Dari kecil saya memang ingin jadi wartawan. Untunglah sudah kesampaian. Meskipun belum sempat bertemu tokoh-tokoh dunia, macam Princess Diana atau Nelson Mandela. Pernah juga sih, wawancara singkat Mohammad Ali, ketika ia datang ke Jakarta. Tapi selebihnya, paling banter ketemu pejabat yang asal ngomong atau artis yang kalau diwawancara lebih banyak nggak nyambungnya. Tapi senang juga kalau ada tugas meliput kerusuhan atau demonstrasi mahasiswa, apalagi kalau disuruh juga minta pendapatnya Gus Dur.
Sebetulnya ada lagi cita-cita saya, jadi orang terkenal. Tapi itu bisa sambil jalan ketika saya berprofesi sebagai wartawan. Kalau berita saya sering dimuat dan dibaca orang, tentu saya bisa jadi terkenal seperti Anderson Cooper atau Cindy Adams. Atau kalau di sini, ada pak Budiarto Syambazy.
Namun, itu juga tidak tercapai. Boro-boro jadi wartawan top, baru empat tahun jadi jurnalis, majalahnya sudah keburu kolaps sampai akhirnya mampus. Kehabisan modal plus kalah gertak sama agen yang sudah dibriefing oleh majalah G untuk tidak mengeluarkan majalah saya dari gudang sebelum majalah G tersebut beredar. Untunglah majalah G itu sekarang nasibnya kurang lebih sama dengan majalah saya yang sudah almarhum itu. Hidup segan, mati tak mau. Kena karma, mungkin…
Sekarang saya mau membahas soal puisi yang berjudul ‘Ibu dan Facebook’. Konon, puisi itu sudah beredar ke seantero jagad manusia facebook. Videonya pun sudah masuk ke jaringan u tube. Opini yang berkembang macam-macam. Dari yang memuji kepintaran si anak menganalisa kelakuan ibunya, sampai hujatan bebas terhadap ibu si anak yang dianggap telah menelantarkan putrinya karena tergila-gila pada facebook.
Pendapat terakhir ini sungguh sangat menyebalkan. Sebelumnya sih tidak masalah. Tapi kalau kemudian ada wartawan yang bertanya pada ibunya begini: “Apakah fb membuat waktu ibu dan keluarga berkurang? Jika berkurang, seberapa banyak? Apa yang ibu lakukan untuk ‘menebusnya’? Menebusnya?? Golly geee….!
Biarkan saya merenung sejenak. Si ibu tidak punya kerjaan tetap di luar rumah. Rutinitas yang ia lakukan sehari-hari adalah mengurus anak dan rumah tangga, karena ia tidak mau menggunakan jasa pembantu. Setiap hari jam lima pagi ia sudah bangun. Menyiapkan sarapan dan bekal untuk kedua anaknya di sekolah. Pukul 6.30, anak-anak berangkat ke sekolah. Setelah itu, ia pun belanja sayur mayur ke warung terdekat. Memasaknya sambil menunggu pakaian dicuci di mesin cuci. Ketika semua masakan beres, ibu mulai menjemur pakaian. Kelar menjemur, ia merapikan kamar tidur, menyapu dan mengepel seluruh ruangan rumah. Apabila belum terlalu lelah, ia membersihkan kamar mandi.
Pukul satu siang, anak-anak pulang dari sekolah. Ibu menyiapkan makan siang, dan menemani tidur. Sore hari, selepas mandi, anak-anak didampingi ibu membuat pe er dan menyiapkan buku untuk dibawa keesokan harinya. Malam, jam tujuh, ibu kembali menata meja makan untuk makan malam. Setelah itu, cuci piring. Tepat jam sembilan, anak-anak cuci kaki dan sikat gigi sebelum naik ke tempat tidur. Sebelum tidur, ada ‘sesi’ curhat antara ibu dan anak. Ibu memperbolehkan anak-anaknya bercerita atau menanyakan segala hal. Ia akan menjawab sesuai kemapuannya. Jika ibu tidak tahu jawabannya, ia akan berkata, akan mencari tahu lewat buku atau internet. Pukul sepuluh malam, anak-anak sudah lelap. Ibu sudah letih, tapi ia tidak bisa tidak, untuk menuliskan pikiran-pikiran atau berbagai pendapatnya mengenai segala hal.
Saat itulah, ibu membuka notebooknya. Sekedar menuliskan beberapa kalimat atau menyapa teman-temannya di facebook. Setelah selama satu hari penuh ia hanya berkutat dengan pekerjaan rumah tangga, tanpa bisa berinteraksi dengan orang lain. Kecuali dengan tukang roti, tukang sampah atau tukang sayur.
Anak perempuan kecil, si penulis puisi ‘Ibu dan Facebook’ memang betul-betul terkesima dengan fenomena facebook. Dan itu juga dilihatnya di dalam rumah. Perubahan ibunya dari yang lebih sering memegang buku jadi pada notebooknya adalah pemandangan baru baginya. Karena ia juga telah beberapa kali membaca pembahasan mengenai facebook di berbagai media massa. Imajinasi seorang anak seringkali berkembang luar biasa pesat, kadang diluar jangkauan pemikiran orang dewasa. Dan ketika hal itu terjadi, masyarakat yang terbiasa melihat produk instan seakan tercengang. Tidak menyangka, seorang anak kecil bisa berpikir kritis, daripada hanya sekedar mengikuti arahan director untuk menangis atau tertawa tanpa ia mengerti maksudnya.
Pendapat tidak cerdas pun bertebaran. Penyakit lama masyarakat, tidak perlu mikir lama-lama karena volume otak juga tidak mendukung: cari saja kambing hitam. Kambing hitamnya adalah si ibu. Anak bisa bikin puisi macam begitu karena ibunya sudah ‘parah’, si anak tidak diurus ibunya, bla…blaa…blaaa….Memang paling gampang beropini, tanpa memedulikan proses kreativitas si anak sesungguhnya.
Menengok latar belakang si kecil pembuat puisi tadi, kegiatan ‘mari mengarang’ sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Orangtua membiasakan anak untuk selalu menulis laporan mengenai pengalamannya sepanjang satu hari itu. Sajak yang berjudul ‘Ibu dan Facebook’ sebelum diikut sertakan dalam lomba, pun dianggap orangtuanya biasa saja. Karena sudah puluhan puisi dan cerita yang telah dibuat si kecil. Dari soal ingin punya apartemen, ayah pindah kantor, dan seabrek ide lain yang dituangkan ke dalam tulisan.
Membaca buku, mengarang, diskusi mengenai suatu masalah, sudah biasa di keluarga ini.
Jadi, kalau ada yang bertanya: Bagaimana cara ‘menebus’ waktu yang sudah terpakai untuk ber-facebook-ria, menurut saya sungguh sangat didramatisir. Pertanyaan yang tidak perlu dijawab, saya kira.
Segila-gilanya seorang ibu kecanduan sesuatu (kecuali narkoba), mestinya ia tidak akan sampai mengorbankan waktu kebersamaan bersama anak-anaknya. Bila ia juga tidak terpaksa mencari nafkah sehingga mau tidak mau meninggalkan anak-anaknya di rumah. Apalagi kalau cuma ‘facebook’ yang bisa dilakukan dimana saja di rumah, bahkan ketika menemani mereka tidur.
Selama jadi wartawan, kadang saya juga melemparkan pertanyaan yang membuat dahi narasumber saya berkerut tidak keruan. Bahkan saya juga pernah dimarahi oleh pak mantan menteri Ginanjar Kartasasmita di depan forum karena menanyakan sesuatu yang rupanya menyinggung ‘keamanan’ departemen yang dipimpinnya.
Tapi ketika pertanyaan ‘aneh’ dilemparkan kepada saya, ternyata saya sebal juga. Boleh-boleh saja sih bertanya, tanpa mengabaikan esensi dari pertanyaan. Tapi bagaimana bila dipakai kata yang biasa saja, tidak usah bombastis begitu.
Akhirnya, apa mau dikata, saya hidup di alam ‘demokrasi’. Orang bebas bertanya dan berpendapat apa saja. Tapi, menurut saya, pertanyaan tersebut sudah menghakimi lebih dulu tanpa didukung data dan riset yang melatar belakangi peristiwa yang sesungguhnya terjadi.
Macan saja menyusui anaknya, masa manusia memberikan anaknya susu binatang? Lho...apa hubungannya? *pusing mode on*
Arsip Blog
-
▼
2010
(22)
-
▼
Mei
(22)
- MENJADI SEORANG AYAH BECOMING A FATHER
- IBU DAN WARTAWAN
- NAMAKU ADALAH...
- IBU DAN PERAWAN TUA
- KAKEK BAGIR BUKAN BAPAK BAGIR
- AKU CINTA INDONESIA
- HOW GOD CREATED A MILLION FACES
- 360 ANDERSON COOPER
- SAVED BY A SPIDER
- FORBIDDEN LOVE
- SEBOTOL PARFUM
- ROCK LIKE NEVER BEFORE?
- DOC MART & MINI SKIRT
- OH MY BUTT!
- KRISIS EKONOMI TIDAK MAMPIR KE SINI
- ORGEL
- SUATU KETIKA DI LOKASI SHOOTING
- REUNI VERSI SAYA
- KETIKA CINTA DATANG LAGI
- JURNALISTIK KELOMPOK EMPAT
- KERUBIN EKATERINA SIMANJUNTAK
- THE PRINCE AND THE PAUPER
-
▼
Mei
(22)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar