Senin, 10 Mei 2010

DOC MART & MINI SKIRT

Saya pusing waktu itu.
Dalam ‘outline’ penugasan saya, salah satu narasumber yang harus diwawancara adalah seorang tentara. Setelah tanya sana, tanya sini. Telepon sana telepon sini, narasumber yang dimaksud ketahuan berkantor di Cilangkap.

Menurut cerita teman-teman di lapangan, menembus narasumber dari kalangan elit tentara itu susah. Apalagi kalau wartawannya model kayak saya. Jam terbang masih minim, medianya ‘nggak ngetop’ pula. Bisa-bisa, surat permohonan wawancara saya, dilirik pun tidak.

Katanya sih, kalau mau dapat wawancara eksklusif, harus sudah punya lobi yang bagus supaya bapak-bapak perwira itu mau ngomong ke media kita.

Makin pusinglah saya. Kenapa saya yang disuruh? Sebagai langkah awal, alangkah baiknya jika oom redaktur yang jalan lebih dulu dibanding ‘ceré’ seperti saya.

Namun, supaya status ‘carep’ saya bisa cepat naik pangkat jadi reporter ‘beneran’, saya harus tetap melaksanakan tugas yang sudah diperintahkan.

Tidak disangka, permohonan wawancara saya langsung ditanggapi. Terang saja cepat, karena saya hanya diperkenankan bertemu dengan bagian Humas. Bukankah memang sudah kerjaannya orang Humas untuk meladeni permintaan wawancara?

Kata bos gede saya, “Ngapain kalo cuma dapet Humas.” Artinya, berpijak pada kebijaksanaan redaksional tempat saya bekerja, pernyataan dari Humas itu ibarat keranjang kosong. “Itu sih sama aja nggak dapet belanjaan.” Sambung bos gede yang satu lagi.

‘Duh, majalah baru terbit empat edisi kok banyak banget permintaannya. Memangnya belum tahu apa bahwa pekerjaan mengenalkan majalah ini ke masyarakat susahnya setengah mati. Mendengar nama majalahnya saja, orang sudah langsung curiga kalau saya berasal dari media tukang peras. Istilahnya, wartawan bodrek begitu (betul nggak sih?).

Ketika itu, saya ingin punya satu kaset rekaman yang berisi narasi tentang sejarah lengkap majalah saya itu. Bahwa orang-orang yang terlibat di situ adalah segerombolan manusia jenius yang berasal dari majalah X yang hebat itu, tapi sudah dibredel dan bla..blaa..blaaa... Jangan keburu curiga kalau saya wartawan ‘nggak bener’ dari media yang tidak jelas pula.

Jadi kalau ada yang tanya, DOR itu majalah apa sih? Nah, saya tinggal ongkang-ongkang kaki sambil minum kopi sembari menunggu calon narasumber menyimak penjelasan dari tape recorder saya. Daripada mulut saya berbusa-busa memberikan penjelasan yang itu-itu lagi. Supaya mereka mau diwawancara.

Akhirnya, saya memang tetap harus wawancara Humas dari Markas Besar. Saat itu situasinya sangat tidak mungkin saya bisa mendapatkan wawancara ekslusif dengan Pak Jenderal yang dimaksud.

Sehari sebelum wawancara, seorang teman memberi tahu bahwa kalau berkunjung ke markas, kaum perempuan dilarang mengenakan celana panjang apalagi jeans. Hukumnya wajib pakai rok dan sepatu. Pokoknya harus rapi dan sopan.

Saya mau menangis mendengarnya. Pasalnya, saya tidak punya rok dan sepatu fantovel (?). Masa saya harus belanja hanya untuk sekali wawancara. Tahu sendiri kan gaji wartawan pemula, masih carep lagi.

Di rumah, saya pun bongkar lemari pakaian. Dari laci paling bawah, saya temukan sepotong rok berwarna biru. Sudah kependekan, sedikit diatas lutut jatuhnya. Lumayanlah, masih pas di badan dan layak pakai. Toh tidak ada penjelasan jenis rok apa yang boleh dan tidak boleh dikenakan. Rok mini, midi atau longdress sekalian. Whatever!

Bagaimana dengan sepatu? Saya juga tidak punya sepatu perempuan. Selain sepatu Reebok bulukan saya itu, saya hanya punya sepasang lagi yaitu sepatu boot Doctor Martin dari kulit warna hitam.
Cuma, kalau pakai si Doc Mart ini, saya harus pakai kaus kaki tebal karena sebetulnya sepatu itu agak kebesaran buat kaki saya.

Sudah terbayang betapa kacaunya penampilan saya besok. Pakai rok setengah mini, sepatu Doc Mart hitam bertali, plus kaus kaki. Mudah-mudahan saja saya tidak diusir di pintu masuk oleh penjaga yang bersenjata itu. Disangka orang gila!

Saya beruntung. Dengan senyum ramah Pak Kepala Humas Mabes menyilahkan saya masuk ke ruangannya. Wawancara berlangsung santai. Pak Kahumas bersedia menjawab semua pertanyaan saya. Selesai wawancara, saya bahkan diantar dengan mobil oleh bawahannya, sampai ke pintu gerbang markas yang jaraknya lumayan jauh dari gedung tempat saya melakukan wawancara.

Kembali ke kantor, rapat perencanaan sudah dimulai. Begitu saya masuk ke ruang rapat, saya habis ditertawakan teman-teman satu kantor. “Reko…Reko..,nggak salah kamu…ha…ha…ha…” Begitu kata mereka ketika melihat penampilan saya yang super aneh itu.

Biarlah kalau rok, sepatu dan kaus kaki saya itu bisa membuat teman-teman gembira. Sebab, tidak diusir dari Mabes karena rok setengah mini dan sepatu boot yang kebesaran- sudah menjadi hadiah terindah bagi saya hari itu.

*Secuil kenangan dari TIM 051208

Tidak ada komentar:

Posting Komentar