Almarhum ompung boru (nenek perempuan, bahasa Batak) saya dari pihak ibu, punya seorang saudara lelaki. Adik laki-laki ompung boru ini sudah ‘awarahum’ juga. Sama seperti ompung boru, beliau ini juga saya panggil ompung . Tapi ada tambahan di belakangnya, bukit duri. Jadi si ompung doli (kakek, bahasa Batak) Bukit Duri. Karena sudah berpuluh tahun ia tinggal di Bukit Duri, daerah sekitar Manggarai.
Demikianlah salah satu kegemaran orang Batak. Selain bernyanyi, suka pula mengganti nama orang dengan nama jalan. Kalau bertanya pada orang Batak, kenal tidak dengan si A marganya X, pasti rata-rata menjawab tidak tahu. Tapi bila disebut nama jalan rumahnya, kemungkinan besar kaum Batak ini akan paham siapa yang dimaksud. Tradisinya mereka akan bilang begini, “O…si ompung jalan Paus itu…” Atau bisa juga, “O…si amangboru kakaktua itu…”
Maksudnya bukan si burung kakaktua punya amangboru (saudara laki-laki dari pihak bapak, bahasa Batak). Tapi si amangboru yang tinggal di jalan Kakaktua. Jadi jangan heran kalau dengar orang Batak memanggil para ompung, tulang, nangboru dkk dengan nama yang aneh-aneh, seperti nama benda, nama binatang atau bahkan nama seorang pahlawan dari pulau Jawa. Itu adalah sah hukumnya.
Kembali soal ompung Bukit Duri tadi. Ompung Bukit Duri punya seorang istri (ompung boru Bukit Duri juga sudah RIP). Suatu pagi, waktu itu saya masih kuliah. Saya naik angkot jurusan Taman Mini-Pasarminggu menuju kampus saya di LA alias Lenteng Agung.
Di sekitar Pasar Induk, angkot berhenti. Kemudian naiklah seorang perempuan berumur dengan sekantung penuh belanjaan berisi sayuran. Ha…ompung boru Bukit Duri rupanya. Dia duduk berhadapan dengan saya, tapi dengan ekspresi wajah yang biasa saja. Tidak seperti layaknya seorang nenek yang senang bertemu cucunya. Saya jadi serba salah. Melihat ekspresinya yang dingin-dingin saja, saya tidak berani menegurnya. Apakah ia membenci saya sehingga melihat saya saja tidak mau? Sudahlah, pura-pura tidak tahu saja.
Selang beberapa menit kemudian, ia pun turun di depan kompleks perumahan tentara. Ia masih tetap bunkam, bahkan sama sekali tidak menoleh kearah saya ketika turun dari angkot. Saya sakit hati. Kok gitu banget ya si ompung.
Sementara itu ada dua pertanyaan yang timbul di kepala saya. Pertama, kenapa ompung Bukit Duri pagi-pagi begini jauh-jauh belanja ke Pasar Induk? Kedua, sejak kapan ompung doli Bukit Duri yang seorang guru jadi tentara? Gelap.
Pulang ke rumah. Saya laporan pada ibu. Saya ungkapkan kronologis pertemuan singkat saya dengan si ompung tadi. Saya katakan juga pada ibu bahwa saya sekarang sebal sekali pada si ompung boru. Ibu saya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita saya itu.
Di sela-sela tawanya, ibu bilang bahwa si ompung boru Bukit Duri punya saudara kembar yang memang tinggal di sekitar Pasar Induk. Jadi, ompung-ompung yang saya jumpai tadi pagi di dalam angkot, tidak lain tidak bukan adalah saudara kembarnya si ompung boru Bukit Duri.
“Jelas aja dia nggak kenalin kamu.” Kata ibu masih dengan tawanya yang berderai-derai. Saya pun berlega hati karena ternyata ompung boru Bukit Duri tidak membenci saya seperti yang saya kira. Sori ya ‘pung sudah sempat sebal.*
Arsip Blog
-
▼
2010
(22)
-
▼
Mei
(22)
- MENJADI SEORANG AYAH BECOMING A FATHER
- IBU DAN WARTAWAN
- NAMAKU ADALAH...
- IBU DAN PERAWAN TUA
- KAKEK BAGIR BUKAN BAPAK BAGIR
- AKU CINTA INDONESIA
- HOW GOD CREATED A MILLION FACES
- 360 ANDERSON COOPER
- SAVED BY A SPIDER
- FORBIDDEN LOVE
- SEBOTOL PARFUM
- ROCK LIKE NEVER BEFORE?
- DOC MART & MINI SKIRT
- OH MY BUTT!
- KRISIS EKONOMI TIDAK MAMPIR KE SINI
- ORGEL
- SUATU KETIKA DI LOKASI SHOOTING
- REUNI VERSI SAYA
- KETIKA CINTA DATANG LAGI
- JURNALISTIK KELOMPOK EMPAT
- KERUBIN EKATERINA SIMANJUNTAK
- THE PRINCE AND THE PAUPER
-
▼
Mei
(22)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar