Senin, 10 Mei 2010

KERUBIN EKATERINA SIMANJUNTAK

Matanya bulat. Hidungnya pesek, tidak lebih mancung dari hidung kucing Persia. Pipinya sedikit tembam, tapi tubuhnya cenderung kurus. Rambutnya hitam lurus dan tebal, padahal dulunya bergelombang seperti milik ayah dan ibunya. Dengarkanlah bila ia menyanyi, suaranya sungguh sangat sumbang. Seringkali memancing amarah Serafina yang lebih peka terhadap musik. “Bukan begitu adiiiikkkk….” demikian ujar sang kakak jika mereka sedang bernyanyi bersama.

Kerubin Ekaterina telah bergelung di perutku selama enam bulan tanpa aku sadari keberadaannya. Selama itu pula aku sibuk beraktivitas. Mencuci pakaian, memasak, menyapu, mengepel lantai, bahkan mengangkat karung-karung berisi batu koral yang akan kupakai untuk menghias halaman rumah.

Untunglah ia lahir dengan sehat. Semua anggota tubuhnya lengkap. Nilai APGAR pun bagus. Hanya saja, ketika pertama kali melihat wajahnya, rasanya ingin menangis. Berbeda jauh dengan Serafina yang lahir lebih dulu. Kakaknya lahir dengan kulit yang putih bersih. Rambut lebat hitam berkilat. Bulu mata lentik dan jemari yang panjang. Bibir merekah warna merah jambu. Hampir setiap pengunjung yang datang membesuk ke ruang Imanuel di Carolus, selalu mampir ke tempatku menggendong Serafina. Kenal tidak kenal, semua memuji kecantikan bayi perempuanku itu.

Muka Kerubin ketika baru dilahirkan, sekali lagi sungguh membuatku pilu. Rambutnya tipis. Matanya segaris mirip encim-encim dan bulu matanya hanya satu atau dua millimeter panjangnya. Hidungnya cuma kelihatan dua lubangnya. Bibirnya tipis berwarna kecoklatan. Kulitnya gelap dan keriput karena beratnya tidak lebih dari 2600 gram. Bahkan ketika dibawa pulang, beratnya tinggal 2400 gram. “Anakmu kok kayak kodok…” begitu ucapan spontan sahabat dekatku. Kejujuran yang sangat menyakitkan, tapi memang begitu adanya. Kerubin memang lebih mirip kodok ketimbang anak manusia saat itu.Tapi Charlie selalu menghiburku. Sejelek apapun dia, yang penting sehat jasmani dan rohaninya.

Aku tidak siap dengan kehadiran anak kedua yang begitu dekat jarak lahirnya dengan anak pertama. Maka aku juga tidak mau repot-repot memilihkan nama untuk bayi perempuanku yang kedua ini. Nama Kerubin diambil dari Alkitab. Serafina dan Kerubin menurut Kisah Perjanjian Lama adalah mahluk-mahluk yang mengelilingi tahta Allah. Ekaterina diambil dari nama ice skater terkenal dari Rusia. Jadilah Kerubin Ekaterina. Menurutku nama yang aneh, tapi biarlah…

Kerubin menjadi bayi yang mandiri. Ia jarang kutimang. Aku sibuk dengan urusan rumah tangga dan mengurus kakaknya yang belum lagi genap setahun umurnya. Belum bisa jalan. Dan tidak ada yang membantuku saat itu, karena aku tidak mampu membayar pembantu apalagi babysitter.
Setiap hari Kerubin kuletakkan di dalam boxnya. Ia hanya kugendong saat kususui. Bila ia mengantuk, ia menghisap ibu jarinya sampai tertidur. Kerubin juga jarang menangis. Ia tidak rewel meskipun hanya diberi ASI selama enam bulan.

Ketika ia mulai bisa merangkak dan berdiri, Kerubin mulai bosan berada di dalam boxnya. Sampai suatu hari aku mendapatinya sedang ‘nangkring’ bergelantungan di pintu boxnya. Rupanya ia ingin keluar. Aku tidak mau ambil resiko, maka box itu aku bongkar, kubiarkan ia berlatih sendiri merayap kemudian berjalan.

Aku, Charlie dan Serafina punya ritual khusus sebelum tidur, yaitu membaca buku bersama. Tapi Kerubin tidak suka membaca. Ia sibuk dengan mainannya ketika kami sudah mulai asik dengan buku masing-masing. Aku tidak memaksanya untuk ikut membaca, daripada membuatnya makin apatis terhadap buku. Namun, lama kelamaan ia bosan juga setiap kali melihat manusia disekelilingnya sibuk membaca. Malu-malu ia meminta ayahnya untuk dibacakan satu cerita bergambar tokoh kesayangannya, Winnie the Pooh. Senang sekali melihat minat membacanya mulai tumbuh. Hanya kegemaran barunya itu sempat membuat aku dan ayahnya uring-uringan. Bayangkan saja, dalam sehari ia bisa minta membacakan cerita yang sama sampai lima kali berulang-ulang!

Kerubin Ekaterina kini berumur delapan tahun, kelas empat SD. Kulitnya tidak segelap dan keriput seperti saat baru dilahirkan. Hidungnya masih pesek, tapi mulai kelihatan sedikit batang hidungnya. Matanya bulat bundar seperti bulan purnama, tidak segaris lagi seperti dulu. Dan bulu matanya panjang dan lentik. Beberapa orang bertanya, apakah aku menggunting bulu matanya agar tumbuh lebih panjang? Aku katakan tidak, karena semua yang ada padanya kuterima dengan rasa syukur. Rambutnya juga mulai lebat, hitam dan berkilat. Pendek kata, ia tidak lagi terlihat seperti kodok.

Kerubin tumbuh menjadi anak yang periang. Ia adalah obat yang paling mujarab buatku di kala sakit, sedih maupun susah. Pelukan dan ciumannya sayangnya selalu ia berikan untukku, pun ketika aku habis memarahinya karena satu hal. Dalam satu hari ia tidak pernah lupa bilang ‘I love you mama’. Ia selalu memuji diriku cantik (walaupun aku tahu aku sama sekali tidak cantik seperti yang ia ungkapkan).

Ia senang menari dengan gerakan yang menurutnya tari balet. Ia senang bernyanyi meskipun suaranya tidak pernah singkron dengan nada keyboard yang ia mainkan sendiri. Ia menabung uang jajannya untuk membeli ikan hias dan komik Tintin. Ia tergila-gila pada permainan bulu tangkis. Ia mengimbangi sifat Serafina kakaknya yang selalu serius. Ia meramaikan isi rumah dengan tingkahnya yang ia sengaja buat agar kami semua tertawa. Lagu ‘Tak Gendong’ Mbah Surip, Kerubinlah yang pertama kali menyanyikannya di rumah, entah ia dengar dari mana. Ia selalu menyantap habis masakanku yang menurutnya paling enak sedunia, walau hanya kuberi bawang merah, bawang putih dan garam tanpa bumbu penyedap.

Kerubin Ekaterina adalah bonus, hadiah ekstra terindah yang diberikan untukku. Tidak terbayangkan bila ia tidak ada diantara kami. Terima kasih kepada Ibuku yang telah mengingatkan aku untuk mempertahankannya ketika aku berkeras tidak mau menerima kehadirannya di dalam perutku. Kerubin yang manis, Kerubin yang lucu, yang selalu akan menjadi kecintaanku...
I do love you my little frog :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar