Senin, 10 Mei 2010

KRISIS EKONOMI TIDAK MAMPIR KE SINI

Mama pernah bilang, tidak usah membicarakan krisis di negeri ini. Menurutnya yang namanya krisis ekonomi sesungguhnya tidak begitu dikenal oleh rakyat Indonesia. Mama bahkan membuat sajak khusus yang menggambarkan situasi krisis moneter di tahun 1998 silam. Ma, sajak itu mama kirim ke koran nggak ya, dimuat atau tidak? Saya lupa…

Bagi saya, pendapat mama itu sungguh sangat aneh. Sebab waktu itu bukan hanya Indonesia yang terkena krisis, tapi juga negara-negara di kawasan Asia. Gilanya lagi, Indonesia termasuk yang lama alias paling buntut dinyatakan pulih dari krisis dibanding teman-teman negaranya yang lain. Lalu kenapa ia bilang nggak kena krisis?

Kini, sepuluh tahun kemudian, perusahaan besar Lehman Brothers di Amerika ambruk. Pelan tapi pasti, Indonesia mulai merasakan imbasnya. Lucunya seperti biasa, para pejabat mulai berkoar mengenai pondasi ekonomi kita. Malah ada yang berani bilang, kita tidak akan kena krisis, gubraaak! Sementara yang terjadi di alam nyata, rupiah terus melemah terhadap dollar Amerika. Satu dollar dihargai duabelas ribu rupiah. Tadinya cuma sembilan ribuan.

Harga kelapa sawit dan karet anjlok. Para petani bertahan hidup dengan hasil seadanya. Ekspor mulai tersendat, karena yang pesan barang sudah makin sedikit. Konon pelanggan di sana juga sudah pada tidak punya duit untuk beli-beli barang dari Indonesia. Kesimpulannya, uang masuk minim, pengusaha bisa gulung tikar (lagi), akhirnya pengangguran bertambah (lagi). Jadi kalau masalah ini dianalisis oleh para ahli yang pandai-pandai itu, Indonesia sudah masuk kategori terkena krisis ekonomi, bab dua, mungkin.

Sebelum saya melanjutkan, mohon maaf bila saya kelihatannya berlagak seperti seorang ekonom. Sebetulnya saya ingin cerita-cerita saja, seperti layaknya seorang ibu sedang nggosipin tetangga sebelah yang baru saja pindah.

Saya lalu berargumentasi dengan mama. Yang benar saja dong ma…Indonesia ini negara apa? Kalau dilihat dari kedua bola matanya negara-negara maju itu, negeri kita ini mereka bilang negara dunia ketiga. Rakyatnya masih pada miskin sekaligus bodoh. Ingatkah waktu pak Harto menandatangani Letter of Intent disaksikan pak Michel Camdessus yang berdiri disebelahnya sambil bersidekap tangan? Aduh, rasanya harga diri sebagai anak bangsa terkoyak. Halaaah…ngutang lagi, ngutang lagi. Nurut lagi…nurut lagi sama yang namanya pak ‘bos’ IMF. Disiarkan pula ke seantero jagad. Malu…

Jika menurut mama, bangsa ini tidak pernah kena krisis, artinya perekonomian kita hebat banget dong. Sebab katanya koran, Citibank, bank top di Amerika itu saja, tidak lama lagi akan memPHK sekian ribu karyawannya. Bahkan sebuah perusahaan otomotif terbesar di sana juga sedang pikir-pikir untuk menyatakan diri bangkrut karena kesulitan likuiditas. Lalu bagaimana mungkin mama bilang Indonesia tidak terkena krisis ekonomi. Karena contohnya sudah jelas, negara yang kuat ekonominya saja kena, apalagi kita?

“Sudahlah, kamu yakin saja kalau bangsa kita tidak kenal krisis ekonomi, krisis moneter, atau krisis apalah namanya. Ia tidak mampir ke sini.” Begitu kata mama. “Jalan-jalanlah ke pasar Gembrong, Pasarpagi, ITC Mangga Dua, Ambassador dan pasar Tanabang. Mal-mal dari ujung utara ke selatan. Pusat-pusat belanja dari ujung barat ke timur. Sogo Jongkok sampai lapak-lapak pedagang kaki lima di pinggir jalan. Toko-toko jual beli telepon seluler. Tempat-tempat makan. Adakah yang sepi dari pembeli?

Hari Jumat, Sabtu sampai Minggu, mal-mal pinggiran pun juga selalu penuh oleh pengunjung. Antrian terjadi di mana-mana, terutama di toko donat dan toko roti yang harga selusinnya bisa buat belanja tiga hari. Ada lagi yang namanya midnight shopping (belanja bareng hantu, maksudnya?). Nah, buat yang lagi bokek, tetap masih bisa buang duit. Carilah toko semua lima ribu atau sepuluh ribu tiga, yang penting nafsu membeli sesuatu tetap bisa dipenuhi.”

Ah, mama…pasar memang selalu ramai ma…Tapi apakah manusia yang berjejal di setiap pertokoan menunjukkan bangsa ini kebal terhadap krisis ekonomi? Walahualam…*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar