak, “Lain kali barang-barang macam begitu dimasukkan ke bagasi saja mbak, jangan dibawa ke dalam kabin.” Si mbak menjawab, dengan nada yang begitu sedih, “Wong saya ndak tau mbak…ndak ada yang kasih tau…ndak ada yang kasih tau…” ujarnya berulang-ulang. Rasa kecewa begitu jelas terlihat di wajahnya.

Ada secercah air hangat di kedua sudut mata saya. Untunglah ia tidak sampai mengalir keluar. Tidak ada yang memberi tahu si mbak bahwa segala macam bentuk cairan, senyawa berbau dan entah apalagi, tidak boleh dibawa ke dalam pesawat.

Kalau ditotal, semua benda yang dibuang ke tempat sampah tadi nampaknya tidak sampai ratusan dollar. Tapi, ketika bayangan untuk memberi oleh-oleh bagi orang-orang yang disayanginya buyar, mungkin tidak ada yang lebih menyakitkan selain menyaksikan benda-benda tersebut dilempar dengan kasar ke tempat sampah.

Sebotol parfum dari negeri seberang, bilakah engkau tiba di tangan kekasih hati…


*oleh-oleh dari Singapore, 23-26 April ‘09

Tidak ada komentar:

Posting Komentar