Kapan sih enaknya bercinta? Pagi, siang, sore atau malam ketika anak-anak sudah lelap? Jaman dulu, ketika kami masih cuma berdua, bermesraan dimana saja dan kapan saja tidak masalah selama masih berada di dalam rumah sendiri. Bisa di kamar, di ruang tamu, di depan tv, di kamar mandi bahkan di dapur…
Charlie, suamiku senang sekali menggangguku saat aku sedang bekerja di dapur, mencuci piring misalnya. Ia bisa saja tiba-tiba telah berada di belakangku tanpa aku ketahui sudah berapa lama ia berdiri di situ. Biasanya ketika aku sudah menyadari keberadaannya, dia akan memelukku erat-erat dari belakang.
Semakin aku meronta, semakin kuat ia memelukku. Kemudian, seperti kucing mencari mangsa, ia mulai menciumi bagian belakang telingaku, terus sampai ke leher. Tangan kirinya melingkar di pinggangku, sementara tangan kanannya bergerilya dari bagian atas sampai bawah tubuhku. Dengan jemari yang kadang masih berlepotan sabun, aku berusaha menghentikannya dengan satu colekan menggelitik di pinggangnya. Namun seringkali itu tidak berhasil. Tangannya yang kekar lebih kuat dari rontaanku yang paling keras sekalipun. Dan terakhir, ia selalu melakukan hal yang paling susah kuhindari, memelorotkan celana pendekku, ha…ha…ha…
Tidak terasa waktu berjalan. Tahu-tahu saja rumahku sudah diisi oleh begundal-begundal kecil. Dua-duanya perempuan. Beda umur antara si kakak dan si adik hanya berjarak setahun. Kata orang Jawa, aku kesundulan. Apapun itu, yang pasti aku sungguh sangat kerepotan mengasuh dua bayi sekaligus, karena aku berkeras tidak ingin menggunakan jasa pengasuh anak.
Buatku, seorang baby sitter tidak lebih dari seorang pembantu rumah tangga biasa, yang dipakaikan seragam berwarna putih, pink, biru atau hijau tosca. Rata-rata mereka minim pengetahuan soal merawat bayi dan yang paling nyebelin, mereka seringkali mengabaikan masalah kebersihan. Ini cuma pendapatku lho dan kebetulan aku pernah mengalaminya sendiri.
Dengan adanya kesibukan baru ini, otomatis waktuku bermesraan dengan Charlie berkurang. Banget...! Paling banter kami hanya bisa kiss goodbye sebelum ia berangkat ke kantor. Seringkali ketika kami sedang asik masyuk berduaan, tiba-tiba saja terdengar suara rengekan si kecil mencari perhatian. Ya…nggak jadi lagi deh…Kadang-kadang, rasanya kangen juga pengen ngerasain saat masih berduaan saja di rumah.
Kini kedua putri kecilku sudah bisa berjalan dan bermain bersama. Suatu hari, si Kakak berteriak sambil berlari keluar dari dalam kamar. “Ma, ada aba-aba…!”katanya. Sejenak aku tertegun, tidak mengerti apa yang diucapkannya. “Aba-aba ma…”katanya lagi sambil tangannya menunjuk ke arah kamar tidur. Perlahan aku menuntunnya kembali ke dalam kamar, “aba-aba apa sih kak?” tanyaku. Ia lalu mendongakkan kepalanya dan tangannya kembali diangkat keatas dan diarahkan ke sudut kamar, tepat di samping jendela. O, ternyata ada sarang laba-laba di situ, lengkap dengan penghuninya dengan ukuran tubuh yang lumayan besar. Aku tertawa, “iya kak nanti papa bersihin ya, soalnya mama tidak sampai, terlalu tinggi.”
Ketika Charlie tiba di rumah, kusampaikan padanya perihal kejadian tadi siang. Maka keesokan paginya ia pun menyiapkan pembersih debu bergagang panjang untuk menyingkirkan sarang laba-laba itu. Aku ikut membantunya dengan membawakan kursi agar ia tidak terlalu sulit menjangkau langit-langit. “Kakak, adik…mama sama papa mau bersihin sarang laba-laba ya…Kalian main di sini, tidak masuk ke dalam kamar ya, nanti kena debu,” ujarku pada anak-anak.
Si bungsu sudah memperlihatkan wajah ingin menangis. Buru-buru aku menjelaskan padanya bahwa aku tidak akan pergi ke luar rumah, hanya akan berada beberapa saat di dalam kamar. Untunglah si kecil mengerti dan wajahnya ceria kembali.
Aku pun masuk ke dalam kamar. Kulihat Charlie sudah berdiri di atas bangku. Ia memegang kemoceng bergagang panjang. “Ssst…sini sebentar,” Charlie memanggilku setengah berbisik. Aku tidak mendengar. “Ssst…sini dulu sebentar…” kali ini suaranya sedikit dikeraskan, tapi masih dengan nada berbisik. “Ada apa sih pake bisik-bisik segala…”sahutku.
“Tutup pintunya.”
“Sudah.”
“Bukan pintu depan!”
“Pintu yang mana?”
“Pintu kamar ini...”
“Ngapain sih pake ditutup segala…?”
“Udah deh, tinggal tutup aja, banyak amat pertanyaannya.”
Masih tidak mengerti, aku menuruti permintaannya menutup pintu kamar perlahan-lahan. “Kunci sekalian!” lanjut Charlie, masih dengan volume suara dikecilkan. Begitu selesai aku menutup pintu, tahu-tahu ia sudah berada di belakangku dan memelukku erat-erat. Entah dilempar kemana kemoceng yang barusan dipegangnya. Belum sadar benar apa yang sedang dilakukannya, tiba-tiba saja ia sudah mengangkatku ke atas tempat tidur lalu menghujaniku dengan kecupan dan pelukan. Spontanitas bercinta yang rasanya sudah lama sekali tidak kami lakukan. Sebuah kejutan manis di pagi hari buatku, tentunya.
*
“Kakak…adik..., mama sama papa mau bersihin kamar dulu ya, sarang laba-labanya udah banyak tuh…”
“Iya maaa…”
( Sejak hari itu, kami sudah punya trik khusus untuk bercinta kapan saja tanpa harus diganggu dua orang malaikat kecilku itu )
PS: untuk para ibu muda yang sering kerepotan mengurus rumah tangga :)
Arsip Blog
-
▼
2010
(22)
-
▼
Mei
(22)
- MENJADI SEORANG AYAH BECOMING A FATHER
- IBU DAN WARTAWAN
- NAMAKU ADALAH...
- IBU DAN PERAWAN TUA
- KAKEK BAGIR BUKAN BAPAK BAGIR
- AKU CINTA INDONESIA
- HOW GOD CREATED A MILLION FACES
- 360 ANDERSON COOPER
- SAVED BY A SPIDER
- FORBIDDEN LOVE
- SEBOTOL PARFUM
- ROCK LIKE NEVER BEFORE?
- DOC MART & MINI SKIRT
- OH MY BUTT!
- KRISIS EKONOMI TIDAK MAMPIR KE SINI
- ORGEL
- SUATU KETIKA DI LOKASI SHOOTING
- REUNI VERSI SAYA
- KETIKA CINTA DATANG LAGI
- JURNALISTIK KELOMPOK EMPAT
- KERUBIN EKATERINA SIMANJUNTAK
- THE PRINCE AND THE PAUPER
-
▼
Mei
(22)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar