Senin, 10 Mei 2010

AKU CINTA INDONESIA

Uneg-uneg saya sebenarnya masih banyak. Soal rokok kemarin hanyalah salah satunya. Kalau mau membahas tentang keluhan saya sebagai warga negara Indonesia, bisa beratus-ratus halaman nantinya. Soal toilet umum yang jorok dan berbau busuk, main serobot dalam antrian, angkutan umum yang doyan berhenti di tengah jalan, pengendara motor yang melaju seenaknya.

Apalagi jika melihat masalah yang lebih prinsip semisal uang pajak yang tidak tahu lari kemana. Tiap sudut kota ada jalan rusak, sekolah ambruk, puskesmas reot, pasar tradisional dibiarkan merana dan seterusnya dan seterusnya. Kemanakah setoran pajak itu bersarang, sedangkan jutaan gembel yang beli teh botol saja juga ikut bayar pajak minuman?

Memang sudah takdir saya lahir sebagai orang Indonesia. Ditilik dari sisi keragaman budayanya, saya bersyukur bisa mengenal negeri ini dari dekat. Tarian Saman yang rumit itu, tidak bosan-bosannya saya menontonnya melalui rekaman dvd. Dengarlah Gondang Batak yang merdu itu. Adat istiadat yang sarat nilai-nilai budaya di tiap daerah. Keindahan alamnya (kalau masih ada yang tersisa, sebelum semua kemurahan Tuhan itu dijadikan tembok-tembok bernama mal). Indonesia memang luar biasa.

Tetapi di luar itu, saya lebih banyak jengkelnya setiap mengalami atau melihat peristiwa-peristiwa yang berada di luar batas nalar saya. Lagi-lagi saya ‘ngedumel’ kenapa juga saya lahir di negeri ‘semrawut’ ini.

Beberapa waktu lalu, seorang teman warga negara Australia, tapi sudah lama bermukim di Singapore, datang ke Jakarta. Ia seorang wartawan sebuah kantor berita besar Inggris.

Bersama beberapa teman, saya menemaninya jalan-jalan ke Kemang. Setelah itu kami makan di sebuah hotel teduh di bilangan jalan Dharmawangsa. David, demikian nama si bule bukan sekali ini saja datang ke Jakarta. Saya lupa menanyakannya. Tapi yang pasti sudah lebih dari tiga kali, belum termasuk bila ia hanya mampir ke Bali.

Iseng-iseng saya tanya ke dia,” Eh, elo kok seneng banget sih maen ke sini?” (tentu saja pertanyaan diajukan dalam bahasa ibunya). Dia cuma mesem-mesem saja sambil terus mengunyah makanannya. “Kalo gue jadi elo, gue nggak bakal mau kesini. Emang elo nggak liat apa nih kota, jorok, acak-acakan, semua serba nggak teratur, gembel bertebaran di mana-mana, rawan copet lagi.”

Si David malah manggut-manggut saja sambil terus mengunyah. Maka saya pun melanjutkan ocehan saya,” Emang di Singapore nggak ada hotel apa, di sana bukannya enak…semua serba teratur, bersih. Di Australia juga bukannya begitu. Kenapa nggak ke sana aja, atau ke negara lain deh asal bukan ke sini?”

Akhirnya, David selesai mengunyah karena makanannya pun telah habis. Ia menuang air ke gelasnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tersenyum. Terus dia bilang gini ke saya,” Gue emang seneng ke sini. Karena di sini beda sama di Singapore atau di Australia.” Saya mengernyitkan dahi, “Ya jelas beda dong mas, kan tadi gue udah ngomong panjang lebar soal perbedaannya,” timpal saya. “Di sini berantakan, di sana teratur.” Lanjut saya lagi.

“Di Singapore itu memang banyak hotel. Dari yang paling mahal sampe yang paling murah. Tapi buat gue itu semuanya nggak enak. Karena hotel-hotel itu kesannya kering dan gersang.” Ujarnya. Saya jadi bingung mendengarnya,” Maksud elo?” tanya saya tidak mengerti. “Elo liat nggak tempat sekarang kita lagi duduk-duduk nih,” katanya.

Saya memerhatikan pemandangan dari tempat saya duduk. Hotel yang saya datangi ini memang enak. Kesan teduh dan nyaman sudah terasa saat menginjakkan kaki di mulut lobi. Pohon-pohon besar dan rindang dibiarkan tumbuh. Harum bunga melati, samar-samar tercium. Suara gending Jawa yang dimainkan langsung oleh penabuhnya, seolah-olah membawa raga ke alam yang sangat jauh dari hiruk pikuk Jakarta. Padahal notabene saya sedang berada di tengah kota.

“Hotel-hotel di Singapore, di Australia atau tempat-tempat lain yang pernah gue datengin, nggak ada yang seperti hotel-hotel di Indonesia. Contohnya ya di sini ini. Gue sekarang nggak ngerasa tuh kalo gue sebenernya lagi berada di tengah kota.

Nah, soal yang elo bilang ‘semrawut’ dan jorok, itulah asiknya. Gue sendiri udah bosen banget ngeliat segala keteraturan dan kebersihan. Di sini enak, kejorokan dan kesemerawutanlah yang membuat kehidupan manusia di sini lebih dinamis, nggak monoton kayak di Singapore. Yang kayak gitu tuh yang bikin gue seneng maen ke sini.”

“Hah…?” Saya melongo mendengarnya. Dasar bule ‘ndablek’. Kini gantian saya yang manggut-manggut. Jadi selama ini, apakah saya saja yang terlalu berlebihan menghadapi berbagai kenyataan di negeri ini? Is it Indonesia true a lovely country?*

HOW GOD CREATED A MILLION FACES

Almarhum ompung boru (nenek perempuan, bahasa Batak) saya dari pihak ibu, punya seorang saudara lelaki. Adik laki-laki ompung boru ini sudah ‘awarahum’ juga. Sama seperti ompung boru, beliau ini juga saya panggil ompung . Tapi ada tambahan di belakangnya, bukit duri. Jadi si ompung doli (kakek, bahasa Batak) Bukit Duri. Karena sudah berpuluh tahun ia tinggal di Bukit Duri, daerah sekitar Manggarai.

Demikianlah salah satu kegemaran orang Batak. Selain bernyanyi, suka pula mengganti nama orang dengan nama jalan. Kalau bertanya pada orang Batak, kenal tidak dengan si A marganya X, pasti rata-rata menjawab tidak tahu. Tapi bila disebut nama jalan rumahnya, kemungkinan besar kaum Batak ini akan paham siapa yang dimaksud. Tradisinya mereka akan bilang begini, “O…si ompung jalan Paus itu…” Atau bisa juga, “O…si amangboru kakaktua itu…”

Maksudnya bukan si burung kakaktua punya amangboru (saudara laki-laki dari pihak bapak, bahasa Batak). Tapi si amangboru yang tinggal di jalan Kakaktua. Jadi jangan heran kalau dengar orang Batak memanggil para ompung, tulang, nangboru dkk dengan nama yang aneh-aneh, seperti nama benda, nama binatang atau bahkan nama seorang pahlawan dari pulau Jawa. Itu adalah sah hukumnya.

Kembali soal ompung Bukit Duri tadi. Ompung Bukit Duri punya seorang istri (ompung boru Bukit Duri juga sudah RIP). Suatu pagi, waktu itu saya masih kuliah. Saya naik angkot jurusan Taman Mini-Pasarminggu menuju kampus saya di LA alias Lenteng Agung.

Di sekitar Pasar Induk, angkot berhenti. Kemudian naiklah seorang perempuan berumur dengan sekantung penuh belanjaan berisi sayuran. Ha…ompung boru Bukit Duri rupanya. Dia duduk berhadapan dengan saya, tapi dengan ekspresi wajah yang biasa saja. Tidak seperti layaknya seorang nenek yang senang bertemu cucunya. Saya jadi serba salah. Melihat ekspresinya yang dingin-dingin saja, saya tidak berani menegurnya. Apakah ia membenci saya sehingga melihat saya saja tidak mau? Sudahlah, pura-pura tidak tahu saja.

Selang beberapa menit kemudian, ia pun turun di depan kompleks perumahan tentara. Ia masih tetap bunkam, bahkan sama sekali tidak menoleh kearah saya ketika turun dari angkot. Saya sakit hati. Kok gitu banget ya si ompung.

Sementara itu ada dua pertanyaan yang timbul di kepala saya. Pertama, kenapa ompung Bukit Duri pagi-pagi begini jauh-jauh belanja ke Pasar Induk? Kedua, sejak kapan ompung doli Bukit Duri yang seorang guru jadi tentara? Gelap.

Pulang ke rumah. Saya laporan pada ibu. Saya ungkapkan kronologis pertemuan singkat saya dengan si ompung tadi. Saya katakan juga pada ibu bahwa saya sekarang sebal sekali pada si ompung boru. Ibu saya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita saya itu.

Di sela-sela tawanya, ibu bilang bahwa si ompung boru Bukit Duri punya saudara kembar yang memang tinggal di sekitar Pasar Induk. Jadi, ompung-ompung yang saya jumpai tadi pagi di dalam angkot, tidak lain tidak bukan adalah saudara kembarnya si ompung boru Bukit Duri.

“Jelas aja dia nggak kenalin kamu.” Kata ibu masih dengan tawanya yang berderai-derai. Saya pun berlega hati karena ternyata ompung boru Bukit Duri tidak membenci saya seperti yang saya kira. Sori ya ‘pung sudah sempat sebal.*

360 ANDERSON COOPER

Mungkin, beginilah nasib kalau hidup di negeri yang dianggap identik dengan aksi teror. Artis R kelahiran Barbados batal manggung, padahal tiket sudah amblas dibeli calon penonton. Kejuaraan internasional A tidak mungkin diselenggarakan di sini. Presiden B atau menteri C dari negara D, mengundurkan jadwal kedatangannya. Lalu ada lagi yang namanya 'travel warning.' Semuanya pasti karena satu alasan. Takut mati dibom!

Mungkin di mata dunia luar, orang Indonesia adalah serumpun manusia yang patut dicurigai gerak-geriknya. Harap maklum, saya saja yang asli orang Indonesia kadang-kadang takut juga kalau datang ke tempat-tempat tertentu. Siapa tahu lagi sial, kena bom meleduk. Hiii….

Saya penggemar acara 360˚ di CNN, ketika TV lokal hanya menyiarkan iklan kampanye-kampanye kosong, ‘pilkadal’ rusuh yang membosankan, dan berita remeh temeh yang sok dipolitisir.

Selain liputan yang manusiawi dan mendalam, program 360˚ ini dibawakan oleh seorang reporter yang membuat mata perempuan saya sampai melotot memandangnya. Meskipun bahasa Inggris saya ‘acak adut’, tapi kalau si ganteng ini yang bicara, rasanya saya jadi paham semua yang ia ucapkan.

Saya cinta mati sama si Anderson Cooper ini, demikian namanya. Sudah tampan abis, pintar pula. Konon, Tuan Cooper berasal dari kalangan berada di negeri asalnya. Dia bisa saja hidup enak tanpa harus bercapek-capek reporting kesana-kemari.

Itulah juga salah satu hal yang membuat saya gandrung padanya. Sementara, di sini, ada nggak ya anak konglomerat yang mau jadi wartawan? Dimaki-maki narasumber, berpapasan dengan maut saat meliput perang atau bencana alam? Ha..ha..ha…dalam mimpi!

Saya makin semangat menonton program 360˚ ketika ternyata bang Anderson meng’approve’ saya sebagai teman di facebooknya. Email darinya yang berisi ‘confirm to be friend’ tidak saya hapus dari kotak surat saya. Meskipun hanya lewat dunia virtual, saya senang sekali mendapat respon darinya.

Kemarin, saya membuka seluruh daftar nama-nama yang sudah menjadi teman saya melalui facebook. Tapi terasa ada yang janggal. Saya selalu mampir melihat teman saya yang berasal dari Italy. Saya juga selalu mampir melihat teman saya yang wartawan CNN itu. Bolak-balik saya lihat daftarnya, ternyata nama Anderson Cooper memang sudah tidak berada di tempatnya lagi. Kok bisa?

Saya tidak tahu harus tanya kemana. Kenapa si bul bul ganteng nan ‘pinter’ itu menghilang dari daftar teman-teman saya? Setahu saya, menghilangkan nama teman hanya bisa dilakukan melalui ‘account’ kita sendiri. Jadi hal yang paling mungkin adalah, Anderson sendiri yang telah ‘menendang’ saya keluar dari daftar teman-temannya.

Oh, sekali lagi nasib…nasib… Apakah ia sudah tidak sudi punya teman dari Indonesia meskipun hanya ‘teman’ di dunia maya? Saya hanya menebak-nebak. Saya kira, saya tidak punya alasan yang membuatnya marah sehingga ia mendepak saya. Menulis di ‘wall’ nya saja saya cuma sekali. Itupun hanya bilang ‘I love your show.”

Saya jadi sensitif. Adakah yang salah pada diri saya? Apakah karena saya seorang Indonesia? Benarkah kemudian ia curiga bahwa saya adalah juga seorang tukang teror yang ingin menjadikannya target? Atau seorang mata-mata dari dunia ketiga yang berkamuflase di FB untuk mencari akses demi mendapatkan berbagai informasi penting dari seorang wartawan negara adidaya (halah…sok ngerti intel lu, baru baca buku CIA ya?). Berlebihan!!

Lantas apa mas Anderson? Tampang saya juga kayaknya tidak jelek-jelek amat. Jadi anda tidak perlu malu punya teman keren seperti saya. Tapi, kenapa anda mencoret saya dari daftar teman-teman anda? Kalau memang benar anda melakukan itu, sungguh saya begitu tersinggung. Juga patah hati!*

SAVED BY A SPIDER

Kapan sih enaknya bercinta? Pagi, siang, sore atau malam ketika anak-anak sudah lelap? Jaman dulu, ketika kami masih cuma berdua, bermesraan dimana saja dan kapan saja tidak masalah selama masih berada di dalam rumah sendiri. Bisa di kamar, di ruang tamu, di depan tv, di kamar mandi bahkan di dapur…

Charlie, suamiku senang sekali menggangguku saat aku sedang bekerja di dapur, mencuci piring misalnya. Ia bisa saja tiba-tiba telah berada di belakangku tanpa aku ketahui sudah berapa lama ia berdiri di situ. Biasanya ketika aku sudah menyadari keberadaannya, dia akan memelukku erat-erat dari belakang.

Semakin aku meronta, semakin kuat ia memelukku. Kemudian, seperti kucing mencari mangsa, ia mulai menciumi bagian belakang telingaku, terus sampai ke leher. Tangan kirinya melingkar di pinggangku, sementara tangan kanannya bergerilya dari bagian atas sampai bawah tubuhku. Dengan jemari yang kadang masih berlepotan sabun, aku berusaha menghentikannya dengan satu colekan menggelitik di pinggangnya. Namun seringkali itu tidak berhasil. Tangannya yang kekar lebih kuat dari rontaanku yang paling keras sekalipun. Dan terakhir, ia selalu melakukan hal yang paling susah kuhindari, memelorotkan celana pendekku, ha…ha…ha…

Tidak terasa waktu berjalan. Tahu-tahu saja rumahku sudah diisi oleh begundal-begundal kecil. Dua-duanya perempuan. Beda umur antara si kakak dan si adik hanya berjarak setahun. Kata orang Jawa, aku kesundulan. Apapun itu, yang pasti aku sungguh sangat kerepotan mengasuh dua bayi sekaligus, karena aku berkeras tidak ingin menggunakan jasa pengasuh anak.

Buatku, seorang baby sitter tidak lebih dari seorang pembantu rumah tangga biasa, yang dipakaikan seragam berwarna putih, pink, biru atau hijau tosca. Rata-rata mereka minim pengetahuan soal merawat bayi dan yang paling nyebelin, mereka seringkali mengabaikan masalah kebersihan. Ini cuma pendapatku lho dan kebetulan aku pernah mengalaminya sendiri.

Dengan adanya kesibukan baru ini, otomatis waktuku bermesraan dengan Charlie berkurang. Banget...! Paling banter kami hanya bisa kiss goodbye sebelum ia berangkat ke kantor. Seringkali ketika kami sedang asik masyuk berduaan, tiba-tiba saja terdengar suara rengekan si kecil mencari perhatian. Ya…nggak jadi lagi deh…Kadang-kadang, rasanya kangen juga pengen ngerasain saat masih berduaan saja di rumah.

Kini kedua putri kecilku sudah bisa berjalan dan bermain bersama. Suatu hari, si Kakak berteriak sambil berlari keluar dari dalam kamar. “Ma, ada aba-aba…!”katanya. Sejenak aku tertegun, tidak mengerti apa yang diucapkannya. “Aba-aba ma…”katanya lagi sambil tangannya menunjuk ke arah kamar tidur. Perlahan aku menuntunnya kembali ke dalam kamar, “aba-aba apa sih kak?” tanyaku. Ia lalu mendongakkan kepalanya dan tangannya kembali diangkat keatas dan diarahkan ke sudut kamar, tepat di samping jendela. O, ternyata ada sarang laba-laba di situ, lengkap dengan penghuninya dengan ukuran tubuh yang lumayan besar. Aku tertawa, “iya kak nanti papa bersihin ya, soalnya mama tidak sampai, terlalu tinggi.”

Ketika Charlie tiba di rumah, kusampaikan padanya perihal kejadian tadi siang. Maka keesokan paginya ia pun menyiapkan pembersih debu bergagang panjang untuk menyingkirkan sarang laba-laba itu. Aku ikut membantunya dengan membawakan kursi agar ia tidak terlalu sulit menjangkau langit-langit. “Kakak, adik…mama sama papa mau bersihin sarang laba-laba ya…Kalian main di sini, tidak masuk ke dalam kamar ya, nanti kena debu,” ujarku pada anak-anak.

Si bungsu sudah memperlihatkan wajah ingin menangis. Buru-buru aku menjelaskan padanya bahwa aku tidak akan pergi ke luar rumah, hanya akan berada beberapa saat di dalam kamar. Untunglah si kecil mengerti dan wajahnya ceria kembali.

Aku pun masuk ke dalam kamar. Kulihat Charlie sudah berdiri di atas bangku. Ia memegang kemoceng bergagang panjang. “Ssst…sini sebentar,” Charlie memanggilku setengah berbisik. Aku tidak mendengar. “Ssst…sini dulu sebentar…” kali ini suaranya sedikit dikeraskan, tapi masih dengan nada berbisik. “Ada apa sih pake bisik-bisik segala…”sahutku.
“Tutup pintunya.”
“Sudah.”
“Bukan pintu depan!”
“Pintu yang mana?”
“Pintu kamar ini...”
“Ngapain sih pake ditutup segala…?”
“Udah deh, tinggal tutup aja, banyak amat pertanyaannya.”

Masih tidak mengerti, aku menuruti permintaannya menutup pintu kamar perlahan-lahan. “Kunci sekalian!” lanjut Charlie, masih dengan volume suara dikecilkan. Begitu selesai aku menutup pintu, tahu-tahu ia sudah berada di belakangku dan memelukku erat-erat. Entah dilempar kemana kemoceng yang barusan dipegangnya. Belum sadar benar apa yang sedang dilakukannya, tiba-tiba saja ia sudah mengangkatku ke atas tempat tidur lalu menghujaniku dengan kecupan dan pelukan. Spontanitas bercinta yang rasanya sudah lama sekali tidak kami lakukan. Sebuah kejutan manis di pagi hari buatku, tentunya.
*
“Kakak…adik..., mama sama papa mau bersihin kamar dulu ya, sarang laba-labanya udah banyak tuh…”
“Iya maaa…”

( Sejak hari itu, kami sudah punya trik khusus untuk bercinta kapan saja tanpa harus diganggu dua orang malaikat kecilku itu )

PS: untuk para ibu muda yang sering kerepotan mengurus rumah tangga :)

FORBIDDEN LOVE

There's a beautiful place...

Behind the hill

She wants to see it

But no one is around

She dreams night and day

Hoping a miracle...

She cries a river

Nobody cares

There's a beautiful place...

Behind the hill

Wishing someone she loves

Will take her there...

SEBOTOL PARFUM

---Tapi ada juga ‘mbak-mbak’ yang asik mengusap-usap anjing majikan, atau sibuk mengejar-ngejar anak si tuan yang tidak bisa diam----

Bila bukan karena keperluan yang sangat mendesak, saya mungkin tidak akan pernah menginjakkan kaki di negeri kecil ini. Negeri yang konon luasnya hanya sepertiga pulau Jawa. Negeri yang dipenuhi oleh gedung-gedung tinggi. Negeri yang katanya ‘surga belanja’ (buat saya, lebih surga Manggadua dan Tanabang, sesuai dengan kantong). Negeri yang bersih, teratur dan rakyatnya yang sangat disiplin (di mata saya mereka seperti robot hidup, jarang ada berita maling ayam dihukum lima tahun, koruptor dihukum satu tahun...nggak seru deh...)

Namun di sisi lain, saya senang bisa melihat dari dekat kehidupan di Singapura. Di mana para pejalan kaki begitu dihormati. Tidak ada yang merokok sembarangan apalagi membuang ludah seenaknya. Toilet umum bersih dan selalu tersedia tissue.

Antri di kasir, antri menunggu taksi, antri di stasiun kereta dan di halte bus. Tidak ada yang main serobot. Berada dimana pun saya selalu dibantu. Seperti dibukakan pintu, diberi jalan lebih dulu saat di lift. Pendeknya diberi prioritas di tempat umum, karena saya membawa ibu yang duduk di kursi roda.

Di beberapa tempat, khususnya di Orchad Road, saya melihat orang-orang Indonesia berkeliaran. Mereka menjinjing tas-tas belanjaan. Tapi ada juga ‘mbak-mbak’ yang asik mengusap-usap anjing majikan, atau sibuk mengejar-ngejar anak si tuan yang tidak bisa diam. Ada benarnya juga beberapa tulisan yang pernah saya baca mengenai orang Indonesia di negeri ini. Sekarang saya sudah lihat sendiri.

Dua minggu yang lalu, kali kedua saya mengunjungi Singapura dalam dua bulan terakhir. Lumayan, sudah bisa menikmati berada di negeri asing. Meskipun udaranya panas seperti Jakarta, paling tidak bersih dari asap kendaraan yang berwarna hitam dan berbau menyengat.

Satu hari rasanya cukup untuk berkeliling di pusat kota. Mampir ke pusat syaraf Tan Tock Seng, Bugis Village, Botanical Garden, minum teh di Raffless Hotel (salah satu dari sedikit bangunan tua yang ada di Singapore), melihat-lihat peradaban manusia di Asean Museum, menyusuri Orchad Road. Tidak mengunjungi Marlion karena masih dalam tahap diperbaiki setelah tersambar petir.

Ketika tiba waktunya pulang. Tidak banyak yang saya bawa, karena saya hanya dua hari situ. Beberapa buku dan cd favorit yang tidak saya temukan di tanah air, saya beli di Wheelock. Salah satunya buku tentang beragam sejarah kebudayaan Indonesia yang penuh dengan foto-foto kuno. Saya tidak pernah melihatnya dalam bentuk edisi Bahasa Indonesia. Semua barang itu saya masukkan ke dalam koper kecil di bagasi. Hanya paspor dan sedikit uang buat taksi di Jakarta, saya masukkan dalam tas kecil yang diselempangkan ke bahu.

Sebelum masuk ke ruang tunggu, seperti biasa penumpang harus di screening terlebih dahulu. Saya lolos dengan aman, karena memang saya tidak membawa barang yang aneh-aneh. Tapi di depan saya, sekelompok perempuan muda, meriung di hadapan petugas bandara. Salah satu dari mereka kelihatan seperti sedang memohon-mohon kepada petugas.

Saya masih tidak mengerti kenapa perempuan-perempuan itu begitu memelas, sampai akhirnya mata saya tertuju pada benda-benda yang berada di meja petugas. Saya lihat di situ ada beberapa botol besar sabun cair, sekitar tiga buah botol dengan ukuran sedang; nampaknya pelembab untuk tubuh. Juga ada parfum-parfum dalam botol besar dan kecil.

Sementara itu, petugas lainnya masih membongkar satu lagi tas plastik besar milik si mbak tadi. Ternyata mereka membawa serta kantong-kantong plastik lusuh, yang entah isinya apa ke dalam kabin pesawat. Kontras dengan penumpang SQ yang lain.

Keributan kecil itu masih berlangsung. Petugas screening yang juga perempuan, dengan wajah dingin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesekali ia berujar tanpa ekspresi, ”Tak bisa makcik, tak boleh.”
“Mosok ndak boleh sih bu…cuma begituan aja…saya kan bawa jaoh-jaoh dari sini…” Petugas hanya menatap si mbak dan mata si mbak tidak lepas dari botol-botol yang ada di hadapannya. Ia terus mengoceh perihal keberatannya atas penahanan barang-barang miliknya itu.

Sesekali si mbak membungkukkan tubuhnya, seperti sedang menyembah sang petugas. Kedua tangannya ia lipat di dadanya, layaknya sedang berdoa. Merasa permintaannya tidak digubris, akhirnta ia berteriak,” Duuuh…tolong dong Bu…mosok ndak boleh…?”

Ekspresi petugas tidak berubah. Si mbak lantas berteriak lebih keras lagi, ia mencoba menawar si petugas, “Kalo gitu satu aja deh bu yang saya bawa…satuuuu aja…” Si mbak nampak mulai lepas kendali. Kakinya dihentak-hentakkan ke lantai. Ia mengeluarkan suara seperti orang menangis, “Mosok semuanya ndak boleh dibawa…?” Jawaban datar petugas kembali terdengar,” Tak bisa makcik…”

“Ampuuun….Gusti Allah…mosok satu juga ndak boleh? Satuuuu aja Bu, demi Allah…satu aja…!” Ia merengek tak putus-putus, sembari jemarinya menggenggam sebuah parfum dalam botol mungil. Parfum yang mungkin akan diberikannya kepada sang kekasih di kampung halaman. Sebab hanya benda itulah yang begitu ia perjuangkan untuk dibawa, dibanding benda-benda lainnya.

Dan petugas pun hilang kesabaran, si mbak diminta meletakkan parfum yang dipegangnya, lalu beserta teman-temannya lantas setengah dipaksa digiring ke konter berikutnya, boarding pass. Tapi sebelum itu, di depan kepala saya, dan juga sepasang mata milik si mbak, petugas meraup semua botol itu dan membuangnya ke keranjang sampah!

Hasil keringat si mbak selama menjadi kuli di negeri orang, ternyata ada yang harus berakhir di sebuah tong berwarna kelabu di bandara Changi. Saya ingin membantu, tapi tidak berdaya. Siapa yang berani melawan aturan di negeri itu?

Hanya satu yang bisa saya perbuat pada saat itu, membisiki si mbak, “Lain kali barang-barang macam begitu dimasukkan ke bagasi saja mbak, jangan dibawa ke dalam kabin.” Si mbak menjawab, dengan nada yang begitu sedih, “Wong saya ndak tau mbak…ndak ada yang kasih tau…ndak ada yang kasih tau…” ujarnya berulang-ulang. Rasa kecewa begitu jelas terlihat di wajahnya.

Ada secercah air hangat di kedua sudut mata saya. Untunglah ia tidak sampai mengalir keluar. Tidak ada yang memberi tahu si mbak bahwa segala macam bentuk cairan, senyawa berbau dan entah apalagi, tidak boleh dibawa ke dalam pesawat.

Kalau ditotal, semua benda yang dibuang ke tempat sampah tadi nampaknya tidak sampai ratusan dollar. Tapi, ketika bayangan untuk memberi oleh-oleh bagi orang-orang yang disayanginya buyar, mungkin tidak ada yang lebih menyakitkan selain menyaksikan benda-benda tersebut dilempar dengan kasar ke tempat sampah.

Sebotol parfum dari negeri seberang, bilakah engkau tiba di tangan kekasih hati…


*oleh-oleh dari Singapore, 23-26 April ‘09

ROCK LIKE NEVER BEFORE?

Penonton perempuan juga banyak. Mereka memakai celana pendek, atasan tank top, sepatu high heels dan membawa handbag. Saya sempat ragu, jangan-jangan saya salah masuk ke arena panggungnya Backstreet Boys, ataukah sedang ada Midnight Sale di Ancol?

Tidak banyak konser musik yang pernah saya saksikan. Konser pertama yang saya tonton adalah Europe. Group musik rock dari Swedia yang terdiri dari lima personil yaitu Joey Tempest, Mic Michaeli, John Leven, Kee Marcello dan Ian Haughland. Jaman itu lagu The Final Countdown cukup ngetop di Jakarta. Lagu-lagu lain seperti On Broken Wings, Cherokee, Rock The Night juga lumayan akrab di telinga.

Diadakan di Ancol, kalau tidak salah di arena Drive In. Tahunnya, saya benar-benar lupa, mungkin antara tahun 1990-1991. Harga tiketnya 15 ribu, masih terasa mahal buat mahasiswa seperti saya. Tapi, kapan lagi melihat aksi Joey Tempest dan kawan-kawan. Konser Europe saat itu tidak terlalu dipadati pengunjung. Saya dengan bebas bisa bergerak menikmati alunan musik dan tampang keren empat cowok bule itu. Penonton tertib dan hampir setiap lagu mereka ikut bernyanyi. Kelihatanlah kalau mereka memang ngefans sama group ini.

Konser musik berikutnya yang saya tonton adalah Metallica. Mungkin ini adalah yang paling heboh. Mereka manggung di Stadion Lebak Bulus, 10 April 1993. Waktu itu harga tiketnya kalau tidak salah di kisaran 30 ribu-150 ribu perak. Saya beli yang kelas festival, dibandrol 45 ribu. Buat kantong mahasiswa, dulu segitu itu rasanya mahal banget. Ya, tapi kapan lagi nonton Metallica…sebab selain musim panas dan hujan, di negeri ini sekarang juga ada musim bom. Jadi belum tentu mereka mau main lagi di Jakarta.

Rata-rata penonton memang lebih banyak laki-laki. Ada juga perempuan seperti saya, tapi jumlahnya sedikit sekali. Pakaian mereka kebanyakan kaus bergambar group-group metal. Rambut gondrong, tangan dan leher berhias aseoris layaknya penyanyi rock. Penonton perempuan kurang lebih sama penampilannya. Jauh dari kesan feminim. Iyalah…masak nonton musik rock, pakai celana pendek, atasan tanktop, sepatu high heels dan bawa handbag?

Sound system yang bagus, penonton yang antusias membuat suasana konser begitu terasa. Apalagi saat lagu The Unforgiven dimainkan, lampu digelapkan, semua penonton bernyanyi sambil mengangkat tangan dan menyalakan korek api. Rasanya merinding, menyaksikan Metallica sendiri yang beraksi depan saya.

Ketika Master of Puppets, Wherever I May Roam, And Justice For All dan seterusnya, dilantunkan oleh suara khas Hetfield, para penonton tidak ketinggalan ber-head banger. Meskipun sempat terjadi aksi dorong mendorong, tapi tidak sampai terjadi kekisruhan. Suguhan yang sungguh solid dari Hetfield, Hammet, Ulrich dan Newsted. Dari lagu pertama sampai lagu terakhir, penonton tidak henti ikut bernyanyi.

Puas rasanya melihat penampilan mereka berempat. Posisi saya berada tepat di depan panggung. Setiap tetes keringat yang keluar dari para personil bisa saya lihat dengan jelas. Bahkan Charles berhasil mendapatkan pick gitar berwarna hijau yang dilempar Hetfield ke arah penonton.

Saking asiknya larut dalam suasana konser itu, bahkan saya tidak tahu, bahwa di pintu masuk stadion telah terjadi keributan akibat calon penonton yang marah tidak kebagian tiket, tapi ingin menerobos masuk. Saya sempat melihat kepulan asap dari arah pintu utama stadion. Untunglah api tidak membesar.

Gara-gara kerusuhan itu, saya bersama empat orang teman lainnya terpaksa jalan kaki kadang setengah berlari, dari stadion Lebak Bulus sampai ke pertigaan Pasar Minggu. Tidak ada kendaraan yang berani melintas, karena sepanjang jalan sudah dijaga penuh oleh polisi dan prajurit. Dan selama dalam perjalanan pulang itu, bokong dan kaki saya dua kali kena pentungan tentara…hahaa…haa…

Konser musik yang ketiga adalah Fire House. Manggung di Stadion Sumantri Brojonegoro, Kuningan, kalau tidak salah antara tahun 1996-1997. Nah, saya sudah jadi wartawan. Lumayan dapat akses ke back stage dan melihat dari dekat penampilan mereka. Penonton Fire House hampir sama dengan karakter penonton yang saya temui dalam konser Europe maupun Metallica. Rata-rata berpakaian hitam, berambut gondrong dst.

Dengan lagu-lagu sweet rocknya, Bill Leverty, CJ Snare, Perry Richardson dan Michael Foster bisa membawa penontonnya menikmati lagu-lagu mereka. Lazimnya dalam sebuah pertunjukan konser rock, penonton dengan bebasnya ikut bernyanyi. Siapa sih yang tidak tahu lagu Love of A Lifetime, I Live My Live For You, You Are My Religion?

Penampilan Mr. Big di Acol, Pantai Carnaval adalah pertunjukan musik pertama yang saya datangi setelah 12 tahun absen. Saya tidak tahu, kenapa sejak memasuki arena panggung, terasa ada yang janggal. Para penonton saya perhatikan kebanyakan para ABG. Penonton perempuan juga banyak. Mereka memakai celana pendek, atasan tank top, sepatu high heels dan membawa handbag. Saya sempat ragu, jangan-jangan saya salah masuk ke arena panggungnya Backstreet Boys, ataukah sedang ada Midnight Sale di Ancol?

Di konser Mr. Big ini, saya tidak merasakan aura seperti yang pernah saya rasakan di pertunjukan group rock sebelumnya. Apakah memang sudah seperti ini setelah sekian lama saya tidak melihat pertunjukkan musik, sungguh tidak mengerti.

Lagu pertama adalah Daddy, Brother, Lover, Little Boy. Eric Martin membawakannya dengan baik. Tapi tidak didukung oleh sound system yang beres. Treble terdengar begitu nyaring, sementara dentuman bas tidak terasa getarannya. Saya masih berharap di lagu berikutnya akan ada perbaikan. Ternyata tidak. Sampai lagu terakhir sound system masih tetap begitu. Kasihan sekali penampilan solo Paul Gilbert yang kemudian berjam-in dengan Billy Sheehan, tidak terasa gregetnya.

Kemudian penonton…kok tidak kedengaran suaranya mengikuti Martin bernyanyi? Sebenarnya pada tahu Mr. Big nggak yaa…Colorado Bulldog, Take Over, Green-Tinted Sixties Mind dibawakan oleh mereka dengan semangat, tapi saya perhatikan penonton kok banyak yang diam saja. Tidak ada yang menggerakkan tubuh mengikuti irama, pun hanya beberapa gelintir yang ikut menyanyi.

Tapi ketika To Be With You, Goin’ Where The Wind Blows dan Take My Heart When You dikeluarkan, barulah terdengar ramai suara penonton. Hmm… saya paham sekarang, mereka ini pasti penggemar cd kompilasi Love Songs yang banyak beredar di pasar, hahaaa…Pantas saja suasananya berbeda sekali dengan yang saya rasakan ketika menonton konser-konser musik rock sebelumnya.

Kesimpulannya adalah, saya kecewa dengan penyelenggara konser Mr. Big kemarin. Konser itu adalah konser reuni antara Eric Martin, Paul Gilbert, Billy Sheehan dan Pat Torpey. Karena sebelumnya Paul Gilbert sudah meninggalkan Mr. Big di tahun 1999 silam. Namun kenapa panitia tidak menyediakan sound system yang representatif untuk gitaris sekelas Paul Gilbert? Saya tidak tahu. Bahkan betotan bass Billy Sheehan yang mestinya mantap pun jadi terdengar mono. Sementara itu, di sekitar lokasi dimana-mana terpampang tulisan 'Rock! Like Never Before!'. Memang benar, baru sekali ini saya melihat pertunjukan musik yang model begini. Menonton konser Mr. Big di Pantai Carnaval kemarin, ibarat mendengarkan kaset kusut dari sebuah mini compo butut.